Orang Kaya London Sewa Pengawal, Tinggalkan Barang Mewah di Rumah Karena Maraknya Kasus Kriminal dan Perampokan

“Kenyataannya adalah ada wilayah-wilayah di London yang tanpa hukum. Itu juga menjadi kawasan terlarang,” kata seorang pakar kepolisian.

EtIndonesia— Salah satu tujuan wisata paling populer di dunia kini menghadapi meningkatnya kasus perampokan, biasanya melibatkan pisau, yang telah mendorong meningkatnya permintaan akan jasa pengawal pribadi, menurut para ahli.

Will Geddes, mantan pengawal dan direktur pelaksana ICP Group, penyedia tim keamanan pribadi di London, mengatakan, “Saya secara rutin menerima telepon dari Amerika Serikat, dari Asia Timur, dari tempat-tempat seperti Tiongkok dan Hong Kong, dari klien yang bertanya: ‘keluarga saya, atau saudara perempuan saya, atau pacar saya akan terbang ke London, seberapa amankah itu?’”

“Itu benar-benar berbeda jauh dibandingkan 10 tahun lalu,” katanya kepada The Epoch Times.

Geddes mengatakan, geng perampok sering menunggu di luar klub malam paling mewah di London dan mengikuti korban di jalan sebelum menyerang mereka.

Menurut laporan lembaga kajian Policy Exchange yang diterbitkan pada Juli, kejahatan dengan pisau di London meningkat 86 persen antara tahun 2014 dan 2024. Kejahatan itu terkonsentrasi di daerah-daerah seperti West End, yang mencakup destinasi wisata terkenal seperti Oxford Circus dan Trafalgar Square.

“London sedang berada dalam cengkeraman gelombang kejahatan berupa perampokan, kejahatan dengan pisau, dan pencurian,” demikian laporan tersebut.

Departemen Luar Negeri AS memperingatkan turis Amerika di situs webnya: “Waspadalah terhadap copet, penjambretan, dan pencurian ponsel, jam tangan, serta perhiasan.”

Pada Juli, Blue Stevens (24) ditikam hingga tewas di luar sebuah hotel bintang lima di kawasan Knightsbridge, London pusat, setelah mengajak pacarnya berkencan.

Tiga pria ditangkap terkait serangan itu lalu dibebaskan dengan jaminan.
“Kami tetap membuka kemungkinan berbagai motif, namun salah satu jalur penyelidikan sekarang adalah bahwa ini mungkin serangan yang ditargetkan,” kata Kepolisian Metropolitan.

Dalam kasus terpisah, lima pria asal London utara dinyatakan bersalah pada 1 Agustus karena membunuh seorang turis asal Yunani sekaligus melakukan konspirasi perampokan.

Jaksa mengatakan, kelima pria itu menargetkan Antonis Antoniadis (26) pada Juli 2024, setelah ia tiba di sebuah klub malam dengan mobil sport Lamborghini, mengenakan jam tangan Versace dan membawa tas Lacoste.

“Sepertinya ketika kelompok lima orang itu melihat Antonis keluar dari klub, mereka merasa telah menemukan target yang tepat,” kata jaksa Bill Emlyn Jones.

Kelompok tersebut mengikuti mobil Uber yang ditumpangi Antoniadis dengan mobil curian. Setelah tiba di tujuan, Antoniadis dan temannya sempat kesulitan menemukan kunci pintu. Para pelaku kemudian mendekati mereka dengan mengenakan tudung kepala dan balaklava.

Antoniadis memukul salah satu perampok dengan botol brandy saat mereka mencoba merampoknya. Namun ia dipukul, ditendang, lalu ditikam hingga mengalami luka parah yang menyebabkan kematiannya dua minggu kemudian di rumah sakit.

Kelima penyerang itu menghadapi hukuman penjara seumur hidup wajib saat vonis dijatuhkan pada Oktober.

Komandan Hayley Sewart, kepala divisi kejahatan dengan pisau di Kepolisian Metropolitan London, mengatakan, “Mengatasi kejahatan kekerasan adalah prioritas utama kami.”

“Setiap bulan di seluruh London kami melakukan lebih dari 1.000 penangkapan tambahan dibandingkan tahun lalu, dengan kejahatan terkait pisau (turun 16 persen) dan perampokan (turun 13 persen) keduanya menurun secara signifikan,” kata Sewart dalam pernyataan email kepada The Epoch Times.


“Kelelahan yang Pahit”

Geddes mengatakan ada semacam “kelelahan yang pahit” di kalangan orang kaya London.

“Mereka tidak akan memakai jam tangan favorit mereka. Mereka tidak akan memakai Patek Philippe, tidak akan memakai Audemars Piguet, tidak akan memakai Rolex, hanya karena benar-benar takut,” katanya.

“Saya punya klien yang sedang berjalan di Sloane Street [di London pusat], pukul 8 pagi, lalu seseorang datang dari belakang dan memukul kepalanya dengan parang, membuatnya harus menerima jahitan yang luar biasa banyak.”

Ia mengatakan korban jatuh pingsan ke jalanan dan perampok mengambil jam tangan senilai 60.000 poundsterling (sekitar Rp1,7 miliar) dari pergelangannya.

Norman Brennan, komentator kejahatan dengan pisau dan kepolisian yang pernah bertugas 31 tahun di kepolisian London, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa London kini tidak lagi aman.

“Kenyataannya adalah ada wilayah-wilayah di London yang tanpa hukum. Itu juga menjadi kawasan terlarang,” kata Brennan, seraya menambahkan bahwa persepsi tentang kejahatan begitu tinggi di beberapa daerah hingga penduduk luar enggan datang atau mengizinkan anggota keluarga mereka pergi ke sana.

Brennan, yang enam tahun bertugas di unit polisi London khusus perampokan, mengatakan orang-orang memang ketakutan. Menurutnya, ada tim-tim kriminal profesional yang sengaja memburu calon korban.

“Kekerasan yang mereka gunakan, atau siap mereka gunakan, bersifat ekstrem—hingga rela membunuh korban hanya demi mendapatkan jam tangan, perhiasan mahal, atau uang,” ujarnya.


Razia dan Penggeledahan

Laporan Policy Exchange itu membuat beberapa rekomendasi, termasuk agar kepolisian meningkatkan razia dan penggeledahan (stop and search). Laporan itu juga mendesak pemerintah untuk mengubah undang-undang saat ini agar secara eksplisit mengizinkan penggeledahan tanpa kecurigaan di “titik panas” kejahatan kekerasan kapan saja.

Laporan itu menyarankan agar pelaku perampokan langsung dijatuhi hukuman penjara minimal tiga tahun.

Paul Birch, mantan polisi London, mengatakan ia percaya meningkatnya kejahatan dengan pisau dan penjambretan sebagian karena polisi enggan melakukan razia dan penggeledahan, “karena takut dicap rasis.”

“Banyak penjahat mengetahuinya dan memanfaatkannya,” katanya kepada The Epoch Times.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah anggota parlemen termasuk anggota Partai Buruh Diane Abbott mengatakan bahwa orang kulit hitam secara tidak adil menjadi sasaran di London ketika polisi melakukan razia dan penggeledahan terkait narkoba, pisau, atau senjata lainnya.

Ketua Federasi Polisi di London, Rick Prior, dicopot dari jabatannya pada April karena melanggar standar internal. Birch mengatakan Prior dipecat setelah dalam sebuah wawancara TV ia menyebut polisi khawatir dicap rasis saat berpatroli di beberapa wilayah London.

Sewart mengatakan bahwa meskipun “kami tidak sependapat dengan semua analisis” dalam laporan Policy Exchange, kepolisian tetap menyerukan reformasi hukum.

“Pengurangan kejahatan dengan pisau membutuhkan upaya seluruh masyarakat dan kami akan mempertimbangkan setiap inisiatif yang bertujuan mewujudkannya,” ujarnya.


“Tidak Berani ke Luar Rumah dengan Perhiasan”

Pemimpin Partai Reform UK, Nigel Farage, mengatakan dalam konferensi pers pada 4 Agustus bahwa warga ibu kota hidup dalam ketakutan.

“Saya tantang Anda untuk berjalan melewati West End London setelah jam 9 malam dengan memakai perhiasan. Anda pasti tidak akan melakukannya. Anda tahu saya benar,” katanya kepada seorang jurnalis. “Dan itu hanya di London, belum lagi apa yang terjadi di begitu banyak bagian lain negara ini.”

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine