Data terbaru menunjukkan bahwa “permintaan kredit sektor swasta tetap lesu,” ujar seorang ekonom di Capital Economics.
EtIndonesia. Pinjaman bank baru di Tiongkok menyusut bulan lalu untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, menurut data yang dirilis pada 13 Agustus.
Pada Juli, pinjaman yuan baru turun sebesar 50 miliar yuan (Rp110 triliun) , setelah pada Juni sempat melonjak 2,24 triliun yuan (4.928 triliun rupiah). Ini menjadi penurunan bulanan pertama sejak Juli 2005. Pasar sebelumnya memperkirakan adanya pertumbuhan sebesar 300 miliar yuan.
Meskipun biasanya pertumbuhan pinjaman pada Juli memang lebih lambat karena lembaga keuangan mengurangi laju setelah mengejar target pinjaman kuartalan, para ahli menyebut angka yang lebih buruk dari perkiraan ini bisa menjadi tanda memburuknya permintaan kredit.
Menurut data historis, pada bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya, bank menyalurkan 679 miliar yuan (2022), 345,9 miliar (2023), dan 260 miliar yuan (2024) dalam pinjaman baru.
Pertumbuhan pinjaman yang masih beredar juga melambat menjadi 6,9 persen (year-on-year) pada Juli, turun dari 7,1 persen di bulan sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari perkiraan konsensus sebesar 7 persen dan merupakan pertumbuhan paling lambat sejak 1998.
Total pembiayaan sosial—ukuran kredit dan likuiditas yang lebih luas—bertambah 1,16 triliun yuan, lebih rendah dari ekspansi 4,2 triliun yuan pada Juni, namun masih di atas ekspektasi pasar.
“Ada sedikit kenaikan pada pertumbuhan kredit secara keseluruhan di ekonomi Tiongkok pada Juli, akibat lonjakan pinjaman pemerintah,” kata Leah Fahy, ekonom Tiongkok di Capital Economics. “Namun pertumbuhan pinjaman bank terus melambat, menunjukkan bahwa permintaan kredit sektor swasta tetap lesu.”
Pertumbuhan jumlah uang beredar (money supply) melesat 8,8 persen, naik dari 8,3 persen di Juni, jauh melampaui perkiraan pasar sebesar 8,2 persen.
Membaca Arah Kebijakan
Melihat ke depan, analis senior StoneX, Natalie Scott-Gray, memperkirakan adanya tambahan dukungan kredit dan pemangkasan suku bunga pada kuartal keempat untuk memastikan ekonomi terbesar kedua di dunia itu mencapai target produk domestik bruto (PDB).
Musim semi lalu, pejabat Tiongkok memangkas rasio cadangan wajib bank sebesar 0,5 poin persentase—yakni modal minimum yang wajib disimpan bank komersial dan tidak boleh dipinjamkan—yang menyuntikkan sekitar 1 triliun yuan ke dalam sistem keuangan.
Ekspor melonjak 7,2 persen (year-on-year) pada Juli, lebih tinggi dari perkiraan meskipun masih dibayangi tarif Presiden Donald Trump. Impor juga naik 4,1 persen, melampaui ekspektasi pasar.
Namun meski tingkat pertumbuhan, angka pengangguran, ekspor, dan penjualan ritel menunjukkan perbaikan, “investasi aset tetap dan pasar properti masih lemah,” tulis Scott-Gray.
Data penjualan ritel Juli yang akan dirilis pada 15 Agustus diperkirakan melambat ke 4,6 persen (year-on-year). Sementara tingkat pengangguran diproyeksikan naik ke 5,1 persen dari 5 persen, dan investasi aset tetap dari Januari hingga Juli diperkirakan turun ke 2,7 persen dari 2,8 persen.
Pemerintah Beijing berencana menerapkan langkah-langkah stimulus tambahan untuk menopang perekonomian.
Baru-baru ini, Beijing mengumumkan akan memperpanjang subsidi bunga pinjaman bagi bisnis dan rumah tangga. Subsidi sebesar 1 poin persentase ini bertujuan mendorong konsumsi serta menurunkan biaya pinjaman.
Upaya ini, menurut Wakil Menteri Keuangan Liao Min, “akan mendukung konsumsi domestik agar menjadi kekuatan penggerak utama ekonomi nasional.”
Program ini dijadwalkan berlaku mulai 1 September 2025 hingga 31 Agustus 2026.
Permintaan domestik telah menurun tajam, dengan negara itu hampir memasuki deflasi harga tahun ini di tengah kepercayaan bisnis dan konsumen yang masih berada di titik terendah dalam sejarah. Rumah tangga pun berhati-hati, tercermin dari tingkat tabungan pribadi yang tetap di atas 30 persen di tengah ketidakpastian.
Situasi perdagangan dengan Amerika Serikat kini relatif stabil. Awal pekan ini, Trump menyetujui perpanjangan jeda tarif selama 90 hari, mencegah kembalinya tarif hampir setara embargo.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Tiongkok naik 0,4 persen pada Juli setelah dua bulan berturut-turut negatif. Sementara itu, Indeks Harga Produsen (IHP)—ukuran harga yang dibayar bisnis untuk barang dan jasa—turun 3,6 persen (year-on-year), menandai deflasi produsen selama 34 bulan berturut-turut.
Ekonom Nomura meragukan perbaikan jangka pendek untuk tantangan konsumsi Tiongkok, dengan menekankan bahwa stimulus “tidak bisa terlalu sering digunakan.”
“Tiongkok juga perlu mempertimbangkan kebijakan struktural jangka panjang untuk mendukung konsumsi,” tulis laporan mereka, seraya menyinggung reformasi pada sistem jaminan sosial.
Meningkatkan pembayaran pensiun dasar bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, memperbesar subsidi asuransi kesehatan, serta memberikan tunjangan keluarga untuk meringankan biaya membesarkan anak adalah beberapa resep kebijakan yang dapat dipertimbangkan rezim Tiongkok guna menopang perekonomian dalam jangka panjang, tambah para ekonom tersebut.
Reuters berkontribusi pada laporan ini
Sumber : Theepochtimes.com


