EtIndonesia. Situasi perang Rusia–Ukraina berubah drastis setelah Ukraina melancarkan serangan balasan kilat di sektor Pokrovsk–Dobropillia. Dalam operasi militer yang berlangsung intens, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali enam desa strategis: Nikanorivka, Novosakharivka, Nubizhne, Zoloti Lodyazi, Vesele, dan Khrudzke.
Dalam kurun 12 hari, garis depan berhasil didorong maju sejauh 1–3 kilometer, dengan melibatkan Brigade Asyur ke-12, Brigade ke-93, Brigade ke-92, serta sejumlah unit elite lainnya. Target utama mereka adalah menghancurkan kekuatan Brigade Mobilisasi ke-132 Rusia.
Pertempuran berlangsung sengit, tetapi Ukraina berhasil menutup celah pertahanan yang sebelumnya sempat melemah. Data terbaru menunjukkan kerugian besar di pihak Rusia: 910 tentara tewas, 335 luka-luka, 37 ditawan, puluhan tank dan artileri hancur, serta lebih dari 90 drone tempur berhasil ditembak jatuh.
Gagalnya Serangan “Gugus Nekat” Rusia
Pada 12 Agustus 2025 dini hari, 12 personel Rusia mencoba melakukan infiltrasi sejauh 18 km melalui zona tak berawak. Mereka berharap bisa menjebol pertahanan Ukraina. Namun, Brigade ke-93 segera melancarkan serangan balik dengan dukungan kendaraan tempur nirawak, artileri, dan drone pengintai.
Serangan ini tidak hanya menggagalkan infiltrasi Rusia, tetapi juga mendorong garis depan Ukraina maju hingga 3,5 km di sektor utara.
Operasi Udara Ukraina
Selain pertempuran darat, Ukraina memperluas serangan lewat operasi udara.
- Soledar–Donetsk: jet tempur MiG-29 menjatuhkan bom presisi ke markas komando sementara Rusia. Bangunan hancur total, dua tank dan tiga kendaraan lapis baja ikut dimusnahkan.
- Kursk: serangan drone menghantam konvoi militer Rusia, menewaskan banyak tentara. Wakil komandan Grup Angkatan Darat Utara, Letjen Esedulla Abachev selamat tetapi harus diamputasi.
- Sumy–Kharkiv: pasukan Ukraina merebut desa-desa, menghancurkan jembatan, dan menggempur konvoi senjata. Serangan bom pintar GBU-62 merobohkan jembatan vital, melumpuhkan jalur suplai Rusia.
Akibatnya, sistem logistik Rusia di timur mengalami guncangan besar.
Serangan Drone ke Moskow: Mitos Pertahanan Udara Runtuh
Pada 17–18 Agustus 2025 malam, Ukraina meluncurkan sekitar 40 drone ke arah Moskow. Meski Rusia mengklaim mampu mencegat sebagian besar, beberapa drone berhasil menembus pertahanan hingga ke pusat kota. Ledakan menimbulkan kerusakan dan kepanikan warga.
Keberhasilan ini mematahkan citra “kebal” pertahanan udara Rusia, memaksa Moskow mengalihkan sumber daya untuk keamanan dalam negeri. Para analis menilai langkah ini melemahkan posisi Rusia di garis depan Ukraina.
Senjata Baru Ukraina: Rudal “Firebird”
Ukraina memperkenalkan rudal jelajah terbaru “Firebird” dengan spesifikasi mematikan:
- Daya ledak: 1 ton
- Jangkauan: lebih dari 3.000 km
- Kecepatan: 950 km/jam
Rudal ini dikabarkan mampu menjangkau Moskow. Produksi massal telah dimulai dengan dukungan teknologi Jerman dan referensi teknis dari Inggris.
Dukungan Eropa Mengalir Deras
Negara-negara Eropa meningkatkan dukungan militernya:
- Prancis menggandakan jumlah jet tempur Mirage dari 10 menjadi 20 unit.
- Jerman mempercepat produksi radar TRML-4D hingga 30 unit per tahun.
- Uni Eropa meluncurkan “paket jaminan keamanan” mencakup bantuan militer, ekonomi, dan politik.
Meski demikian, analis memperingatkan bahwa bantuan besar-besaran ini berisiko memperburuk eskalasi dan membebani ekonomi Eropa.
Rusia Perkuat Armada Laut
Sebagai respons, Presiden Vladimir Putin meresmikan modernisasi kapal penjelajah nuklir Admiral Nakhimov. Kapal ini kini dipersenjatai:
- Rudal hipersonik Tsirkon (kecepatan Mach 9)
- Sistem rudal vertikal untuk puluhan peluru kendali jarak jauh
- Sistem pertahanan udara S-400
Kekuatan baru ini diyakini memperbesar efek gentar Rusia terhadap NATO.
Kerugian dan Krisis Energi Rusia
Pada 15 Agustus 2025, pabrik bahan peledak Elastic di Ryazan meledak, menewaskan 20 orang dan melukai 134 lainnya. Di sisi lain, serangan drone Ukraina terus melumpuhkan kilang minyak Rusia, memicu lonjakan harga BBM domestik hingga ke rekor tertinggi: 92 oktan naik 38% dan 95 oktan naik 49% sejak awal tahun.
Dinamika Politik dan Diplomasi
Presiden AS Donald Trump menyatakan Ukraina bisa segera mengakhiri perang jika Zelensky setuju dengan gencatan senjata. Namun, Zelensky menolak syarat Putin yang menuntut penyerahan Donetsk.
Zelensky menegaskan: “Kami tidak akan meninggalkan Donbas. Jika wilayah ini hilang, itu akan menjadi batu loncatan Rusia untuk menyerang kembali.”
Sumber diplomatik menyebut Putin secara prinsip bersedia memberi ruang bagi keterlibatan AS dan Eropa dalam menjamin keamanan Ukraina, mirip Pasal 5 NATO. Hal ini dinilai sebagai sinyal melemahnya posisi Rusia.
Serangan Balasan Rusia: Korban Sipil Ukraina
Sebagai pembalasan, Rusia meluncurkan 140 drone dan 4 rudal ke enam wilayah Ukraina pada malam 18 Agustus 2025. Meski 88 drone berhasil ditembak jatuh, serangan ini tetap menimbulkan korban sipil:
- Kharkiv: 7 tewas, termasuk bayi dan remaja 16 tahun.
- Zaporizhzhia: 3 tewas, lebih dari 20 luka-luka.
- Odessa: infrastruktur energi milik Azerbaijan hancur, memicu ketegangan diplomatik baru.
Zelensky mengecam aksi ini sebagai “balas dendam Putin” sekaligus “pembunuhan yang disengaja terhadap anak-anak.”
Kesimpulan
Perang Rusia–Ukraina kini berada di titik kritis. Ukraina berhasil merebut inisiatif dengan serangan balasan, menghancurkan logistik Rusia, bahkan menembus jantung pertahanan udara Moskow. Namun, Rusia masih memiliki kekuatan balasan besar dan menunjukkan kesiapannya meningkatkan eskalasi.
Sementara Eropa mempertebal dukungan, Rusia menghadapi krisis domestik akibat serangan drone dan lonjakan harga energi. Pada ranah diplomasi, Zelensky menolak kompromi teritorial, sedangkan Putin mulai mengisyaratkan pencarian jalan keluar.
Satu hal jelas: jalur diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan. (***)


