92 Kasus Terkonfirmasi Terinfeksi Wabah Legionnaires di Klaster New York City, Penyakit Apakah Itu?

EtIndonesia. Pemerintahan Kota New York City, Amerika Serikat mengonfirmasi kasus wabah penyakit Legionnaires. Departemen Kesehatan setempat pada 13 Agustus melaporkan, sebuah klaster komunitas penyakit Legionnaires telah teridentifikasi di lingkungan Harlem, New York City, dengan 92 kasus infeksi yang terkonfirmasi. 

 “Jika Anda tinggal atau bekerja di daerah tersebut dan mengalami gejala mirip flu, segera temui penyedia layanan kesehatan. Gejala termasuk batuk, demam, menggigil, nyeri otot, dan sesak napas,” demikian isi pernyataan otoritas kesehatan setempat. 

Saat ini, 15 orang masih dirawat di rumah sakit, dan tiga orang telah meninggal dunia dalam wabah ini, tambah pernyataan itu.

Penyakit Legionnaires adalah jenis pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Legionella pneumophila, yang berkembang biak di air hangat, demikian Departemen Kesehatan NYC dalam pembaruan sebelumnya. Orang terinfeksi ketika mereka menghirup uap air yang mengandung bakteri tersebut.

Penyakit ini bisa ditimbulkan oleh sistem perpipaan dengan kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri, seperti kondensor evaporatif pada sistem pendingin udara berkapasitas besar, pelembap udara, bak mandi air panas (hot tub), dan menara pendingin (cooling tower).

Untuk diketahui, menara pendingin di New York dan kota-kota besar lainnya berfungsi membuang panas dari sistem pendingin (AC sentral, sistem industri, atau pembangkit listrik) dengan cara menguapkan sebagian air. Air panas dari sistem dialirkan ke menara, disemprotkan, lalu sebagian menguap sambil menyerap panas—sehingga sisa air yang lebih dingin dikembalikan lagi ke sistem pendingin.

Departemen Kesehatan setempat menemukan 11 menara pendingin di Central Harlem yang menunjukkan adanya bakteri Legionella.

Dalam pernyataan terbarunya, Departemen Kesehatan New York mengatakan bahwa “setiap menara pendingin yang hasil awalnya positif terhadap bakteri Legionella telah menjalani perawatan sesuai ketentuan Departemen Kesehatan.”

“Kami terus memantau dan memberi tahu gedung-gedung jika diperlukan perawatan tambahan,” tambahnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa sistem perpipaan sebuah gedung terpisah dari sistem menara pendinginnya.

“Wabah komunitas ini tidak terkait dengan pasokan air panas atau dingin di sebuah gedung,” katanya. “Warga di kode pos ini tetap dapat minum air, mandi, berendam, memasak, dan menggunakan pendingin ruangan.”

Wali Kota New York Eric Adams mengumumkan pada 14 Agustus bahwa sebuah menara ke-12 telah diidentifikasi dan akan menjalani remediasi pada akhir pekan itu.

Hanya orang yang menghirup uap air terkontaminasi yang berisiko tertular penyakit ini dan tidak menular dari orang ke orang.

Orang yang berisiko lebih tinggi terkena penyakit Legionnaires termasuk mereka yang merokok, memiliki penyakit paru kronis, berusia 50 tahun atau lebih, mengonsumsi obat yang melemahkan sistem kekebalan, atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Komplikasi akibat penyakit ini bisa berakibat fatal, menurut pernyataan tersebut.

Menurut unggahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2022, bakteri Legionella pneumophila pertama kali diidentifikasi pada 1977, setelah dilacak ke sebuah wabah penyakit di pusat konvensi di Amerika Serikat pada 1976.

Diperkirakan bakteri ini menginfeksi sekitar 10 hingga 15 orang per juta penduduk setiap tahun di Amerika Serikat, Australia, dan Eropa.

Dari kasus yang dilaporkan, pria menyumbang mayoritas yaitu 60 hingga 70 persen, sementara individu berusia di atas 50 tahun mencapai 75 hingga 80 persen dari total infeksi.

Penanggulangan Infeksi

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, gejala penyakit Legionnaires biasanya berkembang dua hingga 14 hari setelah terpapar bakteri. Dalam beberapa kasus, gejala mungkin muncul lebih lama.

Selain demam, sakit kepala, dan nyeri otot, penderita infeksi juga bisa mengalami kebingungan, mual, dan diare.

CDC merekomendasikan kunci pencegahan infeksi adalah dengan mengendalikan pertumbuhan dan penyebaran bakteri.


“Bangunan dan perangkat yang berisiko tinggi terhadap pertumbuhan dan penyebaran Legionella harus memiliki program pengelolaan air berdasarkan standar industri,” kata lembaga tersebut.

Pemilik menara pendingin, bak mandi air panas, air mancur dekoratif, serta atomizer, mister, pelembap, dan pembersih udara yang dipasang secara terpusat “harus mengikuti petunjuk pabrikan terkait pembersihan, desinfeksi, dan perawatan,” tambahnya.

Negara lainnya di Luar Amerika Serikat juga mengalami kasus penyakit Legionnaires dalam beberapa bulan terakhir.

Pada 8 Juli, Unit Kesehatan Middlesex-London mengumumkan wabah infeksi di London, Kanada. Saat itu, pihaknya menyarankan pengelola properti dan pemilik bisnis untuk “memastikan semua peralatan pendingin dirawat dan disanitasi secara teratur sesuai petunjuk pabrikan.”

Pada 5 Agustus, unit kesehatan tersebut mengumumkan berakhirnya wabah, dengan total 70 kasus Legionella, di mana 64 orang dirawat di rumah sakit dan tiga orang meninggal.

Pada Juni lalu, Dinas Kesehatan New South Wales di Australia mengeluarkan peringatan darurat Legionella bagi warga Sydney setelah tiga orang didiagnosis terinfeksi di kawasan Potts Point.  Hingga 11 Agustus, tujuh kasus telah teridentifikasi di Potts Point, dengan rentang usia penderita antara 45 hingga 95 tahun.

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine