“Tutup! Tutup!” Pada 18 Agustus malam, ribuan warga Zhengzhou, Henan, mengepung sebuah restoran mie hingga memaksa toko itu menutup pintu. Menurut informasi di internet, restoran ini sebelumnya melakukan perundungan daring terhadap seorang anak yang meminta tambahan mie, lalu terbongkar pula berbagai skandal lain, sehingga memicu kemarahan publik.
EtIndonesia. Berdasarkan beberapa video yang beredar di media sosial Tiongkok. Pada malam itu massa mengelilingi restoran bernama “Jiaxian Lao Huo Ji He Le Mian”, sambil mengecam keras pemiliknya karena dianggap menindas pelanggan.
Polisi dikerahkan ke lokasi untuk mengawasi situasi, beberapa di antaranya berjaga langsung di pintu masuk restoran. Warga di lokasi meneriakkan, “Tutup! Tutup!”
Seorang netizen yang merekam di lokasi mengatakan: “Mereka sekarang sudah bersiap menutup toko, orang di sini masih sangat banyak. Saya tadi siaran langsung, akun saya langsung diblokir. Mereka (pemilik dan pegawai) sekarang bersembunyi di dalam.”
8月18日晚,河南郑州上千市民围堵一家麵館,迫使该店提前关门。 pic.twitter.com/cJiNAAKVEg
— ying tang (@yingtan04410735) August 19, 2025
8月18日晚,河南郑州上千市民围堵一家麵館,迫使该店提前关门。 pic.twitter.com/4zVcvU9iNO
— ying tang (@yingtan04410735) August 19, 2025
Kasus pengepungan ini bermula dari “insiden mie tambahan”. Pada 13 Agustus, pemilik restoran mengunggah video yang menyebut tiga wanita dewasa membawa empat anak kecil datang ke tokonya, tetapi hanya memesan satu mangkuk mie. Setelah meminta tambahan mie gratis berkali-kali dan ditolak, kedua belah pihak berselisih. Salah satu wanita lalu memberi restoran itu ulasan buruk.
Video “mie tambahan gratis” tersebut menjadi viral. Namun, kasus ini kemudian berbalik. Pelanggan yang terlibat, Ny. Ma, mengatakan kepada media bahwa pemilik restoran telah menyesatkan publik dengan menyebut mereka hanya memesan satu mangkuk mie. Faktanya, mereka juga memesan beberapa menu lain dengan total tagihan 140 yuan.
Ny. Ma menuduh pemilik restoran melanggar hak potret dengan mengunggah video tanpa izin, sehingga merusak kehidupan pribadi mereka serta memberi tekanan psikologis pada anak-anak. Ia akhirnya memutuskan menuntut restoran tersebut. Video itu kini telah dihapus.
Setelah kasus ini ramai, semakin banyak netizen mengungkap skandal lain: pemilik restoran dituduh menunggak gaji karyawan, menindas kurir makanan, serta menipu murid dengan memungut biaya pelatihan tetapi tidak mengajarkan resep atau keterampilan yang dijanjikan. Hal itu makin memicu kemarahan warga hingga terjadi pengepungan besar-besaran, dengan tuntutan agar restoran segera ditutup.
Komentar netizen di kolom video berbunyi: “Bos itu juga menipu uang orang. Dia memungut biaya dari murid, tapi tidak mengajar, malah menyuruh mereka jadi pelayan.”
“Kebohongan pertama bos: 7 orang hanya pesan 1 mangkuk mie — padahal pesan menu lain.
Kebohongan kedua: nilai tagihan 13–60 yuan — padahal 140 yuan.
Kebohongan ketiga: katanya tambah mie 3 kali — padahal hanya 2 kali.
Kebohongan keempat: 7 orang makan 1 mangkuk mie — tidak ada bukti video. Bisa jadi ada yang tidak makan mie, hanya 1 anak yang mau makan.
Kebohongan kelima: ulasan buruk karena mie tambahan — sebenarnya karena sikap buruk koki yang menakutkan anak-anak.
Kebohongan keenam: katanya sudah berdamai — nyatanya masih mengunggah video menghina mereka dengan sebutan ‘Tujuh Serigala’.”
Setelah restoran dikepung warga dan dipaksa tutup, pemiliknya akhirnya mengunggah video permintaan maaf, mengaku tindakannya berlebihan karena emosi, serta menyatakan restoran tetap akan menyediakan layanan “mie tambahan gratis”.
Namun, pada 19 Agustus, video terbaru menunjukkan restoran itu masih tertutup rapat. Di depan pintu tampak banyak staf dengan ban lengan merah berjaga, sementara warga dilarang berkumpul di lokasi.
Seorang netizen menyindir: “Ban lengan merah sekarang jadi penjaga toko.”
Sumber : NTDTV.com


