EtIndonesia. Perdamaian adalah cita-cita tertinggi umat manusia. Hak asasi manusia, terutama hak untuk hidup, menjadi pondasi dari semua perjuangan politik dan militer. Karena itu, perang Rusia–Ukraina yang sudah berkecamuk lebih dari tiga tahun harus segera dihentikan.
Namun, dalam percaturan global, perdamaian bukan hanya soal niat, melainkan juga hasil tawar-menawar politik, transaksi ekonomi, hingga simbol-simbol kecil yang membawa makna besar. Salah satunya: sebuah telepon yang tak pernah berbunyi.
Beijing dan “Telepon yang Hilang”
Pada 19 Agustus 2025, Beijing menjadi pusat perhatian dunia. Konferensi pers rutin Kementerian Luar Negeri Tiongkok dibanjiri pertanyaan media:
Apakah Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah pertemuan bersejarahnya dengan Donald Trump di Alaska dan di Gedung Putih bersama Zelensky serta tujuh pemimpin Eropa, menelepon Xi Jinping?
Jawaban juru bicara Mao Ning terdengar sangat diplomatis:
“Mengenai pertanyaan Anda, saya tidak memiliki informasi yang bisa dibagikan.”
Artinya jelas—baik tahu maupun tidak tahu, Beijing memilih bungkam. Dan justru di situlah letak masalahnya: telepon itu tidak pernah terjadi.
Dari Persahabatan ke Pengabaian
- 8 Agustus 2025: Sebelum terbang ke Alaska, Putin terlebih dahulu menelpon Xi Jinping. Isinya simbolis—solidaritas, kesepahaman, dan janji menjaga langkah bersama.
- 18 Agustus 2025: Usai pertemuan besar dengan Trump, Putin kembali menelpon banyak pemimpin dunia—dari India hingga Afrika Selatan. Namun kali ini Beijing tidak dihubungi.
Bagi dunia diplomasi, mengangkat telepon bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan dan penghormatan. Hilangnya panggilan ini menjadi sinyal perubahan arah geopolitik.
Gedung Putih: Dari Kantor Menjadi Panggung Diplomasi
Tanggal 18 Agustus 2025, Gedung Putih berubah menjadi panggung drama global. Donald Trump, Zelenskyy, dan tujuh pemimpin Eropa hadir seperti aktor dalam sandiwara internasional.
Enam bulan sebelumnya, suasananya tegang—Zelenskyy, dengan kaus hijau militernya, dipermalukan media konservatif AS. Namun kali ini semuanya berubah: Trump ramah, tersenyum, bahkan memuji jas yang dikenakan Zelenskyy.
Rahasia Perubahan Sikap
Kebocoran dokumen ke Financial Times mengungkap alasan di balik perubahan sikap ini. Zelensky membawa “paket hadiah” senilai 150 miliar dolar AS:
- 100 miliar dolar untuk pembelian senjata buatan AS, dibiayai oleh sekutu Eropa.
- 50 miliar dolar untuk investasi bersama di teknologi drone militer.
Dengan transaksi sebesar ini, semua ketegangan dan perbedaan sebelumnya lenyap seketika. Diplomasi berubah menjadi bisnis berskala raksasa.
Strategi Simbolik dan Perlawanan Eropa
Zelensky pun menyiapkan detail kecil dengan makna besar: jas yang ia kenakan dibuat dari kain seragam militer Ukraina. Simbol bahwa ia tetap seorang pejuang, meskipun hadir di jantung kekuatan Barat.
Namun, di balik kehangatan itu, Eropa mulai resah.
- Presiden Prancis Emmanuel Macron menyarankan agar perundingan tidak hanya tiga pihak, tetapi melibatkan Eropa.
- Kanselir Jerman Friedrich Merz menuntut agar setiap pembicaraan dimulai dengan gencatan senjata.
Trump menolak mentah-mentah:
“Dalam enam perang yang saya selesaikan, tidak ada yang dimulai dengan gencatan senjata lebih dulu.”
Bagi Trump, semua harus sesuai dengan aturannya sendiri.
Isu Pertukaran Wilayah: Solusi atau Perangkap?
Trump secara terbuka mendorong ide pertukaran wilayah berdasarkan garis kontak saat ini.
Namun bagi Ukraina, menyerahkan 11% wilayah terakhir di Donbas berarti kehilangan nyawa perjuangan nasional. Jika Donbas jatuh, jalur menuju kota industri Dnipro terbuka lebar, dan pertahanan negara akan runtuh.
Bagi Kyiv, ini bukan kompromi—tetapi bunuh diri strategis.
Dua Jalur Keamanan yang Bertolak Belakang
- Rencana Rusia – “Rencana Iblis”
- Pasukan perdamaian dibentuk, tetapi tanpa NATO.
- Melibatkan negara non-Barat, termasuk Tiongkok.
- Akibatnya, Ukraina justru terkunci dalam belenggu legal Moskow–Beijing.
- Rencana Barat – “Rencana Malaikat”
- Dipimpin Inggris, dengan dukungan lebih dari 30 negara.
- Memasukkan sistem pertahanan udara, suplai senjata berkelanjutan, dan mekanisme pengawasan.
- Dengan restu Trump, bahkan terbuka kemungkinan pasukan AS terlibat langsung.
Kedua jalur ini menggambarkan masa depan yang sangat berbeda: tunduk pada Moskow–Beijing atau bergabung penuh dengan Barat.
Telepon yang Tak Pernah Terjadi: Simbol Pergeseran Besar
Absennya telepon Putin ke Xi Jinping bukan kebetulan. Itu adalah sinyal kesetiaan baru kepada Trump dan Barat.
Bagi Beijing, ini pukulan telak. Strategi “Bersatu dengan Rusia” yang dirintis sejak Olimpiade Beijing 2022 kini berubah menjadi liabilitas politik.
Kesimpulan: Siapa yang Untung, Siapa yang Rugi?
- Trump: Meraih modal politik dan transaksi senjata senilai 150 miliar dolar—sesuai agenda America First.
- Zelensky: Mendapat dukungan finansial dan kesempatan memperpanjang pertahanan negaranya.
- Eropa: Harus membayar mahal demi stabilitas di depan pintu rumah sendiri.
- Putin: Bermanuver mencari jalan keluar terhormat, bahkan dengan risiko menjauh dari Tiongkok.
- Xi Jinping: Justru kehilangan muka, ditinggalkan dalam kesepian diplomasi.
Namun, perdamaian tetap belum pasti. Pertemuan langsung Putin–Zelensky, realisasi jaminan keamanan, hingga implementasi transaksi 150 miliar dolar masih menjadi tanda tanya besar.
Yang jelas, dunia kini berada di persimpangan sejarah baru—di mana sebuah telepon yang tidak pernah berbunyi bisa lebih berisik daripada pidato para pemimpin dunia. (***)


