EtIndonesia. Situasi di Amerika Latin memanas setelah Presiden Amerika, Serikat Donald Trump mengerahkan tiga kapal perusak (destroyer) ke perairan dekat Venezuela. Armada yang membawa 4.000 marinir itu dipersenjatai dengan rudal jelajah Tomahawk—senjata presisi jarak jauh yang mampu menghantam target strategis secara akurat.
Respons Maduro: 450.000 Milisi Disiagakan
Langkah Trump ini segera mendapat reaksi keras dari Presiden Nicolás Maduro. Dia mengumumkan pengerahan 450.000 milisi rakyat sebagai bentuk kesiagaan menghadapi kemungkinan serangan. Ketika ditanya apakah langkah AS berarti siap berperang dengan Venezuela, juru bicara Gedung Putih tidak menepis hal itu.
Dia hanya menegaskan: “Presiden jelas menyatakan, Amerika akan menggunakan segala cara untuk menghentikan infiltrasi Tiongkok dan menyeret dalang di balik layar ke pengadilan.”
AS Tidak Akui Maduro, Ancaman Kian Personal
Secara resmi, AS sudah tidak lagi mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela. Bagi Maduro, ancaman langsung terhadap dirinya adalah hal paling berbahaya. Washington menilai kepemimpinan Maduro hanyalah perpanjangan tangan Beijing yang memanfaatkan Caracas sebagai batu loncatan strategis di Amerika Latin.
Analisis Militer: “Kelanjutan Tekanan terhadap Jejak Beijing”
Menurut Jenderal (Purn.) Yu Zongji, mantan Kepala Akademi Politik-Militer Universitas Pertahanan Nasional Taiwan, pengerahan kapal perang ini adalah kelanjutan strategi Trump menekan negara-negara Amerika Latin yang menjadi saluran pengaruh Beijing.
“Sebelumnya Panama, kini giliran Venezuela. Armada AS kini berada hanya 16 mil laut dari pantai Venezuela, tepat di luar batas laut teritorial 15 mil yang pernah diperluas Maduro,” jelas Yu.
Venezuela: Minyak, Utang, dan Senjata Tiongkok
Venezuela saat ini terjerat utang lebih dari 62 miliar dolar AS kepada Tiongkok. Sebagai imbalannya, Beijing mengunci pasokan minyak murah dari Caracas. Selain itu, Venezuela menjadi pasar terbesar senjata buatan Tiongkok di kawasan Amerika Latin. Dukungan militer dan finansial inilah yang membuat Maduro masih bisa bertahan, menekan oposisi, sekaligus mendorong negara lain seperti Argentina dan Bolivia ikut membeli senjata dari Beijing.
Strategi AS: Serangan Terbatas, Tekanan Psikologis
Yu menilai, kecil kemungkinan AS melancarkan operasi darat besar-besaran di Venezuela. Namun, bukan tidak mungkin Trump memerintahkan serangan terbatas ala Iran: menghantam titik vital, memberi tekanan psikologis, dan mendorong militer Venezuela berbalik mendukung oposisi.
Selain sebagai pesan untuk Caracas, strategi ini juga ditujukan bagi negara-negara lain di kawasan yang dekat dengan Beijing. Pesannya jelas: pilih pihak sekarang, atau bersiap menghadapi tekanan Amerika Serikat.


