Penurunan jumlah investasi keluar dari Tiongkok menunjukkan, dengan cara lain lagi, masalah ekonomi dan keuangan yang lebih luas yang dihadapi negara itu
Milton Ezrati
Investasi ke luar negeri oleh bisnis Tiongkok—baik swasta, BUMN, maupun pemerintah—telah merosot tajam. Memang, data dari sumber-sumber Tiongkok cukup kabur, sehingga kesimpulan apa pun yang ditarik darinya masih bersifat tentatif.
Namun demikian, informasi yang tersedia memberikan tiga kesimpulan.
Pertama, Beijing perlu memanfaatkan sumber daya domestik yang sebelumnya dialirkan ke luar negeri untuk menahan dampak krisis properti serta masalah ekonomi dan keuangan yang menyertainya.
Kedua, Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI), yang sebelumnya menyedot dana besar dari Beijing dan BUMN, kini menghadapi masalah yang membuat pihak berwenang Tiongkok lebih berhati-hati.
Ketiga, dan yang paling spekulatif, tren ini telah menekan arus balik di mana investor swasta Tiongkok berusaha mencari cara untuk mengeluarkan aset dari dalam negeri.
Bahkan sebelum mempertimbangkan maknanya, angka-angka investasi keluar ini sudah mencolok. Menurut China Global Investment Tracker (CGIT) yang dihimpun Derek Scissors dari American Enterprise Institute, investasi Tiongkok—baik dari sumber swasta, BUMN, maupun pemerintah—mencapai puncaknya pada 2017 dengan setara 175,1 miliar dolar AS.
Setelah puncak tersebut, arus uang ke luar negeri menyusut dalam dua tahun berikutnya sekitar 45 persen. Arus itu kembali menurun pada tahun pandemi 2020, lalu naik sekitar 16 persen pada tahun pemulihan 2021.
Mungkin lonjakan itu mencerminkan upaya mencari peluang sementara ekonomi Tiongkok menderita akibat lockdown dan karantina nol-COVID yang diterapkan Beijing. Namun, arus uang ke luar negeri kembali menurun pada 2022 dan terus berlanjut hingga paruh pertama tahun ini, ketika rata-rata arus keluar investasi hanya sekitar 44 miliar dolar AS—sekitar 75 persen lebih rendah dari puncaknya pada 2017.
Memang, angka CGIT sedikit berbeda dengan data yang disajikan Kementerian Perdagangan Tiongkok, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan penurunan investasi ke luar negeri. Dan meskipun ketidakpastian yang ditimbulkan oleh tarif dan ancaman Presiden AS Donald Trump mungkin melebih-lebihkan penurunan pada 2025, tren penurunan itu jelas, terutama bila dibandingkan dengan pertumbuhan besar-besaran arus tersebut sebelum 2017.
Meskipun tidak ada garis lurus yang menghubungkan penurunan arus investasi ini dengan masalah ekonomi dan keuangan Tiongkok secara umum, sulit untuk menyangkal adanya hubungan. Runtuhnya beberapa pengembang properti besar dan kegagalan hipotek berikutnya telah membuat keuangan Tiongkok—baik swasta maupun BUMN—kehabisan dana, termasuk untuk investasi ke luar negeri.
Kekurangan aktivitas ekonomi Tiongkok berikutnya hanya bisa berasal dari terbatasnya ketersediaan dana. Menurunnya arus investasi ini menjadi tanda jelas betapa seriusnya tantangan ekonomi dan keuangan Tiongkok, cukup kuat hingga mampu mengalahkan dorongan untuk memindahkan uang ke luar negeri—dorongan yang tersirat dalam menurunnya kepercayaan rumah tangga dan bisnis swasta Tiongkok.
Penurunan investasi luar negeri ini juga tampaknya mencerminkan kebutuhan Beijing akan dana untuk merangsang aktivitas ekonomi domestik. Patut dicatat, upaya otoritas perencanaan pada 2023 dan 2024 untuk secara signifikan memperluas sektor teknologi Tiongkok pasti telah mengalihkan miliaran dolar dari ambisi Beijing menggunakan investasi luar negeri untuk memperluas pengaruh globalnya.
Data mengenai permintaan dana domestik ini memang minim, tetapi perkiraan mencapai sekitar 100 miliar dolar AS yang didedikasikan untuk pembangunan teknologi, termasuk 8 miliar dolar untuk startup kecerdasan buatan saja.
Sementara itu, Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) yang dulunya diagung-agungkan Beijing telah menghadapi resistensi dari mitra saat ini maupun yang potensial, cukup untuk memperlambat aliran dana dari pemerintah dan BUMN ke proyek luar negeri tersebut. Anda bisa membaca detailnya di sini.
Pada 2023 dan 2024, pemimpin Tiongkok Xi Jinping mencoba mengatasi resistensi ini dengan mengalokasikan lebih banyak dana ke BRI, terutama dalam bentuk pinjaman ke negara penerima. Namun, penurunan arus dana ke luar negeri yang berlanjut menunjukkan bahwa upaya ini pun tampaknya sudah meredup.
Meskipun arus investasi ini—atau lebih tepatnya kekurangannya—tidak bisa mengatakan dengan pasti tentang seberapa parah masalah ekonomi domestik Tiongkok atau resistensi terhadap BRI, tetapi data ini tetap memverifikasi tanda-tanda lain dari masalah ekonomi dan keuangan yang sering dilaporkan. Setidaknya, hal ini menjadi pengingat tentang betapa seriusnya masalah tersebut dan layak untuk terus dipantau.
Pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Milton Ezrati adalah editor kontributor di The National Interest, afiliasi dari Center for the Study of Human Capital di University at Buffalo (SUNY), dan kepala ekonom di Vested, sebuah firma komunikasi yang berbasis di New York. Sebelum bergabung dengan Vested, ia menjabat sebagai kepala strategi pasar dan ekonom di Lord, Abbett & Co. Ia juga sering menulis untuk City Journal dan blog rutin di Forbes. Buku terbarunya adalah Thirty Tomorrows: The Next Three Decades of Globalization, Demographics, and How We Will Live.


