EtIndonesia. Ibukota Tiongkok diguncang serangkaian peristiwa yang memicu spekulasi politik besar-besaran. Internet tiba-tiba terputus, tank-tank militer melintas di jalan raya, dan pusat perbelanjaan dipaksa tutup lebih awal. Publik pun bertanya-tanya: apakah ini sekadar persiapan parade militer, atau justru tanda awal gejolak politik di balik layar?
Situasi ini menjadi semakin misterius karena bertepatan dengan berakhirnya pertemuan rahasia tahunan di Beidaihe. Isu kudeta militer dan perebutan kekuasaan pun kembali mencuat ke permukaan.
Misteri Pertemuan Beidaihe: Akhir dari Era Xi?
Pertemuan Beidaihe selalu digelar diam-diam, tanpa pengumuman resmi, dan berakhir tanpa jejak. Namun justru kesenyapan itu yang memicu spekulasi besar.
Pada 15 Agustus 2025, akademisi independen Wu Zuolai menulis bahwa fokus utama pertemuan tahun ini adalah “apakah era Xi Jinping akan segera berakhir.” Dia bahkan menyebut sudah ada “pemberontakan” di kalangan militer, sementara “kudeta” politik tengah berlangsung. Wu merinci tiga kemungkinan nasib Xi:
- Mengundurkan diri penuh,
- Kompromi dengan mengurangi kekuasaan,
- Tetap memegang kendali inti meski tampak mundur.
Di hari yang sama, media resmi Xinhua melaporkan bahwa Perdana Menteri Li Qiang menghadiri acara Hari Ekologi Nasional — sebuah sinyal bahwa liburan politik Beidaihe telah usai. Namun yang menjadi sorotan dunia adalah bagaimana hasil pertemuan rahasia ini akan memengaruhi Sidang Pleno Keempat dan bahkan Kongres Nasional ke-21 Partai Komunis Tiongkok.
Ketidakpuasan Militer: Dari Penopang ke Penentang
Sejak Pleno Ketiga tahun lalu, militer mulai menjadi faktor penentu dalam dinamika politik Beijing. Saat Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan berkunjung pada Agustus 2024, pertemuan paling penting justru bukan dengan pejabat sipil, melainkan dengan Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat.
Pasca kunjungan itu, opini di internal militer bergeser. Seruan untuk menjadi “prajurit setia Xi” mulai meredup, digantikan slogan “kepemimpinan kolektif” dan “demokrasi”.
Ironisnya, Xi sendiri awalnya naik berkat dukungan para jenderal “princeling” seperti Liu Yuan, Liu Yazhou, dan Zhang Youxia. Namun setelah berkuasa, dia justru menyingkirkan mereka: Liu Yuan dipinggirkan, Liu Yazhou dipenjara, sementara Zhang kini diduga berada di ambang pembersihan. Situasi ini membuat para perwira non-loyalis Xi merasa terancam dan bersatu sebagai kelompok bertahan hidup.
Tiga Alasan Utama Kritik Terhadap Xi
Menurut sejumlah pengamat, konsensus “mengakhiri era Xi” dipicu oleh tiga faktor besar:
- Kegagalan kebijakan luar negeri – Xi dianggap mengakhiri era reformasi dan keterbukaan, memicu memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.
- Konsolidasi kekuasaan berlebihan – Perubahan konstitusi yang memperpanjang masa jabatan, bahkan membuka jalan menuju kepemimpinan seumur hidup, dinilai melanggar prinsip Deng Xiaoping.
- Beban ekonomi – Proyek ambisius seperti Belt and Road Initiative serta pembangunan Kota Xiong’an justru menjadi beban finansial negara.
Beijing Mencekam: Tank di Jalan, Internet Terputus
Menjelang parade militer 3 September (peringatan 80 tahun kemenangan melawan Jepang), Beijing memasuki fase “penguncian militer”:
- 16 Agustus malam: Gladi resik besar-besaran, jalan utama ditutup, pusat perbelanjaan Wangfujing dikosongkan sejak siang, aparat berjaga di dalam mal.
- Changan Avenue & Fuxingmen: Ditutup total dengan pagar pembatas, dijaga aparat bersenjata.
- Tank di jalan: Video warga memperlihatkan deretan tank masuk kota. Menariknya, tank-tank itu dilapisi pelat besi bertuliskan “kendaraan uji jalan”, diduga untuk menghindari trauma publik atas tragedi Tiananmen 1989.
Sejumlah analis menilai bahwa ini bukan sekadar persiapan parade, melainkan juga bentuk “militerisasi” ibu kota untuk menekan lawan politik sekaligus menciptakan tekanan psikologis terhadap pejabat yang akan hadir dalam pertemuan penting mendatang.
Spekulasi: Kudeta atau Sekadar Latihan?
Pandangan para analis berbeda-beda:
- Chen Pokong (komentator politik): Menilai pemutusan internet dan pengerahan tank adalah simulasi menghadapi kudeta internal. Ancaman terbesar bukan rakyat, melainkan militer.
- Zhaoming (pengamat): Pelat besi pada tank dimaksudkan agar publik tidak langsung mengaitkan dengan tragedi 1989.
- Xi Erweng (komentator): Menekankan tanpa izin Komisi Militer mustahil pasukan luar masuk Beijing. Ia menduga ini langkah terencana Zhang Youxia, bukan pemberontakan.
- Xie Wanjun (aktivis): Mengungkap rekaman tank yang terhalang bus tanpa ada perwira mengatur, menandakan operasi nyata, bukan gladi resik.
- Cai Shengkui (pengamat skeptis): Mengingatkan bahwa kesimpulan adanya kudeta dari video tank saja terlalu berlebihan. Menurutnya, kekuasaan Xi masih relatif stabil dalam jangka pendek.
Insiden Jaringan: Senjata Kontrol Krisis?
Selain pengerahan militer, serangkaian gangguan komunikasi memperkuat kesan adanya operasi besar:
- 12 Agustus: Jaringan Beijing Unicom lumpuh massal, aplikasi WeChat, Weibo, hingga Douyin tak bisa diakses.
- 13 Agustus: Gangguan berlanjut ke jaringan China Mobile, bahkan telepon sulit digunakan.
- 9 Agustus: Pergerakan besar kendaraan militer dan ambulans sudah terlihat di jalan raya.
Banyak pihak percaya, pemutusan jaringan komunikasi adalah langkah pertama jika terjadi kerusuhan atau kudeta, guna mencegah masyarakat berkoordinasi.
Tiga Skenario Akhir Xi
Sejumlah analisis menyebut ada tiga kemungkinan nasib Xi Jinping:
- Lengser total – Mundur sepenuhnya pada Pleno Keempat, digantikan kelompok reformis.
- Transisi lunak – Tetap menjabat namun melepas kekuasaan bertahap, dengan penerus diputuskan di Kongres Nasional ke-21.
- Bertahan dengan kompromi – Melepas sebagian kekuasaan, namun tetap mengendalikan inti pemerintahan.
Banyak pengamat menilai skenario kedua lebih realistis, meski kemungkinan perubahan mendadak tetap terbuka jika militer benar-benar berbalik arah.
Penutup: Parade atau Kudeta Terselubung?
Beijing kini bagai kota dalam darurat militer. Tank berjaga di jalan, internet diputus, dan pusat perbelanjaan dikosongkan. Apakah semua ini hanya bagian dari persiapan parade militer, atau sinyal pertarungan kekuasaan di puncak pemerintahan?
Jawaban atas teka-teki ini kemungkinan akan terungkap pada Sidang Pleno Keempat mendatang. Pertanyaan terbesar publik tetap sama: apakah Xi Jinping akan dipaksa mundur, tetap bertahan, atau sekadar “mundur sambil berkuasa”?


