Kepribadian Psikopat: Kebaikan yang Menyimpan Niat Jahat, atau Pesona yang Penuh Kegilaan?

EtIndonesia. Kepribadian psikopat bukan hanya tema riset ilmiah, tapi juga realitas sosial yang bisa kita temui sehari-hari.

Di masa sekolah, mungkin kamu pernah berjumpa dengan teman yang penuh ambisi, hanya mau berteman dengan murid berprestasi atau dekat dengan guru. Di dunia kerja, mungkin kamu pernah menghadapi atasan yang suka menakut-nakuti untuk mengontrol, atau pandai melempar tanggung jawab ke bawahannya.

Sekilas, mereka tampak memikat: pandai berbicara, luwes dalam presentasi, dan karismatik di depan umum. Tapi, ketika hubungan berlanjut lebih dekat, barulah terasa adanya manipulasi. Mereka lihai memainkan citra, kerap memanfaatkan orang sekitar demi tujuan pribadi, bahkan mencuri hasil kerja orang lain. Menurut Nobuko Nakano, ahli saraf sekaligus penulis buku ini, besar kemungkinan orang-orang seperti itu adalah psikopat.

Nakano sendiri adalah doktor ilmu saraf lulusan Universitas Tokyo, pernah menjadi peneliti di pusat fMRI berdaya magnet tinggi NeuroSpin di Prancis, dan telah menulis berbagai buku tentang otak. Dia menjelaskan bahwa “psychopathy” awalnya digunakan untuk menggambarkan pelaku kriminal kelas berat. Namun, hasil riset otak menunjukkan: tidak semua psikopat berhubungan dengan kriminalitas, bahkan sebagian justru banyak ditemukan di profesi yang menuntut keputusan cepat dan tegas.

Ciri Utama Psikopat

1. Perubahan sikap drastis setelah akrab
Saat pertama bertemu, mereka tampak ramah, menyenangkan, dan mudah bergaul. Tetapi begitu hubungan terjalin lebih dalam, sikap mereka bisa berubah seolah-olah menjadi orang yang berbeda.

2. Kurang empati
Bagian otak yang biasanya bereaksi terhadap penderitaan orang lain, pada psikopat justru tidak aktif. Riset menunjukkan, saat ditunjukkan gambar penderitaan, reaksi otonom tubuh mereka jauh lebih lemah dibanding orang normal.

3. Sulit mengenali emosi tertentu
Mereka bisa membaca ekspresi seperti marah, senang, atau terkejut. Tetapi kurang mampu menangkap tanda-tanda ketakutan dan kesedihan orang lain.

4. Kemampuan “membaca pikiran lewat mata”
Inilah ironi besar: meski kurang berempati, psikopat sangat terampil mengamati tatapan mata dan ekspresi untuk mengetahui keadaan psikologis orang lain. Tingkat akurasinya bisa lebih dari dua kali lipat orang biasa.

Perbedaan Otak Psikopat

Studi menunjukkan, psikopat memiliki tiga ciri khas pada otak:

·        Aktivitas amigdala (pusat rasa takut dan emosi) rendah.

·        Aktivitas korteks orbitofrontal dan korteks prefrontal ventromedial juga rendah.

·        Koneksi antara amigdala dengan kedua area prefrontal tersebut lemah.

Padahal, area otak itu penting untuk mengendalikan impuls, menghubungkan pengalaman emosi dengan norma sosial, dan membangun empati serta rasa bersalah. Akibat lemahnya sistem tersebut, psikopat lebih mungkin bertindak impulsif, tanpa perasaan bersalah maupun pertimbangan moral.

Mengapa Psikopat Menarik bagi Sebagian Orang?

Nakano juga menyinggung soal pilihan pasangan. Pada masa tertentu dalam siklus hormonal, wanita lebih rentan pada daya tarik “primitif” ketimbang logika rasional. Di masa ovulasi atau menjelang menstruasi, kadar estrogen dan serotonin menurun, membuat wanita lebih mudah cemas, impulsif, dan sulit mengambil keputusan tenang. Pada periode ini, tipe laki-laki dengan kecenderungan psikopat—yang karismatik, penuh percaya diri, dan berani mengambil risiko—lebih mudah terlihat menarik, meski secara sosial kurang bertanggung jawab.

Pertanyaan Etis: Apakah Psikopat Bertanggung Jawab atas Tindakannya?

Profesor Ken Levy dari Louisiana State University pernah mengajukan pertanyaan: Apakah psikopat seharusnya dimintai pertanggungjawaban hukum?

Secara kognitif, mereka bisa membedakan benar dan salah. Namun secara emosional, mereka tidak merasakan bahwa kejahatan melanggar norma moral. Jika hukuman tidak menimbulkan rasa bersalah atau penyesalan, lalu apa artinya hukuman itu?

Lebih jauh lagi, bahkan psikopat yang tidak melakukan kriminalitas tetap bisa hadir di sekitar kita—di kantor, pertemanan, bahkan keluarga—dan secara halus merusak kesehatan mental maupun hak-hak orang lain. Karena itu, isu ini bukan sekadar urusan medis, tetapi isu sosial yang perlu mendapat perhatian serius.

Kesimpulan

Psikopat bukan hanya sosok kriminal dalam film atau berita kriminal. Mereka bisa hadir di ruang kelas, kantor, bahkan di lingkaran sosial kita. Dengan memahami ciri dan mekanisme otak mereka, kita bisa lebih waspada, menjaga jarak, sekaligus mencari cara hidup berdampingan secara aman.

Perdebatan tentang psikopat—apakah sekadar gangguan neurologis, atau justru potensi bahaya sosial—masih akan terus berlanjut. Namun yang jelas, kesadaran publik adalah langkah pertama untuk mencegah kita terjebak dalam pesona berbahaya mereka. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine