EtIndonesia. Konflik Rusia–Ukraina kembali menjadi sorotan setelah serangkaian pernyataan tajam dari para pemimpin dunia. Presiden Amerika, Serikat Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News pada 19 Agustus menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin kemungkinan besar sudah “lelah dengan perang”. Namun Trump mengingatkan, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan langkah Putin berikutnya.
“Bisa saja dia justru tidak ingin mencapai kesepakatan,” tegasnya.
Sehari kemudian, pada 20 Agustus 2025, Moskow mengeluarkan peringatan keras. Rusia menegaskan bahwa jika Prancis dan Jerman berani mengirim pasukan ke Ukraina, kedua negara itu akan langsung dipandang sebagai “musuh Rusia”. Pernyataan ini memperkuat pandangan banyak pengamat bahwa konflik berkepanjangan ini semakin sulit diselesaikan di meja perundingan dan kemungkinan besar hanya akan ditentukan di medan tempur.
Kendala Negosiasi: Teritorial dan Keamanan
Dua isu pokok masih menjadi batu sandungan utama dalam pembicaraan damai:
- Wilayah Teritorial Ukraina
Menurut analis Zheng Qingmo dari Universitas Tamkang, Ukraina memang tidak lagi menuntut pengembalian seluruh wilayah yang dikuasai Rusia. Namun, Presiden Volodymyr Zelenskyy diyakini tidak akan pernah melepaskan Donbas. Jika Ukraina mundur dari seluruh Donbas, maka pertahanan yang dibangun bertahun-tahun akan runtuh, membuat Rusia leluasa melancarkan serangan tanpa perlawanan berarti. - Jaminan Keamanan Ukraina
Rusia bersikeras menolak keterlibatan pasukan Eropa di Ukraina. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menegaskan bahwa Moskow harus ikut serta dalam setiap pembahasan mengenai keamanan Ukraina, bahkan menyarankan agar Tiongkok turut dilibatkan. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev juga menegaskan Rusia tidak akan pernah menerima pasukan NATO di Ukraina, meskipun atas nama “misi perdamaian”.
Dengan kata lain, tuntutan Rusia dirancang untuk memastikan kontrol atas Ukraina sekaligus membatasi ruang gerak NATO di kawasan.
Trump, Zelenskyy, dan Jalan Buntu
Meski Trump aktif mendorong pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy, banyak pihak skeptis. Profesor politik John Mearsheimer menilai langkah Trump sejalan dengan kebutuhan strategis, namun Washington—khususnya pemerintahan Presiden Joe Biden—justru menjadi penghalang utama.
Menurut Mearsheimer, kesempatan menyelesaikan konflik lewat negosiasi sudah banyak terlewat. Kini, pertempuranlah yang akan menentukan pemenang. Ukraina tidak mungkin menyerahkan Donbas, sementara Rusia tidak akan membiarkan Barat memberikan jaminan keamanan yang setara dengan keanggotaan NATO.
Strategi Trump di Balik Layar
Meski peluang perdamaian di Ukraina masih tipis, para pengamat melihat langkah Trump dalam konteks yang lebih luas. Wen Zhao, seorang analis internasional, menilai strategi Trump berjalan dalam dua tahap besar:
- Mengguncang Sistem Ekonomi Global
Trump mendorong perjanjian dagang antara AS dengan Uni Eropa, Jepang, dan sejumlah negara lain. Langkah ini membuat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) kehilangan relevansinya dan secara langsung melemahkan posisi Tiongkok di arena ekonomi internasional. - Mentransformasi Sistem Keamanan Dunia
Melalui upaya negosiasi Rusia–Ukraina, Trump secara tidak langsung juga menggeser peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia berupaya membentuk tatanan baru dengan AS sebagai poros utama negosiasi global.
Menurut Wen Zhao, Trump sadar bahwa untuk menghadapi India—salah satu negara yang sulit ditundukkan dalam perjanjian dagang—AS harus terlebih dahulu mengendalikan Rusia. Di titik inilah, strategi ekonomi dan keamanan bersinggungan serta saling melengkapi.
Kesimpulan
Situasi terbaru menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian Rusia–Ukraina semakin buntu. Ukraina tidak akan menyerah atas Donbas, Rusia menolak kehadiran NATO, sementara Trump berusaha memainkan peran ganda: mendorong negosiasi sekaligus mengatur ulang tatanan ekonomi dan keamanan global.
Pertanyaan besar kini menggantung: Apakah dunia akan menyaksikan lahirnya kesepakatan bersejarah, atau justru menyaksikan konflik berkepanjangan yang kian memperkeruh stabilitas internasional?


