Israel akhirnya menyetujui rencana pembangunan permukiman Yahudi di wilayah sengketa Tepi Barat, Yordania. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyatakan bahwa Amerika Serikat menghormati hak Israel dalam mengambil keputusan terkait masalah ini. Namun, komunitas internasional menilai langkah tersebut akan membuat negara Palestina hanya tinggal nama. Sementara itu, militer Israel menyatakan pasukan mereka telah mengepung Kota Gaza, menandai dimulainya operasi besar untuk menghancurkan Hamas.
EtIndonesia. Pada Rabu (20/8/2025), pemerintah Israel akhirnya menyetujui rencana pembangunan permukiman di kawasan E1 di Tepi Barat.
Wilayah E1 merupakan lahan luas di bagian tengah Tepi Barat, terletak di antara Yerusalem Timur dan permukiman Ma’ale Adumim. Lebih dari 20 tahun lalu, Israel sudah mempertimbangkan pembangunan di kawasan ini, namun karena tekanan dari negara-negara sekutu, rencana tersebut sempat dibekukan.
Rencana terbaru mencakup pembangunan sekitar 3.500 unit apartemen di kawasan E1. Jika berjalan lancar, pembangunan infrastruktur dasar permukiman ini bisa dimulai dalam beberapa bulan ke depan. Pihak Palestina serta sejumlah organisasi HAM khawatir proyek tersebut akan menghancurkan harapan berdirinya negara Palestina.
“Pada kenyataannya, ini akan memotong Tepi Barat menjadi dua bagian, utara dan selatan. Jika Israel membangun sebuah koridor di jantung wilayah yang seharusnya menjadi negara Palestina di masa depan, maka kontinuitas geografis Palestina tidak mungkin terwujud,” ujar Hagit Ofran dari organisasi Peace Now.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara tegas menolak gagasan berdirinya negara Palestina berdampingan dengan Israel. Ia pernah menyatakan bahwa pendirian negara Palestina justru bisa menghadirkan ancaman keamanan baru bagi Israel.
Setelah Inggris, Prancis, Kanada, dan Australia baru-baru ini mengumumkan akan mengakui negara Palestina pada sidang umum PBB bulan September mendatang, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, pada Rabu menyatakan bahwa Amerika Serikat mendukung Israel untuk mengambil keputusan sendiri dalam masalah ini.
“Saya kira, beberapa langkah yang Anda lihat—baik itu terkait E1 maupun wacana pengumuman kedaulatan atau aneksasi—semua itu muncul akibat pelanggaran nyata terhadap Perjanjian Oslo, yakni mendeklarasikan negara Palestina tanpa keterlibatan pihak Israel,” ujarnya.
Bersamaan dengan pengumuman pembangunan permukiman ini, Israel juga memperkuat operasi militernya di Gaza. Pada Kamis (21 Agustus), terjadi ledakan di wilayah Deir al-Balah, Gaza Tengah, yang menimbulkan asap pekat membumbung tinggi.
Pada hari yang sama, video yang dirilis militer Israel memperlihatkan pasukan darat sedang beroperasi di kawasan Khan Younis, Gaza Selatan, memburu dan menghancurkan militan Hamas.
Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Daniel Hagari menyatakan bahwa militer sedang memperluas ofensifnya di Jalur Gaza.
“Operasi awal tahap pertama serangan kami ke Kota Gaza telah dimulai. Pasukan Pertahanan Israel telah mengepung Kota Gaza. Brigade Nahal di bawah Divisi ke-99 serta Brigade ke-7 saat ini tengah melakukan operasi darat di distrik Zeitoun, pinggiran Kota Gaza,” katanya.
Kota Gaza merupakan pusat politik dan militer Hamas, dengan jaringan terowongan bawah tanah yang sangat luas. Kota ini juga menjadi salah satu tempat perlindungan terakhir di Gaza Utara, dengan ratusan ribu warga sipil yang masih berlindung di sana dari peperangan.
Sumber : NTDTV.com


