Ukraina dalam beberapa waktu terakhir terus menyerang fasilitas energi Rusia. Serangan terbaru pada Kamis (21 Agustus) malam menyebabkan pasokan minyak Rusia ke Hungaria dan Slovakia terpaksa dihentikan. Pada Jumat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO untuk membahas jaminan keamanan. Ia menegaskan bahwa Putin akan berusaha menghindar dari pertemuan dengannya, karena Rusia tidak ingin mengakhiri perang. Selain itu, baru-baru ini muncul bocoran mengenai tiga syarat utama gencatan senjata yang diajukan Putin.
EtIndonesia. Gara-gara serangan berulang Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, beberapa wilayah Rusia serta daerah Ukraina yang diduduki Rusia mengalami kelangkaan bahan bakar. Mobil-mobil tampak mengantri panjang di SPBU, hingga tak terlihat ujungnya.
Beberapa warga terpaksa menggunakan jenis bensin lain yang lebih mahal.
Seorang warga Krimea, Bazanova, berkata: “Kami akan bertahan, tapi ini adalah pukulan besar bagi anggaran keluarga kami, sangat besar. Benar-benar terasa dampaknya.”
Militer Ukraina pada Kamis malam merilis rekaman terbaru serangan drone mereka terhadap stasiun pompa minyak Rusia. Sasaran serangan adalah stasiun pompa Unecha di Oblast Bryansk, salah satu titik penting dalam jaringan pipa minyak Rusia.
Hungaria dan Slovakia pada Jumat (22 Agustus) membenarkan bahwa akibat serangan tersebut, pasokan minyak dari Rusia ke kedua negara itu kemungkinan akan terhenti setidaknya lima hari.
“Tidak menyerang negara agresor tapi ingin menang perang, meskipun bukan tidak mungkin, akan sangat sulit,” kata Trump.
Komentar ini seolah mengisyaratkan bahwa serangan balik Ukraina ke wilayah Rusia tidak akan berhenti.
Sementara itu, Ukraina juga sedang mencari jaminan keamanan. Pada Jumat, Sekjen NATO Mark Rutte tiba di Kyiv untuk bertemu Zelenskyy dan membahas rincian masalah ini.
Rutte menekankan bahwa jaminan tersebut harus mencakup dua aspek: memperkuat angkatan bersenjata Ukraina, serta dukungan keamanan dari Amerika Serikat dan Eropa.
Sekjen NATO Rutte: “Dengan begitu, ketika Anda mengikuti pertemuan bilateral, Anda mendapat dukungan tegas dari sahabat Ukraina, yang memastikan Rusia mematuhi setiap perjanjian dan tidak akan pernah mencoba merebut satu kilometer pun wilayah Ukraina lagi.”
Presiden Ukraina Zelensky: “Jaminan ini harus serupa dengan Pasal 5 NATO (pertahanan kolektif). Itu adalah jaminan keamanan yang benar-benar efektif. Inilah hasil yang harus kita capai.”
Sebelumnya, Rusia menegaskan bahwa penyelesaian masalah keamanan kolektif tanpa keterlibatan Moskow adalah sia-sia. Zelensky mengaku tidak memahami sikap tersebut.
Zelenskyy: “Ketika Rusia bicara soal jaminan keamanan, saya sungguh tidak mengerti. Mereka pikir siapa yang mengancam mereka? Mereka justru yang menginvasi kami. Mereka ada di tanah kami. Saya sungguh tidak paham mengapa agresor membutuhkan jaminan keamanan.”
Mengenai kemungkinan pertemuan puncak Rusia–Ukraina, Zelensky menegaskan bahwa Putin pasti akan mencari cara untuk menghindarinya, karena tujuannya adalah mempertahankan perang. Presiden Trump dalam wawancara menilai hubungan kedua pemimpin itu bagaikan minyak dan cuka yang sulit menyatu, seraya menambahkan bahwa ia akan mengamati terlebih dahulu apakah keduanya bisa bekerja sama.
Presiden AS Donald Trump: “Untuk alasan yang jelas, mereka tidak akur, tapi mari kita lihat saja. Lalu saya akan putuskan apakah saya harus hadir. Saya lebih suka tidak hadir. Saya lebih suka mereka bertemu dulu dan lihat apa yang bisa mereka lakukan.”
Sementara itu, seorang sumber Rusia kepada Reuters mengungkapkan syarat-syarat gencatan senjata yang diajukan Putin, yaitu:
- Ukraina harus melepaskan seluruh wilayah Donbas di timur,
- Tidak boleh bergabung dengan NATO dan harus tetap netral,
- Pasukan Barat tidak boleh ditempatkan di Ukraina.
Sumber itu menyebutkan, Putin telah mundur dari tuntutan sebelumnya yang meminta Ukraina menyerahkan seluruh empat wilayah timur. Kini, jika Kyiv bersedia menyerahkan Donbas (Donetsk dan Luhansk), Moskow akan membekukan garis depan saat ini di Zaporizhzhia dan Kherson.
Menurut data, saat ini Rusia menguasai sekitar 88% wilayah Donbas, serta 73% wilayah Zaporizhzhia dan Kherson. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


