Perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung selama tiga setengah tahun akhirnya memperlihatkan secercah harapan untuk berakhir. Setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pekan lalu, pada Senin (18/8)i Trump kembali menggelar pertemuan bersejarah di Gedung Putih dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky serta tujuh pemimpin Eropa, guna mendorong gencatan senjata dan perdamaian.
Namun, serangan Rusia yang terus berlanjut ke berbagai wilayah Ukraina membuat banyak pihak masih meragukan prospek perdamaian.
Meski begitu, negara-negara Barat tetap mempercepat pembahasan jaminan keamanan bagi Ukraina pasca perang, sementara AS berupaya mengatur kemungkinan pertemuan langsung antara Putin dan Zelensky untuk memecah kebuntuan.
EtIndonesia. Pada 18 Agustus, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut para pemimpin asing di Gedung Putih, termasuk Zelenskyy, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Finlandia Alexander Stubb, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen, serta Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Pertemuan kali ini berlangsung dengan suasana lebih cair antara Trump dan Zelensky. Dalam konferensi pers, keduanya menyatakan harapan untuk mengakhiri perang dan mencapai perdamaian jangka panjang.
Presiden AS Donald Trump: “Kami akan bekerja sama dengan semua pihak untuk memastikan perdamaian dapat bertahan lama.”
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky: “Kami kini berpeluang membeli senjata dari Amerika Serikat. Kami berterima kasih atas rencana ini, juga berterima kasih kepada Eropa yang menanggung biayanya, serta kepada aliansi NATO.”
Pada 19 Agustus pagi, Trump dalam wawancara dengan Fox News mengatakan bahwa setelah pertemuan itu ia langsung menelepon Putin, dan Putin menyatakan kesediaannya untuk ikut dalam perundingan damai.
Dalam situasi di mana Rusia dengan tegas menolak keanggotaan Ukraina di NATO, Sekjen NATO Mark Rutte menyambut baik rencana pemberian jaminan keamanan bagi Ukraina yang serupa dengan klausul pertahanan kolektif NATO.
Rutte menegaskan, sekitar 30 negara termasuk Jepang dan Australia, berniat memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina, dan koordinasi sedang berlangsung.
Trump menegaskan bahwa pasukan darat AS tidak akan dikirim ke Ukraina, dan jaminan keamanan tidak akan dilaksanakan dalam kerangka NATO. Namun, ia setuju memberikan jaminan keamanan, meski detailnya masih harus ditentukan.
“Kalau bicara soal keamanan, Eropa bersedia menempatkan pasukan di darat, sementara kami akan membantu dalam bidang lain, terutama kemungkinan di udara, karena tak ada yang memiliki kemampuan seperti kita,” kata Trump pada 19 Agustus 2025.
Mengenai lokasi pertemuan bilateral atau trilateral, Istanbul (Turki) dan Budapest (Hungaria) masuk dalam daftar pilihan.
Namun, ketika pembahasan perdamaian semakin gencar dilakukan, Rusia justru melancarkan serangan besar-besaran selama dua hari berturut-turut ke Ukraina.
Pada 20 Agustus, sebuah fasilitas energi di Odesa, Ukraina selatan, terbakar hebat dengan api menjulang tinggi.
Kota Okhtyrka di wilayah Sumy, Ukraina utara, juga dilalap api.
Rusia sekaligus melanjutkan serangan menuju kota Dnipro.
Militer Ukraina mengonfirmasi bahwa serangan pada 21 Agustus adalah serangan udara terbesar sepanjang Agustus, dengan peluncuran 574 drone dan 40 rudal.
Meski prospek perdamaian masih tidak menentu, “Koalisi Sukarela” (Coalition of the Willing) yang dipimpin Inggris dan Prancis tetap melanjutkan pembahasan rinci mengenai jaminan keamanan kuat untuk Ukraina.
AS juga berupaya keras mengatur pertemuan puncak Rusia–Ukraina yang diyakini akan membantu memecah kebuntuan.
Sumber Rusia kepada Reuters mengungkapkan syarat gencatan senjata dari Putin, yaitu:
– Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas (Donetsk dan Luhansk);
– Ukraina tidak boleh bergabung dengan NATO dan harus bersikap netral;
– Pasukan Barat tidak boleh ditempatkan di Ukraina.
Menurut sumber tersebut, Putin tidak lagi menuntut seluruh empat wilayah timur Ukraina seperti sebelumnya. Jika Kyiv bersedia menyerahkan Donbas, maka Moskow akan membekukan garis depan di Zaporizhzhia dan Kherson.
Di jalur diplomatik, Trump memberi sinyal tegas dengan menetapkan batas waktu dua minggu terkait konflik Rusia–Ukraina.
Trump: “Kita akan lihat bagaimana situasinya berkembang. Saya rasa dalam dua minggu akan jelas langkah apa yang harus saya ambil.”
Trump menekankan bahwa ia akan membuat keputusan penting — apakah akan menjatuhkan “sanksi besar-besaran atau tarif besar-besaran, atau keduanya sekaligus,” atau “tidak melakukan apa-apa dan mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah perang kalian.”
Serangkaian perundingan gencatan senjata ini mencerminkan peran penting Amerika Serikat dalam diplomasi internasional, sementara rezim Tiongkok kehilangan pengaruh sepenuhnya.
Pengamat menilai, jika gencatan senjata Rusia–Ukraina benar-benar tercapai, maka hubungan AS–Rusia–Tiongkok bisa mengalami perubahan besar.
“Ke depan, jika perundingan damai ini benar-benar berhasil, maka ekonomi Rusia dan PKT akan perlahan terlepas. Dulu pada masa Perang Dingin kita melihat aliansi AS–Tiongkok untuk menghadapi Rusia, tetapi ke depan bukan mustahil yang terjadi adalah aliansi AS–Rusia untuk menghadapi Tiongkok,” kata Profesor Yao-Yuan Yeh, Ketua Studi Internasional Universitas St. Thomas. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


