Mantan Kepala Eksekutif Hong Kong Mengancam Praktisi Falun Gong,  Kemenlu Finlandia :  Kami Tidak Akan Menerima Intimidasi

Kasus mantan Kepala Eksekutif Hong Kong Leung Chun-ying yang mengancam dan mengintimidasi praktisi Falun Gong di Taman Sibelius, Helsinki, Finlandia, (13/8/2025) terus memicu perhatian internasional. Baru-baru ini, Kementerian Luar Negeri Finlandia menanggapi dengan menyatakan penyesalan atas terjadinya insiden tersebut dan menegaskan bahwa Finlandia tidak bisa menerima intimidasi.  “Kalau sudah ada nama kalian, pulang nanti langsung bisa dicek. Satu per satu,” kata Leung Chun-ying, Wakil Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (PKT) kepada praktisi Falun Gong.

EtIndonesia. Sebagai pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) sekaligus mantan Kepala Eksekutif Hong Kong, Leung Chun-ying secara terbuka mengancam praktisi Falun Gong di Taman Sibelius, ibu kota Finlandia, Helsinki. Tindakannya memicu kecaman luas di masyarakat internasional.

Kementerian Luar Negeri Finlandia segera merespons, menyebut peristiwa itu sebagai sebuah “insiden yang tidak menyenangkan”, serta menegaskan bahwa Finlandia tidak menerima bentuk intimidasi apa pun.

Polisi Finlandia juga mengkonfirmasi bahwa kegiatan praktisi Falun Gong dilindungi oleh hukum Finlandia, dan tidak seorang pun diperbolehkan mengganggu aktivitas keagamaan yang damai.

Masyarakat internasional menilai, tindakan Leung Chun-ying di Taman Sibelius adalah contoh terbaru dari upaya penindasan lintas negara oleh PKT.

 “Leung Chun-ying secara terbuka mengintimidasi praktisi Falun Gong di masyarakat internasional, mencoba menghalangi mereka menyampaikan kebenaran. Ini menunjukkan betapa seriusnya penindasan lintas negara yang dilakukan PKT, bahkan sudah mencapai tingkat tanpa kendali di dunia internasional,” kata Wang Zhiyuan, Ketua World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG). 

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, pertama kali diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992. Latihan ini memadukan ajaran moral dan gerakan meditasi. Pada 1999, puluhan juta orang di Tiongkok telah mempraktikkannya.

Pada Juli 1999, rezim komunis Tiongkok menganggap banyaknya pengikut Falun Gong sebagai ancaman terhadap kekuasaannya dan mulai menganiaya mereka dengan kekerasan, pelecehan, serta berbagai taktik lainnya. Sejak saat itu, banyak praktisi mengalami penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, bahkan kematian di tangan rezim tersebut.

Levi Browde, direktur eksekutif Falun Dafa Information Center, mengatakan bahwa insiden di taman Helsinki menandai “bagian dari tren yang lebih besar, di mana pejabat dan afiliasi Partai Komunis Tiongkok berupaya mengintimidasi, memantau, dan membungkam praktisi Falun 

Gong di luar Tiongkok.”

“Fakta bahwa seorang pejabat senior Tiongkok secara pribadi menghadapi para meditator damai di sebuah negara demokrasi Eropa menunjukkan betapa tingginya prioritas Beijing untuk menekan Falun Gong,” ujarnya dalam sebuah pernyataan, sambil menekankan bahwa beberapa komentar Leung “juga menggambarkan betapa para pejabat Tiongkok sendiri telah tertipu oleh propaganda PKT.”

Para praktisi melaporkan insiden tersebut kepada polisi, yang datang tak lama setelah Leung dan istrinya pergi. Petugas meyakinkan para praktisi bahwa stan mereka dilindungi oleh hukum Finlandia dan mengatakan mereka akan memantau area tersebut untuk mencegah gangguan lebih lanjut.

Praktisi yang pertama kali menyambut Leung mengatakan bahwa ia tidak menduga apa yang kemudian terjadi.

“Ia mengatakan bisa ‘melacak kami,’” ujarnya kepada The Epoch Times. “Apa tujuan dari itu?”

Ia menambahkan, dalam satu tahun terakhir telah terjadi dua insiden lain di mana para pendukung Beijing mengintimidasi mereka atau berusaha merusak lokasi kegiatan mereka.

Pada September 2024, dua pria merobohkan spanduk di stan tersebut dan memperingatkan dua orang yang ada di lokasi bahwa mereka harus “bersikap baik” jika ingin tetap aman di Finlandia.

Pada Januari, dua pria lain menghina praktisi yang sama karena keyakinannya dan berusaha merebut telepon genggamnya.

“Kami sudah melaporkan ini ke Kedutaan Besar Tiongkok,” kata salah satu dari mereka, dalam sebuah rekaman yang dibagikan kepada The Epoch Times. Konfrontasi pada 13 Agustus menjadi pengingat terbaru tentang penindasan tanpa henti dari Beijing, ujar praktisi tersebut.

“Kami berada di luar Tiongkok, tetapi tidak terasa benar-benar aman,” katanya. “Partai Komunis Tiongkok masih berusaha menganiaya kami.”

Browde menyatakan ia khawatir dengan sejauh mana pengaruh Tiongkok terhadap negara-negara lain, dengan menyinggung insiden terbaru di mana praktisi Falun Gong di Serbia dan Rusia ditahan serta dituntut sebelum kunjungan pemimpin Tiongkok Xi Jinping ke negara-negara tersebut. Pada Juli, Rusia menjatuhkan vonis empat tahun penjara kepada seorang perempuan yang ditahan sejak 2024.

“Seiring rezim Tiongkok meningkatkan kampanye global intimidasi dan pemaksaan, sangat penting bagi negara-negara demokrasi untuk mengambil tindakan melindungi komunitas rentan seperti praktisi Falun Gong dan warga Finlandia yang menjalankan keyakinan ini,” kata Browde. 

Ia mendesak otoritas Finlandia untuk secara terbuka mengecam perilaku Leung serta menyelidiki praktik pengintaian dan pelecehan terhadap kelompok spiritual tersebut di negara itu.

Media Inggris BBC telah meminta komentar dari kantor mantan Kepala Eksekutif Hong Kong, namun belum menerima tanggapan.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine