Melihat Anak Main Game Bikin Emosi? Begini Cara Menghadapinya

EtIndonesia. “Bu, setiap kali melihat anak saya main game, entah itu Mobile Games atau konsol, saya langsung marah. Apakah hanya saya yang begini?”

Tenang, ternyata banyak ibu yang merasakan hal serupa. Begitu melihat anak tenggelam dalam dunia game, emosi pun naik. 

Masalahnya, si anak sering tidak paham:“Kenapa sih, kalau aku main game, Mama harus marah?”

Kalau ucapan ini sudah keluar dari mulut anak, itu tanda otoritas orangtua mulai luntur. Anak bisa melihat ibunya sebagai sosok yang tidak mengerti dunianya dan bahkan dianggap tidak bisa mengendalikan diri. Maka, kuncinya: sebelum mengatur emosi anak, orangtua harus bisa mengatur emosinya sendiri.

Emosi Datang dari Ketidaktahuan

Ketika melihat anak main game, perasaan yang muncul bisa berbeda-beda: marah, cemas, atau frustrasi.

Sebenarnya, rasa cemas biasanya lahir dari hal yang tidak kita pahami. Semakin kita mengerti, biasanya rasa cemas itu hilang.

Bagi banyak orangtua, istilah game seperti Minecraft, Roblox, Brawl Stars, atau League of Legends terasa asing dan membingungkan. Ditambah lagi dengan visual pertarungan yang terkesan keras, wajar kalau menimbulkan rasa tidak nyaman.

Tapi justru di situlah kuncinya: cara terbaik mengatasi rasa cemas adalah dengan memahami lebih dalam.

Game = Versi Modern Permainan Tradisional

Bila diteliti, game anak zaman sekarang sebenarnya mirip dengan permainan kita dulu:

·        Minecraft ibarat permainan lego atau menyusun balok.

·        Roblox mirip membuat dunia imajinatif sendiri, seperti main rumah-rumahan.

·        Brawl Stars atau LoL sebenarnya sama seperti kejar-kejaran, patung-patungan, atau main jenga, hanya saja dipindahkan ke dunia digital.

Sebelum mencoba, game terlihat menakutkan: gelap, penuh kekerasan, membuat kecanduan. Tapi setelah mengenal lebih jauh, kita sadar bahwa hakikatnya game hanyalah bentuk baru dari permainan yang sudah kita kenal sejak kecil.

Mengurangi Larangan yang Membabi Buta

Tentu bukan berarti anak boleh bebas main gadget tanpa batas. Namun, kalau orangtua menegur dengan emosi dan rasa cemas yang belum tuntas, hasilnya justru kontraproduktif.

·        Semakin sering orangtua melarang tanpa dasar yang jelas, anak semakin tidak percaya pada otoritas.

·        Kalau orangtua mau mencoba ikut bermain, setidaknya sekali dua kali, rasa cemas akan berkurang drastis.

·        Saat hati lebih tenang, orang tua bisa melihat persoalan secara lebih jernih: bukan game-nya yang salah, tetapi pelanggaran aturan yang harus dikoreksi.

Prinsip Utama dalam Pengasuhan

Game bukanlah musuh. Yang perlu ditanamkan kepada anak adalah:

“Bukan main gamenya yang salah, tapi melanggar kesepakatan itu yang keliru.”

Sama seperti anak berkata: “Aku selesaikan satu ronde dulu” saat main game, itu sebenarnya sama saja dengan anak yang bilang: “Aku selesaikan satu soal dulu” saat belajar.

Bedanya, kalau orangtua membiarkan emosinya menguasai, pesan yang ingin disampaikan tidak akan sampai. Tanpa kendali emosi, pengasuhan jadi sulit berjalan.

Penutup

Kuncinya bukan melarang game sepenuhnya, melainkan mendampingi dengan pemahaman. Saat orang tua menenangkan diri, ikut memahami, lalu menetapkan aturan yang jelas, barulah anak bisa belajar disiplin tanpa merasa disalahpahami.

Jadi, sebelum mengendalikan anak, kuasai dulu emosimu sendiri.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine