EtIndonesia. Dalam bagian pertama kita sudah melihat bahwa:
· Pada dasarnya manusia memiliki hati yang lurus dan cenderung baik.
· Kita adalah makhluk sosial yang terbentuk melalui “penjinakan diri” (self-domestication).
· Dalam kelompok, manusia lebih suka bekerja sama daripada saling menjatuhkan.
Namun pertanyaannya: jika kita memang sebaik itu, kenapa masih ada kekejaman, genosida, atau kejahatan yang mengerikan?
Bagaimana mungkin manusia yang penuh empati, bahkan bisa merasa malu dan bersalah, pada saat lain justru tega melakukan kebiadaban?
Mengapa Orang Baik Bisa Jadi Jahat?
Salah satu jawabannya ada pada konsep “mismatch” (ketidakcocokan) dalam evolusi. Artinya, otak dan tubuh kita masih membawa pola pikir kuno yang tidak sesuai dengan dunia modern.
Contoh sederhana adalah obesitas. Zaman purba, jika kita menemukan makanan berkalori tinggi, masuk akal untuk segera makan banyak karena tidak tahu kapan bisa makan lagi. Tapi di era sekarang, makanan melimpah, hasilnya justru tubuh jadi sakit karena pola pikir lama tidak cocok dengan kondisi baru.
Mungkin sejarah kelam umat manusia juga sama: kekejaman, perang, pembantaian — semua bisa jadi hasil dari “otak purba” yang salah tempat.
Buku Humankind memberi tiga penjelasan utama mengapa orang baik bisa berbuat jahat:
1. Kepatuhan pada otoritas.
2. Empati yang keliru arah.
3. Korupsi kekuasaan.
1. Eksperimen Milgram: Ketaatan yang Mematikan
Psikolog Stanley Milgram pernah menguji mengapa orang biasa bisa ikut dalam genosida.
Dalam eksperimen, peserta berperan sebagai “guru” yang harus memberi sengatan listrik kepada “murid” setiap kali salah menjawab. Tegangan meningkat dari 15 volt hingga 450 volt.
Hasilnya mengejutkan:
· 65% peserta menekan tombol hingga level tertinggi.
· 100% mencapai setidaknya 300 volt.
Mereka sering gelisah, ingin berhenti, tapi akhirnya tetap menuruti instruksi.
Namun ada detail penting yang jarang diungkap: semakin otoriter instruktur, justru semakin banyak peserta yang menolak. Alasan sebenarnya banyak orang bertahan bukan semata karena “taat membabi buta”, tapi karena mereka ingin membantu sains, ingin berbuat baik.
Seorang ayah bahkan berkata dia terus bertahan karena berharap penelitian ini kelak bisa menolong anaknya yang sakit. Ironisnya, niat baik inilah yang justru menjerumuskan mereka. Jalan menuju neraka sering kali memang diaspal dengan niat baik.
2. Empati yang Salah Arah: Membela “Orang Kita”
Mengapa tentara Nazi berperang habis-habisan? Banyak yang mengira karena ideologi atau indoktrinasi. Tapi wawancara pasca perang menunjukkan alasan utamanya sederhana: “demi kawan seperjuangan.”
Mereka tidak ingin mengecewakan rekan satu regu. Dengan kata lain, empati mereka kuat — tapi terbatas hanya untuk kelompok sendiri.
Penelitian di Yale juga menunjukkan bayi berusia 6 bulan sudah bisa membedakan baik-buruk, dan cenderung memilih yang baik. Namun ada sisi gelapnya: bayi lebih suka boneka yang memiliki “selera sama” dengan dirinya (misalnya sama-sama suka biskuit). Bahkan kalau boneka itu jahat sekalipun, selama satu selera, bayi tetap menyukainya.
Artinya, sejak dini manusia sudah punya kecenderungan “pro in-group” (membela kelompok sendiri) dan anti pihak luar.
Inilah asal usul pepatah kuno: “Bukan dari kelompokku, pasti berbeda hati.”
3. Kekuasaan: Dari Pahlawan Jadi Tirani
Niccolò Machiavelli berpendapat: untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, pemimpin harus rela meninggalkan moral, bahkan bertindak tanpa rasa malu.
Kenyataannya, sejarah menunjukkan:
· Pemimpin di masa purba dipilih karena adil, murah hati, dan berani.
· Tapi begitu kekuasaan terkonsentrasi, semua orang akhirnya bisa terjerumus dalam korupsi.
Ada pepatah: “Pahlawan yang membunuh naga, pada akhirnya akan menjadi naga.”
Kekuasaan membuat orang kehilangan rasa malu, menjadi tak tahu batas. Bahkan orang yang dulunya baik bisa berubah wajah.
Sifat “anak anjing” dalam diri manusia adalah bisa merasa malu, bahkan wajah kita bisa memerah. Tapi pemimpin yang mabuk kekuasaan lambat laun kehilangan rasa malu itu.
Maka dalam dunia politik, sering kali yang bertahan di puncak bukanlah yang paling baik, melainkan yang paling tidak tahu malu.
Jadi, Apakah Manusia Baik atau Jahat?
Kesimpulan Bregman: tidak ada orang yang benar-benar merasa dirinya jahat. Setiap orang selalu punya alasan — entah demi ilmu, demi keluarga, demi bangsa, atau demi kelompoknya.
Kita menjadi “manusia baik” terutama untuk orang-orang yang kita anggap sebagai bagian dari diri kita. Tapi untuk “orang luar”, hukum yang berlaku sering kali berubah menjadi “hutan gelap” (dark forest rule).
Dengan kata lain:
· Kepada kelompok sendiri, kita adalah Planet A.
· Kepada orang luar, kita bisa berubah menjadi Planet B.
Pelajaran dari Buku Humankind
Buku ini mengingatkan: dunia tidak seburuk yang kita kira. Tapi kebaikan manusia sangat bergantung pada lingkaran kepercayaan yang kita bangun.
Jika kita terlalu sibuk mengonsumsi berita negatif, kita akan merasa hidup di Planet B dan terjebak mentalitas korban.
Sebaliknya, melatih rasa syukur dan melihat kesamaan dengan orang lain bisa memperluas lingkaran “kelompok kita.”
Mungkin itulah alasan mengapa menulis jurnal syukur disarankan oleh banyak psikolog:
· Bersyukur atas bantuan orang lain.
· Bersyukur atas apa yang kita miliki.
Dengan begitu, kita menyadari: aku dan kamu tidak berbeda. Kita semua sebenarnya “satu tim.” Kita semua hidup di Planet A. (jhn/yn)


