EtIndonesia. – Perang Rusia–Ukraina kini telah berlangsung selama 1.278 hari, memasuki tahun keempat sejak invasi penuh dimulai pada Februari 2022. Meski berbagai upaya internasional—termasuk mediasi langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump—telah dilakukan, jalan menuju gencatan senjata maupun perjanjian damai masih jauh dari kata pasti.
Ultimatum Trump: Dua Minggu untuk Rusia
Pada 22 Agustus, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Moskow. Ia memberi waktu dua minggu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menunjukkan kemajuan nyata dalam pembicaraan damai dengan Ukraina. Jika tidak, Washington akan segera menjatuhkan sanksi ekonomi baru yang lebih berat.
“Sekitar dua minggu lagi kita akan tahu apakah gencatan senjata mungkin terwujud. Jika tidak, saya tidak akan ragu mengambil langkah besar,” tegas Trump dari Oval Office, sambil menyatakan dirinya “sangat tidak puas” dengan situasi saat ini.
Trump sebelumnya bertemu Putin di Alaska pada 15 Agustus, namun gagal mempertemukan Putin dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Menurut Trump, permusuhan antara kedua negara sudah “terlalu dalam.”
Presiden Finlandia Alexander Stubb bahkan mengungkapkan bahwa kesabaran Trump “hampir habis.” Uni Eropa pun dilaporkan mulai menyiapkan skenario sanksi tambahan, mengantisipasi jika Rusia tetap menolak duduk bersama Zelensky.
Serangan Balik Ukraina di Donetsk
Sementara diplomasi jalan di tempat, di medan perang Ukraina terus menunjukkan agresivitas. Dalam lima hari terakhir, pasukan Kyiv berhasil merebut kembali tiga wilayah penting yang sebelumnya dikuasai Rusia, termasuk pemukiman strategis Zeleni Hai di barat Donetsk.
Bendera biru-kuning Ukraina kembali berkibar pada 22 Agustus, setelah pasukan marinir berhasil menyingkirkan sisa perlawanan Rusia. Keberhasilan ini memperkuat posisi Ukraina di sekitar Tolstoye dan memperluas jangkauan hingga ke Red Army Village serta Dobropillia. Intelijen Barat memperkirakan unit Rusia di sektor Donetsk berisiko terkepung total.
Di udara, jet tempur MiG-29 Ukraina menggunakan bom pintar GBU-62 buatan AS untuk menghantam titik konsentrasi pasukan Rusia. Gudang amunisi dan pusat komando unit drone elit Rubicon di Donetsk juga dilaporkan hancur akibat serangan rudal Ukraina.
Serangan Ukraina ke Krimea dan Wilayah Rusia
Pada 21 Agustus, Ukraina melancarkan serangan besar ke pangkalan udara Khersones di Sevastopol, Krimea, menghancurkan lima drone Rusia (tiga Mohajer-6 dan dua Forpost) serta memicu kebakaran besar.
Selain itu, Ukraina menargetkan jalur logistik vital Rusia. Kereta pengangkut bahan bakar di stasiun Tank-1 berhasil dihancurkan, memutus suplai di jalur selatan. Di wilayah Rusia sendiri, serangan drone Ukraina menimbulkan ledakan di stasiun kereta Petrovval, Volgograd, menambah daftar panjang infrastruktur Rusia yang lumpuh.
Rusia Tertekan: Pelabuhan, Bandara, dan Energi Jadi Sasaran
Dalam sepekan terakhir, serangan Ukraina menghantam jantung infrastruktur Rusia:
- Pelabuhan Ust-Luga, Laut Baltik – puluhan drone menghantam fasilitas energi; gudang gas dan tangki penyimpanan terbakar hebat (23 Agustus).
- Bandara Pulkovo, St. Petersburg – ditutup total; lebih dari 100 penerbangan dibatalkan atau dialihkan, bahkan sistem internet kota sempat terganggu.
- Kursk Nuclear Power Plant – trafo listrik terbakar akibat puing drone, kapasitas reaktor turun 50%.
- Rostov Oil Refinery – terbakar tiga hari berturut-turut; produksi minyak Rusia anjlok 10–15%, harga bensin domestik melonjak (AI-92 naik 1,3%, AI-95 naik 2,2%).
Korea Utara Resmi Ikut Perang
Kejutan besar datang dari Pyongyang. Pada 22 Agustus, televisi nasional Korea Utara menayangkan video Kim Jong-un menyambut jenazah tentara Korut yang tewas di Ukraina.
Rekaman lain menunjukkan pasukan Korut bertempur di wilayah Kursk, Rusia. Sebagian besar berusia sangat muda, 18–22 tahun. Para analis menilai ini sebagai bukti bahwa hubungan Moskow–Pyongyang telah naik ke level “aliansi darah.”
Teknologi Baru Ukraina di Medan Tempur
Ukraina kini juga menunjukkan keunggulan dalam inovasi persenjataan:
- Drone FP-1 – produksi massal 3.000 unit/bulan, murah (USD 55.000) namun mampu membawa 120 kg hulu ledak sejauh 1.600 km.
- Su-27 Ukraina – dilengkapi rudal decoy AS ADM-160B MALD untuk mengecoh radar Rusia.
- Rudal FP-5 “Firebird” – buatan dalam negeri, mulai diuji di medan tempur.
- JDAM-ER 1.000 pon – bom pintar presisi tinggi dijatuhkan di Donetsk.
Ancaman Nuklir Korea Utara
Laporan terbaru CSIS menyebutkan adanya pangkalan rudal rahasia Korut di Sinpo-dong, hanya 27 km dari perbatasan Tiongkok. Diperkirakan terdapat hingga 9 ICBM dan fasilitas penyimpanan hulu ledak nuklir.
Kekhawatiran muncul bahwa kerja sama Rusia–Korut akan mempercepat modernisasi nuklir Pyongyang. Kim Jong-un bahkan kembali mengancam akan menggunakan nuklir jika Korea Selatan atau AS “berani memprovokasi.”
Krisis Ekonomi Rusia: Defisit Terdalam dalam Sejarah
Selain tekanan militer, ekonomi Rusia kini berada di ambang krisis:
- Defisit anggaran 2025 diperkirakan 4,9 triliun rubel – tertinggi sepanjang sejarah.
- 40% APBN habis untuk biaya perang.
- Antrian panjang di SPBU; beberapa daerah mulai menerapkan sistem kupon bensin.
- Rubel melemah tajam, rakyat menarik tabungan besar-besaran pada Juli (setara 16 triliun rubel).
Kesimpulan
- Militer: Ukraina semakin agresif, menyerang hingga jantung energi dan logistik Rusia.
- Politik: Trump memberi ultimatum dua minggu, Rusia terancam sanksi tambahan.
- Internasional: Korea Utara kini secara terbuka terlibat perang, eskalasi global kian nyata.
- Ekonomi: Rusia menghadapi defisit bersejarah dan krisis energi domestik.
Perang yang semula diprediksi singkat kini berubah menjadi konflik global berkepanjangan dengan konsekuensi militer, politik, ekonomi, dan nuklir yang semakin berbahaya. (***)


