“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih diizinkan untuk hidup hingga hari ini,” kata koresponden Gedung Putih, Iris Tao
EtIndonesia. Dalam sebuah rapat kabinet di Gedung Putih, seorang reporter dari media saudari The Epoch Times menceritakan pengalamannya saat dirampok dengan todongan senjata di Washington DC.
Iris Tao, koresponden Gedung Putih dari New Tang Dynasty (NTD) Television, diminta oleh Presiden Donald Trump untuk membagikan kisahnya ketika ia menyoroti masalah kejahatan di Washington.
“Saya mendengar Anda dirampok dengan sangat brutal di kota ini, dan kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi di bawah pemerintahan ini,” kata Trump pada Selasa (26/8/2025) saat memperkenalkan Tao.
Tao kemudian mengenang bagaimana, pada suatu hari di Sabtu pagi dua tahun lalu, di siang bolong, seorang pria dengan masker ski hitam menodongkan pistol ke wajahnya dan menodong agar menyerahkan dompet, laptop, serta kata sandi ponselnya.
Pria itu memukul wajah Tao dengan gagang pistol ketika ia menolak, membuat pipinya memerah dan mati rasa.
Tao sebelumnya telah menuliskan pengalamannya dalam sebuah artikel opini di The Epoch Times. Di sana ia menulis bahwa sebagai seorang reporter, ia merasa harus melindungi informasi sensitif yang ia bawa.
“Saya merasa memiliki kewajiban besar untuk menjaga sumber saya, rekan kerja, dan orang-orang yang saya kasihi,” tulisnya.
Kepada Trump, Tao mengatakan bahwa insiden itu sangat membuat trauma dirinya dan keluarganya.
“Saya tidak pernah berani berjalan di jalanan D.C. pada malam hari lagi,” kata Tao.
WATCH: @IrisTaoTV shares a terrifying story of being held at gunpoint and pistol-whipped a few years ago in Washington, D.C.
— Rapid Response 47 (@RapidResponse47) August 26, 2025
"I'm very grateful to God … but also to Mr. President. Thank you for now making D.C. safer… on behalf of my parents, and now my baby on the way." ❤️ pic.twitter.com/KugIEjLAbu
“Insiden seperti itu bukan hanya melibatkan saya, tetapi juga keluarga saya. Jika dia menembak saya, saya bisa saja meninggal di tempat, sendirian tanpa keluarga atau teman, pada usia 23 tahun, saat baru memulai karier saya di D.C.”
Pada 11 Agustus, Trump menyatakan keadaan darurat kejahatan dan mengerahkan ratusan pasukan Garda Nasional ke ibu kota negara. FBI sejak itu telah melakukan lebih dari 1.000 penangkapan dalam upaya untuk “membersihkan Washington D.C.,” menurut direktur lembaga tersebut, Kash Patel. Garda Nasional dari negara bagian lain juga ikut membantu.
Dalam rapat tersebut, Trump mengatakan bahwa upaya 12 hari itu telah membawa “perbedaan besar di jalanan sekarang.”
“Saya punya banyak teman yang sekarang sering keluar makan malam di D.C.,” katanya. Dulu, menurutnya, “tidak ada yang mau pergi ke restoran, bahkan duduk di restoran pun enggan.”
Trump berterima kasih kepada Tao karena bersedia membagikan pengalamannya.
“Sungguh luar biasa Anda tidak tertembak,” katanya. “Anda ditodongkan pistol di kepala, dan Anda mungkin mengira dia akan menarik pelatuk, karena ini adalah orang-orang biadab yang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak peduli, mereka bisa saja menarik pelatuk tanpa pikir panjang.”
Sebagai tanggapan, Tao mengatakan bahwa ia merasa dirinya diberkati.
“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih diizinkan untuk hidup hingga hari ini,” katanya.
Polisi telah membuka penyelidikan atas kasus perampokan itu, tetapi Tao mengatakan ia tidak pernah mendapat kabar lebih lanjut, meskipun pria tersebut kemudian terlihat masuk ke sebuah apartemen tepat di sebelah rumahnya.
Hampir setiap hari, ia memilih pulang dengan Uber untuk menghindari berjalan dalam gelap, meskipun kantornya sebenarnya berada dalam jarak berjalan kaki.
Trump, setelah mengetahui bahwa pelaku masih bebas, meminta Tao untuk menyampaikan informasi tersebut kepada Jaksa Agung Pam Bondi, yang kini membawahi Departemen Kepolisian Metropolitan D.C. (MPD).
The Epoch Times telah menghubungi kepolisian Metropolitan D.C. untuk meminta komentar.
Laporan kejahatan dari MPD menunjukkan penurunan 27 persen kejahatan dengan kekerasan di Washington dibanding tahun lalu dan penurunan 8 persen dalam kejahatan secara keseluruhan. Departemen juga mencatat 100 kasus pembunuhan di distrik tersebut, turun dari 112 pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, Komite Pengawasan DPR AS yang dikuasai Partai Republik mempertanyakan keakuratan data tersebut. Pada 25 Agustus, komite itu meluncurkan penyelidikan atas dugaan manipulasi data. Ketua komite, James Comer (R-Ky.), mengutip perjanjian penyelesaian terbaru terkait tuduhan bahwa pejabat senior departemen telah memalsukan catatan untuk “menurunkan tingkat kejahatan yang dilaporkan secara artifisial.”
Pada 21 Agustus, Trump bertemu dengan aparat penegak hukum dan Garda Nasional di kota itu.
“Anda kerjakan tugas di bidang keamanan, dan saya akan membenahi tempat ini secara fisik, dan kita akan sangat bangga dengannya dalam enam bulan ke depan,” katanya.
Sehari kemudian, ia mengumumkan bahwa Chicago akan menjadi target berikutnya dalam penumpasan kejahatan.


