EtIndonesia. Apakah kamu benar-benar mencintai anakmu, atau sebenarnya ingin mengendalikannya?
Dalam mendidik anak, garis pemisah antara cinta dan kontrol sangat tipis. Banyak orangtua yang, atas nama cinta, menuntut anak untuk selalu patuh dan menurut. Namun tanpa sadar, sikap itu justru mempersempit ruang tumbuh anak, membatasi pilihan, bahkan melemahkan kepercayaan dirinya.
Penulis parenting Shang Ruijun, melalui pengalaman pribadi dan pengamatannya, menekankan bahwa orangtua harus memberikan anak kepercayaan dan ruang kebebasan yang cukup, agar mereka belajar disiplin secara bertahap. Dengan begitu, hubungan orangtua–anak pun menjadi lebih harmonis.
Orangtua Kehilangan Kebebasan, Anak Justru Mendambakan Kebebasan
Saat anak baru lahir, hidup orangtua seolah hilang kendali. Tidur berantakan, tidak ada waktu pribadi, bahkan mandi dan ke toilet pun dilakukan tergesa-gesa demi si kecil.
Banyak orangtua berkata: “Yang saya korbankan bukan hanya waktu malam, tapi juga kebebasan.”
Ketika anak mulai besar, orangtua rela mengorbankan kebebasannya demi anak. Namun, ketika anak memasuki masa remaja dan mulai mendambakan kebebasan, justru orangtualah yang sulit melepaskannya.
Pertanyaannya: setelah bertahun-tahun kita melepaskan kebebasan untuk anak, apakah kita sanggup memberi mereka kebebasan saat mereka menuntutnya?
Kebebasan dalam Hubungan Orangtua dan Anak
Filsuf Isaiah Berlin membagi kebebasan menjadi dua:
· Kebebasan negatif: hak untuk tidak diintervensi.
· Kebebasan positif: kemampuan untuk mengendalikan hidup dan mencapai tujuan.
Jika ini diterapkan pada pola asuh, bagaimana orangtua bisa menyeimbangkan?
Sejak bayi, anak selalu dipenuhi kebutuhannya. Menangis sedikit saja, orangtua langsung merespons. Namun ketika anak beranjak remaja, pola pengasuhan seharusnya berubah: dari mengendalikan menjadi melepas dengan bijak.
Seperti kata anak remaja penulis ketika ditanya:
“Katakan saja pada orangtua, jauhi anak sedikit. Jangan semua dikontrol.”
Melepas bukan berarti “membuang” atau “menyerah”, melainkan memberi anak ruang untuk mandiri. Seperti mengajarkan anak bersepeda: awalnya dibantu, tapi pada akhirnya harus dilepas agar ia bisa mengayuh sendiri.
Prinsip “Menangani Hal Besar, Melepas Hal Kecil”
Dalam mendidik anak, penting untuk tahu mana hal yang tidak bisa ditawar dan mana hal yang bisa diberi keleluasaan.
1. Hal yang dilarang hukum – tidak bisa ditawar.
Misalnya, anak di bawah umur tidak boleh mengemudi. Orangtua wajib menegaskan aturan, menjelaskan alasannya, dan menekankan bahwa aturan ada demi keselamatan.
2. Hal yang berdampak pada keluarga – perlu dibicarakan bersama.
Misalnya, rencana liburan harus disesuaikan dengan jadwal ujian anak. Semua anggota keluarga perlu saling menghormati dan mencari kesepakatan.
3. Hal yang hanya menyangkut anak – berikan ruang pilihan.
Misalnya gaya berpakaian atau rambut. Orangtua bisa berdiskusi, tetapi biarkan anak belajar bertanggung jawab atas keputusannya.
Tiga Sikap Orangtua: Tahan, Hentikan, Tunggu
Banyak masalah parenting muncul bukan karena anak, melainkan karena orangtua sulit menahan ego dan ekspektasi.
1. Tahan sejenak.
Ketika anak ingin memilih pakaiannya sendiri, biarkan. Itu bagian dari proses belajar mengendalikan tubuhnya.
2. Hentikan sejenak.
Jangan buru-buru menilai anak lambat, ceroboh, atau tidak sesuai standar kita. Hentikan dulu, lihat sisi positifnya.
3. Tunggu sejenak .
Saat anak bicara, jangan cepat memotong dengan nasihat. Dengarkan sampai selesai. Dengan begitu, lahirlah komunikasi yang sejati.
Mendampingi Anak Mengelola Emosi
Saat memasuki remaja, anak akan lebih emosional. Orangtua perlu mendampingi mereka mengenali dan memahami emosinya.
Penulis pernah marah ketika anaknya membentak. Namun kemudian dia menyadari, yang dibutuhkan anak saat itu bukan dimarahi, melainkan waktu untuk menenangkan diri. Dengan menunda respons, komunikasi yang terjadi justru lebih baik.
Dari Mengasuh hingga Saling Mengasuh
Seiring waktu, orangtua menua, anak pun tumbuh dewasa. Hubungan pun berubah dari “orangtua mengasuh anak” menjadi “anak dan orangtua saling mengasuh”.
Ketika orangtua memberi anak ruang untuk berkembang, anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan mampu membalas perhatian itu. Pada akhirnya, keluarga menjadi tempat aman bagi semua anggota.
Seperti yang dialami penulis, anaknya yang berusia 18 tahun sudah mulai ikut bertanggung jawab membantu adiknya, bahkan menulis ucapan menyentuh di Hari Ibu:
“Aku bersyukur menjadi anakmu. Terima kasih atas semua cinta dan pengorbananmu. Semoga Ibu bisa menjaga diri dan hidup bahagia.”
Inti Pesan
Pendidikan sejati bukanlah memaksa anak menjadi sosok orang yang sesuai dengan keinginan orangtua.
Pendidikan sejati adalah memberi cinta dan kepercayaan, agar anak bisa tumbuh menjadi dirinya sendiri.(jhn/yn)


