Pejabat dari badan intelijen utama Tiongkok memintanya mengumpulkan informasi tentang warga AS yang terkait dengan Falun Gong.
EtIndonesia. Pengadilan Tinggi Taiwan menjatuhkan hukuman kurungan selama 14 bulan kepada seorang mantan perwira militer karena upayanya mengumpulkan intelijen tentang Falun Gong demi Beijing.
Pria tersebut, Hsueh Chen-chun, meminta rincian tentang pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi, dan putrinya—keduanya warga negara AS—dari seorang penyidik Taiwan atas perintah dua pejabat intelijen Tiongkok, sehingga melanggar undang-undang keamanan nasional Taiwan.
Hsueh pernah menempuh pendidikan di sekolah taruna militer dan kemudian bertugas sebagai perwira senior Angkatan Udara Taiwan di Komando Pertahanan Udara dan Rudal.
Jaksa mengungkapkan, saat melakukan perjalanan bisnis ke Tiongkok pada 2014, Hsueh berkenalan dengan dua pejabat Kementerian Keamanan Negara Tiongkok bermarga Wang dan Zheng, yang mengidentifikasinya sebagai aset intelijen.
Keduanya berasal dari biro keempat badan intelijen Tiongkok yang bertugas menangani urusan terkait Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Mereka membiayai tiket pesawat Hsueh untuk perjalanan tersebut setelah ia berjanji akan mengumpulkan berbagai informasi, termasuk data tentang anggota kantor perwakilan de facto AS, American Institute in Taiwan, serta diplomat luar negeri Taiwan.
Salah satu permintaan dari keduanya adalah memperoleh rincian keluar-masuk sejumlah individu yang terkait dengan Falun Gong, sebuah disiplin spiritual yang berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.
Laporan dari lembaga pemantau hak asasi manusia dan kesaksian langsung menunjukkan upaya brutal rezim komunis Tiongkok untuk memberantas Falun Gong karena khawatir popularitasnya mengancam kekuasaan rezim.
Para praktisi Falun Gong yang menolak melepaskan keyakinannya sering menghadapi penganiayaan berat, termasuk hukuman penjara panjang, kerja paksa, bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa, di samping berbagai bentuk penyiksaan lainnya.
Putusan Taiwan pada 21 Agustus itu juga menegaskan jangkauan global dari upaya penindasan lintas negara partai komunis Tiongkok yang menargetkan kelompok tersebut.
Di Amerika Serikat, kementerian itu juga pernah melibatkan warga atau penduduk AS dalam aksi serupa, termasuk menyuruh seseorang menyuap IRS (Dinas pajak AS) agar membuka penyelidikan terhadap Shen Yun Performing Arts, sebuah kelompok seni yang didirikan praktisi Falun Gong untuk menampilkan “Tiongkok sebelum komunisme” dan mengungkap penganiayaan di Tiongkok modern. Di Finlandia baru-baru ini, seorang mantan pejabat Hong Kong yang kini menjabat wakil ketua badan penasihat politik tertinggi partai komunis Tiongkok, mengancam praktisi Falun Gong di sebuah stan informasi, hingga memicu kecaman dari kementerian luar negeri Finlandia.
Menindaklanjuti permintaan pejabat Tiongkok itu, pada 2018 Hsueh dua kali menemui seorang penyidik Biro Investigasi Kota New Taipei, Lai, yang saat itu merupakan teman sekelasnya ketika mereka menempuh program magister di Universitas Nasional Chengchi. Dalam pertemuan sambil makan, Hsueh menunjukkan daftar nama dan menawarkan intelijen kebijakan tingkat provinsi dan kota di Tiongkok sebagai imbalan atas informasi tersebut.
Ia kemudian membagikan foto kartu nama Lai kepada pejabat Tiongkok melalui aplikasi WeChat.
Hsueh berulang kali menyangkal tanggung jawab dan mengatakan bahwa dirinya terbiasa “membual” dan “asal bicara.”
Namun, Pengadilan Tinggi Taiwan menyatakan Hsueh seharusnya lebih tahu, mengingat tahun-tahun pendidikannya di sekolah taruna dan pengabdiannya di militer. Putusan tersebut menolak banding sebelumnya dari Hsueh dan bersifat final.
Sejak 2020, Taiwan telah menuntut hampir 160 individu terkait spionase Tiongkok, termasuk 95 perwira militer aktif dan pensiunan.
Mahkamah Agung Taiwan pada 21 Agustus juga menguatkan hukuman 26 bulan penjara terhadap seorang pilot Angkatan Udara, Shih Chun-cheng, karena membocorkan informasi pertahanan sensitif, termasuk detail tentang Hsiung Feng III, rudal supersonik jarak menengah yang dirancang untuk mencegah potensi invasi Tiongkok.


