Menjelang parade militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 3 September 2025, para warga pengadu petisi, aktivis hak-hak sipil, serta pengacara HAM di berbagai daerah kembali menghadapi tekanan stabilitas yang ketat. Suasana di Beijing belakangan ini semakin tegang, sejumlah stasiun kereta bawah tanah dipenuhi polisi dan tentara yang berpatroli sambil membawa anjing pelacak.
Kontrol ketat pihak berwenang memicu gelombang besar kemarahan rakyat. Warga menyalurkan kemarahan itu lewat sebuah “revolusi toilet”, di mana banyak toilet umum dipenuhi dengan slogan anti-PKT, seperti “PKT sudah seharusnya lenyap” dan “Gulingkan Xi Jinping”.
EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah video yang ramai beredar di media sosial luar negeri X menunjukkan pintu toilet umum di Beijing penuh dengan caci maki terhadap pemimpin PKT karena parade militer 3 September, serta dipenuhi slogan anti-komunis seperti “Tiran harus turun”, “Tiongkok butuh demokrasi dan supremasi hukum”, “PKT sudah seharusnya mati, 100 tahun perbudakan harus digulingkan”, dan sebagainya.
“Jenis slogan seperti ini adalah cara tersembunyi bagi rakyat untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial maupun terhadap pemimpin PKT. Karena sekarang di daratan Tiongkok kamera ada di mana-mana, jumlah kamera hampir lebih dari satu per orang. Tapi di toilet tidak mungkin dipasang kamera, masa iya orang dipantau saat buang air,” kata pengamat politik Zhang Tianliang.




Analisis menilai, metode protes seperti ini justru bisa menimbulkan efek psikologis yang menggentarkan rezim PKT.
Zhang Tianliang: “Menulis slogan-slogan seperti ini secara diam-diam di toilet adalah cara yang aman, tapi tetap memberi tekanan psikologis pada Partai Komunis. Saya rasa ini adalah metode perlawanan yang biayanya sangat rendah, tapi dampaknya sangat efektif.”
Seorang warga Beijing berkata: “Akhir-akhir ini di Beijing, kalau mau ke toilet umum saja harus pakai ‘real-name system’ (pakai identitas asli).”
💥風聲鶴唳!北京地鐵一節車廂臥三頭警犬 維穩場面似末日
— 大纪元新闻网 (@dajiyuan) August 26, 2025
📌9·3閱兵將至,北京維穩升級:地鐵車廂內三名公安牽三頭警犬鎮守,立交橋、長安街「三步一崗五步一哨」,還動員百萬「朝陽大媽」巡邏。網民嘲諷:「草木皆兵,做賊心虛!」… https://t.co/8EgCkIm9oV pic.twitter.com/uJ4o3ebjHG
Kabar di internet menyebutkan, di distrik pusat Beijing seperti Dongcheng, Xicheng, dan Chaoyang, toilet umum kini resmi menerapkan sistem identifikasi nama asli, warga harus memindai kode sebelum masuk.
Selain itu, setelah adanya petugas penjaga jembatan, petugas jaringan masyarakat, serta warga Chaoyang yang berpatroli, kini Beijing kembali membuka posisi baru “polisi toilet”. Warganet menyindir, ini adalah fenomena unik yang hanya ada di Beijing.
Namun, karena adanya blokade informasi dari PKT, berita-berita ini masih perlu diverifikasi lebih lanjut.
Menjelang parade militer PKT 3 September yang tinggal seminggu lagi, pengamanan di Beijing meningkat drastis. Banyak pengadu dari berbagai daerah diusir dan ditangkap, tak sedikit yang kehilangan tempat tinggal hingga terpaksa tidur di jalanan.
Seorang korban kasus Bank Desa Henan mengungkapkan: “Begitu identitas kita masuk sistem, polisi Beijing akan tahu, lalu menelepon pemilik hotel agar tidak menerima kita menginap, jadi kita diusir ke jalan. Setiap hari bisa terlihat ada pengadu yang dipaksa diseret dari jalanan Beijing. Mereka biasanya bawa mobil van, lalu beberapa anak muda yang tidak berseragam langsung mengangkat dan memasukkan ke dalam.”
Selain itu, sejumlah aktivis hak-hak sipil, akademisi oposisi, dan pengacara di berbagai daerah kembali menghadapi tekanan ketat: ada yang “dipaksa berwisata”, ada yang kebebasannya dibatasi dan dikurung ketat di rumah, bahkan ada yang dilaporkan hilang.
Pada 25 Agustus, seorang warga mengunggah video yang menunjukkan kereta bawah tanah Beijing yang biasanya padat, kini kosong melompong. Penumpang sangat sedikit, hanya deretan tentara dengan wajah kaku yang duduk di dalam. Bahkan, di beberapa gerbong, setiap pintu dijaga aparat bersenjata lengkap dengan anjing pelacak.
Sumber : NTDTV.com


