Putin Main Dua Kaki: Dekati Xi, Ancaman Balik ke Trump

EtIndonesia. Sejak Donald Trump bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, proses perundingan damai Rusia–Ukraina tidak menunjukkan perkembangan berarti. Namun, Financial Times melaporkan bahwa Eropa dan Ukraina telah menyiapkan sebuah “rencana keamanan” baru yang menandai upaya mencari jalan keluar dari kebuntuan.

Rencana Keamanan Eropa–Ukraina

Menurut laporan tersebut, rencana keamanan yang diajukan mencakup beberapa poin penting:

  • Zona demiliterisasi akan dibentuk di garis depan, dengan patroli pasukan penjaga perdamaian yang disepakati kedua pihak.
  • Pasukan Ukraina tetap diperbolehkan menjaga garis perbatasan di belakang zona demiliterisasi.
  • Pasukan pencegah Eropa akan disiagakan sebagai lapisan ketiga.
  • Amerika Serikat berperan dari belakang dengan menyediakan intelijen, sistem pengawasan, kendali komando, dan pertahanan udara.

Namun, menurut analis politik Lan Shu, pakar hubungan AS–Tiongkok, hal ini tidak bisa disebut sebagai terobosan. Dia menilai:

  • Pada awalnya Barat berharap perang akan berlanjut hingga kekuasaan Putin tumbang.
  • Kini, perhitungan berubah. Perang yang terlalu lama justru membebani sosial-ekonomi negara-negara demokrasi. Publik Barat pun semakin enggan menanggung biaya besar untuk Ukraina.

Putin ke Beijing: Menekan Trump dan Xi

Dalam perkembangan lain, Presiden Vladimir Putin dijadwalkan melakukan kunjungan selama empat hari ke Beijing mulai 31 Agustus 2025. Ini adalah langkah langka sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Analis geopolitik Jepang, Akio Yaita, menilai langkah ini penuh perhitungan:

  • Trump berusaha memisahkan Rusia dari Tiongkok.
  • Putin justru mendekat ke Beijing sebagai kartu tawar untuk menekan Trump, agar bisa ditukar dengan kesepakatan yang lebih menguntungkan.
  • Putin sekaligus menggunakan nama Trump untuk menekan Xi Jinping: jika Beijing tidak memberi konsesi besar, Moskow bisa saja berbalik mendekat ke Washington.

Namun, Trump sendiri memiliki keterbatasan. Dia menolak memperluas perang, tidak berniat mengirim pasukan AS, serta enggan menggelontorkan dana tambahan. Karena itu, hasil dari kunjungan Putin akan sangat bergantung pada seberapa jauh Xi Jinping bersedia memberi “keuntungan” kepada Moskow.

Ukraina Balik Menyerang Lewat Isu Vladivostok/Haishenwai

Di tengah manuver diplomatik ini, Ukraina juga memainkan kartu politik. Dalam pidatonya di PBB, perwakilan Ukraina menegaskan:

  • Ukraina tidak akan membiarkan Rusia menduduki wilayah mana pun.
  • Moskow sebaiknya memikirkan keamanan Haishenwai (Vladivostok) — wilayah di Timur Jauh Rusia yang pada masa lalu pernah diserahkan Tiongkok kepada Rusia.

Pernyataan itu memantik kehebohan karena Ukraina dengan sengaja menyebut nama “Haishenwai,” bukan “Vladivostok.” Dalam sejarah, istilah Haishenwai adalah simbol luka lama Tiongkok saat menyerahkan wilayah kepada Rusia. PKT (Partai Komunis Tiongkok) sendiri selama ini menghindari istilah itu di ruang publik karena dianggap memalukan.

Akibatnya, satu pernyataan Ukraina langsung mempermalukan Beijing sekaligus menekan hubungan Rusia–Tiongkok. Pemerintah Tiongkok buru-buru menuduh Ukraina melakukan provokasi, tetapi sikap defensif itu justru memperlihatkan kelemahan Beijing dalam isu sejarah.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine