Berbuat Baik Bisa Mengubah Nasib, Benarkah?

EtIndonesia. Satu tindakan kebajikan bisa membuka jalan bagi perubahan besar dalam hidup seseorang.

Saat kita terjebak dalam penderitaan, saat merasa nasib begitu tidak adil, bukankah kita sering berharap bisa segera keluar dari kesulitan itu dan hidup bahagia? 

Orang-orang bijak di masa lalu kerap mengatakan: “Menanam kebajikan dan berbuat baik dapat mengubah nasib.” 

Tetapi, di zaman modern ini, berapa banyak orang yang masih percaya?

Kini, banyak orang lebih suka mengejar uang cepat, bahkan dengan cara-cara berisiko: pinjaman berbunga tinggi, spekulasi, bahkan penipuan. Hasilnya? Masalah yang tadinya kecil justru makin besar, hidup semakin kacau, dan beban bertambah. Padahal, sejarah dan kisah nyata dari para tokoh membuktikan: menjaga moral dan berbuat baik justru bisa mengubah garis hidup.

1. Pei Du Mengembalikan Ikat Pinggang

Pei Du, kelak menjadi perdana menteri di zaman Dinasti Tang, pada masa muda hidup miskin dan berkali-kali gagal ujian negara. Suatu hari, dia meminta seorang biksu menilik nasibnya. 

Sang biksu berkata: “Wajahmu kurang baik, garis hidupmu tidak bagus. Nasibmu berat, bisa-bisa engkau kelak mati kelaparan di jalan.”

Pei Du sangat sedih. Dia pun pergi ke Kuil Xiangshan untuk menenangkan diri. Di sana dia melihat seorang wanita berdoa, lalu buru-buru pergi. Tanpa sengaja, wanita itu meninggalkan bungkusan berisi sebuah ikat pinggang giok dan dua ikat pinggang dari tanduk badak—harta yang nilainya sangat tinggi.

Pei Du sempat tergoda untuk memilikinya, tetapi dia berpikir: “Ini pasti untuk kebutuhan penting, mungkin bahkan untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Aku tidak boleh mengambilnya.

Maka dia menunggu wanita itu kembali.

Benar saja, menjelang malam, wanita itu datang dengan panik. Sambil menangis dia berkata, ayahnya ditahan karena difitnah, dan hanya bisa bebas dengan uang tebusan. Harta berharga itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa sang ayah.

Pei Du segera menyerahkan bungkusan itu tanpa mengambil sedikit pun. Wanita itu bersujud berterima kasih, bahkan memaksa agar dia menerima satu ikat pinggang, tapi Pei Du menolak.

Beberapa hari kemudian, sang biksu melihat wajah Pei Du kembali, dan kali ini berkata dengan penuh kagum : “Wajahmu berubah! Engkau telah berbuat kebajikan besar dengan menyelamatkan satu nyawa. Hidupmu kini penuh berkah. Masa depanmu akan mulia.”

Tak lama kemudian, Pei Du lulus ujian jinshi, kariernya melesat, hingga menjadi perdana menteri, memimpin pemerintahan lebih dari 20 tahun, dan meninggal di usia panjang—76 tahun.

2. Eisenhower Menolong Pasangan Lansia

Dwight D. Eisenhower, Presiden Amerika Serikat ke-34 sekaligus panglima tertinggi Sekutu di Eropa saat Perang Dunia II, juga memiliki kisah serupa.

Suatu hari, di tengah musim dingin bersalju, dia sedang menuju markas untuk rapat penting. Di perjalanan, dia melihat sepasang lansia Prancis kedinginan di pinggir jalan. 

Para ajudan menasihati agar jangan berhenti karena rapat sangat mendesak, tapi Eisenhower berkata: “Kalau kita menunggu orang lain, mereka sudah mati membeku.”

Dia turun, menolong mereka, memberikan selimut, lalu mengantar sampai ke rumah anak mereka di Paris.

Ternyata, keputusan itu juga menyelamatkan dirinya sendiri. Pada rute yang seharusnya dia lewati, pasukan Jerman telah menunggu dengan penembak jitu untuk membunuhnya. Karena dia terlambat akibat menolong lansia itu, nyawanya pun selamat—dan jalannya Perang Dunia II pun ikut berubah.

3. Bocah Pengemis Membangun Jembatan

Pada masa Dinasti Song, hakim agung Bao Zheng (Pak Bao) melewati sebuah desa dekat Kuil Taiping. Di sana ada seorang anak yatim berusia 12 tahun, cacat kakinya, hidup dari mengemis.

Meski miskin, hatinya penuh kebaikan. Dia melihat sungai besar yang tiap kali banjir membuat desa terisolasi. Ia pun bertekad membangun jembatan. Dengan tenaganya yang terbatas, dia setiap hari mengangkut batu dari gunung dan menumpuknya di tepi sungai.

Awalnya, orang-orang menertawakan. Tapi setelah bertahun-tahun, tumpukan batu itu menjadi bukit kecil. Akhirnya para warga tergerak untuk ikut membantu. Seorang dermawan bahkan menyumbang uang dan memanggil tukang untuk merampungkan jembatan.

Sayangnya, saat bekerja memecah batu, anak itu terkena serpihan dan kehilangan penglihatannya. Meski begitu, dia tetap berusaha. Setelah tiga tahun, jembatan akhirnya selesai. Namun tak lama setelah berjalan di atas jembatan yang baru, dia tersambar petir dan meninggal seketika.

Warga marah dan menilai Langit tidak adil. Bao Zheng yang lewat mendengar kisah itu, ikut bersedih. Dia menuliskan kata-kata di tangan bocah itu: “Lebih baik berbuat jahat daripada berbuat baik,” lalu pergi dengan hati getir.

Sesampainya di ibukota, dia dipanggil Kaisar untuk melihat bayi pangeran baru lahir yang terus menangis tanpa henti. Saat Bao Zheng mendekat, dia terkejut: di tangan sang bayi ada tulisan yang dia buat di tangan bocah pengemis itu. Hanya saja, bagi orang lain tulisan itu tampak seperti tanda lahir merah. Begitu Bao Zheng menghapus tulisannya, bayi pun langsung berhenti menangis.

Malamnya, Bao Zheng bermimpi pergi ke alam baka. Dia baru tahu bahwa bocah pengemis itu sebenarnya memiliki karma buruk tiga kehidupan: lahir cacat, buta, lalu mati disambar petir. Tapi karena dalam hidupnya dia berubah, berbuat baik membangun jembatan, neraka pun meringankan hukumannya. Seluruh utang karma tiga kehidupan ditebus sekaligus, dan dia dilahirkan kembali sebagai pangeran.

Kesimpulan

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia. Kadang balasan datang segera, kadang menunda untuk menghapus bencana yang lebih besar. Meski hidup terasa berat, jangan menyerah pada keputusasaan.

“Menanam kebaikan adalah jalan terbaik untuk mengubah nasib.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine