Pria 32 Tahun Tak Mampu Sewa Rumah di Beijing, Naik Kereta Cepat 6 Jam PP untuk Kerja

Seorang pria berusia 32 tahun tidak mampu menyewa rumah di kawasan Second Ring Road Beijing. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan dari Zhangjiakou ke Beijing dengan kereta cepat. Waktu pulang-pergi memakan 6 jam, dengan biaya transportasi bulanan lebih dari 4.000 yuan (sekitar Rp9 juta).

EtIndonesia. Blogger bernama “Commute Li Chengzi” mengunggah sejumlah video dengan judul “tantangan perjalanan kerja terjauh di internet.” Ia tinggal di Zhangjiakou, Hebei, dan bekerja di Distrik Xicheng, Beijing. Setiap hari ia menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh 400 kilometer.

“Sekarang jam 5.30 pagi, sebentar lagi matahari terbit. Saya harus bangun dan cuci muka,” katanya dalam salah satu videonya. “Jam 5.50 sudah siap, lalu diam-diam keluar rumah. Tetangga masih tidur, komplek perumahan sunyi sekali. Bagi para perantau di Beijing, bangun jam segini sebenarnya tidaklah terlalu pagi.”

Ia berkendara ke Stasiun Kereta Cepat Zhangjiakou, memarkir mobil di basement dengan tarif 2 yuan per jam. Ia lalu naik kereta cepat pukul 06.53 dan tiba di Stasiun Beijing Utara pukul 08.17.

Dalam video terlihat banyak penumpang yang turun, sebagian besar berlari kecil ke pintu keluar. Ia pun ikut mempercepat langkahnya. “Kebiasaan terburu-buru ini hanya bisa dipahami oleh para pekerja,” ujarnya.

Pukul 08.22 ia memasuki mal CapitaMall, bersama kerumunan orang yang berlari menuju stasiun metro agar tidak terlambat. Dari situ, ia hanya perlu menyeberang jalan untuk sampai ke kantornya. Paling lambat pukul 08.30 ia sudah tiba. Seluruh perjalanan pergi memakan waktu sekitar 3 jam.

Selain perjalanan berangkat, ia juga merekam perjalanan pulang. Dalam salah satu video ia berkata bahwa hari itu ia lembur 1,5 jam dan baru bisa pulang pukul 19.30, merasa sangat lelah dan lapar.

“Jalanan masih macet, orang juga banyak. Kalau dibandingkan, mungkin saya bisa sampai rumah lebih cepat daripada sebagian orang yang menyewa rumah di Beijing. Para perantau biasanya baru sampai rumah setelah jam 9 malam,” ujarnya.

Ia menaiki kereta cepat pukul 20.03 dari Beijing Utara dan tiba di Zhangjiakou pukul 21.05, lalu membayar 18 yuan untuk parkir sebelum pulang dengan mobil.

“Di perjalanan, anak saya berkali-kali mengirim pesan suara, menanyakan kapan saya pulang. Itulah motivasi saya menempuh perjalanan antarprovinsi ini,” katanya.

Ia menambahkan, dengan kondisi ekonomi Tiongkok yang sedang sulit dan pekerjaan yang makin langka, bisa tetap bekerja di Beijing setiap hari sudah merupakan sebuah keberuntungan.

Sekitar pukul 21.30, ia akhirnya tiba di rumah dan menutup hari panjang perjalanan pulang-pergi.

Video perjalanan 6 jam pulang-pergi pria itu menuai diskusi hangat. Banyak netizen mengatakan waktu tempuhnya lebih lama daripada jam kerja, dan memuji ketekunannya: “Benar-benar punya tekad, salut.”

Namun ada juga yang bingung, bertanya, “Kalau benar begitu, kenapa tidak sewa rumah saja? Kereta cepat dan mobil juga mahal, ditambah fisik sangat capek. Biaya komuter terlalu tinggi. Bukankah lebih baik sewa rumah?”

Ia menjawab di kolom komentar: “Sewa rumah di (Beijing) Second Ring Road terlalu mahal.”

Pada 28 Agustus, ia memberi keterangan kepada Jimunews. Pria bermarga Li itu berasal dari Zhangjiakou, berusia 32 tahun. Sejak 2015 ia merantau ke Beijing, dan sejak 2023 mulai melakukan perjalanan antarprovinsi setiap hari, sudah lebih dari dua tahun. Ia bangun pukul 05.30 dan tiba di rumah sekitar pukul 20.40.

“Saya menghabiskan sekitar 6 jam sehari untuk pulang-pergi, dengan biaya transportasi bulanan lebih dari 4.000 yuan. Banyak yang menyarankan saya menyewa rumah dekat kantor, tapi biaya sewa di Beijing sangat tinggi. Saya juga tidak suka tinggal bersama orang lain. Jadi saya pilih tetap komuter, demi bisa pulang setiap hari menemani keluarga. Walaupun melelahkan, di Zhangjiakou saya belum menemukan pekerjaan yang cocok dan belum berencana berhenti,” ujarnya.

Tuan Li menjelaskan, setiap pagi memang banyak perantau dari pinggiran Beijing berangkat kerja ke ibu kota, tapi dari Zhangjiakou hampir tidak ada, karena jaraknya terlalu jauh, sekitar 400 km pulang-pergi.

Istrinya menambahkan, sang suami bekerja di bidang komputer, yang sulit ditemukan pekerjaannya di Zhangjiakou. “Anak kami berusia lima tahun, sangat membutuhkan pendidikan dan kehadiran ayahnya. Karena itu, meski sangat lelah, suami saya tetap ingin pulang setiap hari untuk menemani anak.”

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine