EtIndonesia. Situasi perang Rusia–Ukraina kembali memanas setelah Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke ibu kota Kiev. Serangan rudal yang disebut Moskow “terarah dan presisi” justru menghantam kawasan sipil, termasuk kantor perwakilan Uni Eropa (UE) dan Inggris. Tragedi ini menewaskan sedikitnya 21 orang.
Serangan Mematikan di Jantung Kiev
Menurut laporan otoritas Ukraina, rudal Rusia pada 28 Agustus 2025 menghantam beberapa titik penting di pusat kota, termasuk gedung tinggi yang menampung kantor perwakilan Uni Eropa. Gambar dari lokasi memperlihatkan bangunan runtuh total dan kepanikan warga sipil yang mencoba menyelamatkan diri.
Uni Eropa menyebut serangan itu sebagai “aksi terencana” yang mencerminkan penghinaan total terhadap upaya perdamaian. Meski begitu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa target utama hanyalah fasilitas militer dan industri pertahanan Ukraina.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, tetap menegaskan bahwa Moskow “terbuka untuk perundingan damai”, meski operasi militer khusus masih berjalan. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Rusia mengumumkan perekrutan besar-besaran tentara kontrak guna memperpanjang ofensif.
Tuntutan Baru Rusia dalam Perundingan
Sehari setelah serangan, 29 Agustus 2025, Kremlin mengajukan syarat baru gencatan senjata. Selain menuntut pengakuan atas empat wilayah yang telah dianeksasi, Rusia juga meminta:
- Penguasaan sebagian besar garis depan di Zaporizhzhia.
- Penguasaan 25–30% wilayah Donetsk.
- Demiliterisasi Ukraina.
- “Denazifikasi” sebagai syarat ideologis.
- Status netral tanpa aliansi dan tanpa senjata nuklir.
- Pengakuan atas “realitas teritorial”.
- Perlindungan penuh bagi penutur bahasa Rusia.
Menurut analis politik, langkah ini menunjukkan strategi “dua muka” Vladimir Putin: menampilkan kesediaan berunding di depan publik, namun di balik layar tetap menekan Ukraina dengan kekuatan militer.
Zelenskyy Ajukan Tiga Syarat ke Barat
Menanggapi manuver Moskow, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menegaskan tiga syarat utama demi keamanan negaranya:
- Pertahanan berkelanjutan — Ukraina harus mempertahankan kekuatan militer dengan dukungan produksi senjata dari AS dan Eropa.
- Dukungan NATO dan sekutu — Barat harus siap membantu jika terjadi invasi baru.
- Sanksi terhadap Rusia — Tetap diberlakukan, termasuk pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan untuk rekonstruksi Ukraina.
Zelenskyy juga mengungkapkan konsentrasi pasukan Rusia di berbagai titik:
- 100.000 pasukan terkumpul di sekitar Pokrovsk.
- Unit udara berskala besar dikerahkan ke Zaporizhzhia.
- Pertempuran di Kharkiv dan Donetsk berlangsung “sangat sengit” dengan kerugian besar di pihak Rusia.
Dia menolak usulan beberapa pejabat Eropa terkait zona penyangga 40 km, menyebut konsep itu “usang” karena perang modern memungkinkan serangan jarak jauh dengan rudal dan drone.
Dukungan Militer AS untuk Ukraina
Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan 3.350 rudal jelajah udara jarak jauh senilai 825 juta dolar. Rudal ini memiliki jangkauan 240–450 km, lebih pendek dibandingkan Taurus buatan Jerman, namun jauh lebih murah dan bisa diproduksi massal.
Pendanaan paket ini ditanggung oleh Denmark, Belanda, Norwegia, dan program pembiayaan militer AS. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Washington tidak akan mengendurkan dukungan terhadap Kiev.
Kesimpulan
Serangan ke Kiev yang menghancurkan kantor perwakilan UE menandai eskalasi serius dalam konflik Rusia–Ukraina. Di satu sisi, Rusia terus menambah tekanan militer sambil mengajukan tuntutan berat dalam perundingan. Di sisi lain, Zelenskyy memperkuat posisi Ukraina dengan syarat tegas dan dukungan penuh dari Barat.
Perang ini tampaknya belum akan mereda. Justru, keseimbangan kekuatan semakin ditentukan oleh dukungan militer internasional dan keberanian diplomasi kedua belah pihak.


