EtIndonesia. Suatu hari, seorang pengemis berjalan perlahan masuk ke sebuah kuil.
Dia berlutut dan berkeluh kesah kepada patung Buddha: “Buddha, yang paling aku iri adalah dirimu. Engkau hanya duduk di aula besar, setiap hari ribuan orang datang mempersembahkan dupa dan makanan. Sedangkan aku setiap hari dihina orang, kelaparan, dan penuh penderitaan. Bukankah ini sangat tidak adil?”
Tiba-tiba, Buddha benar-benar menampakkan diri!
Melihat pengemis yang penuh keluhan itu, Buddha berkata: “Segala sesuatu di dunia ini memiliki sebab dan akibat. Jika engkau iri pada hidupku sehari saja, mari kita tukar peran. Engkau jadi Buddha sehari, dan aku jadi pengemis sehari. Tapi ada satu syarat: apa pun yang terjadi selama engkau duduk di altar, jangan sekali pun ikut campur.”
Pengemis tentu saja sangat senang, buru-buru menyetujui.
Hari Menjadi “Buddha”
Begitu Buddha pergi, pengemis langsung melahap habis sesaji di meja altar. Tak lama kemudian, seorang saudagar kaya (tuan tanah) masuk membawa persembahan.
Dia menyalakan dupa dan berdoa: “Usiaku hampir 50 tahun, tapi belum punya keturunan. Buddha, tolong berkati aku dengan seorang anak laki-laki.”
Pengemis ingin menjawab, tapi dia ingat pesan Buddha: tidak boleh ikut campur. Dia pun diam.
Saat saudagar pergi, tanpa sadar dia menjatuhkan kantong uang di altar.
Beberapa saat kemudian, seorang pemuda miskin yang akan mengikuti ujian ke ibukota datang berdoa.
“Buddha, aku sudah belajar bertahun-tahun. Sebulan lagi ujian besar. Tolong berkati aku agar berhasil.”
Ketika bersujud, pemuda itu melihat kantong uang. Dia mengira itu adalah hadiah dari Buddha karena tahu dia butuh ongkos perjalanan. Dengan gembira, dia mengambil kantong itu dan pergi.
Tak lama, seorang nelayan masuk, berdoa agar diberi keselamatan saat melaut. Bersamaan dengan itu, saudagar tadi kembali mencari kantong uangnya. Melihat hanya ada nelayan di sana, dia langsung menuduh nelayan sebagai pencuri.
Keduanya berselisih hebat, bahkan hampir dibawa ke pengadilan.
Pengemis Tak Tahan
Melihat hal ini, pengemis yang menyamar jadi Buddha tak tahan.
Dia pun “menampakkan diri” dan berkata: “Bukan nelayan yang mengambil uangmu, tapi pemuda miskin yang baru saja pergi!”
Saudagar pun menemukan uangnya di tangan sang pemuda, lalu membebaskan nelayan.
Pengemis merasa puas karena berhasil “berbuat baik”. Namun ketika Buddha kembali, dia menegur keras pengemis karena melanggar perjanjian untuk tidak ikut campur.
Sebagai hukuman, Buddha menjatuhkan vonis: “Karena melanggar aturan, engkau akan dihukum menjadi binatang beban kerja—sapi atau kuda—selama berulang-ulang kehidupan, tanpa bisa lahir sebagai manusia lagi.”
Mengapa “Tidak Boleh Ikut Campur”?
Pengemis tak terima, merasa dirinya justru menolong. Maka Buddha membawanya melihat masa depan tiga orang tadi:
· Pemuda miskin: meski akhirnya mengembalikan uang, dia tetap dicap pencuri. Nama baiknya hancur, cita-citanya gagal, hidupnya berakhir tragis.
· Saudagar kaya: karena menuduh orang sembarangan, dia menanam bibit karma buruk. Akibatnya, doa memohon anak tidak terkabul, dia seumur hidup kesepian, hartanya pun habis tanpa pewaris.
· Nelayan: meski sempat dituduh, jika tidak ada yang membelanya, dia akan dibawa ke pengadilan. Dengan begitu, dia lolos dari bencana besar: badai laut keesokan harinya yang akan merenggut nyawanya. Karena campur tangan pengemis, nelayan memang bebas, tapi akhirnya benar-benar tenggelam di laut.
Melihat semua itu, pengemis menunduk malu.
Buddha lalu berkata: “Segala sesuatu di dunia ini memiliki hukum sebab-akibat. Menarik satu helai rambut bisa mengguncang seluruh tubuh. Terkadang, yang terbaik adalah membiarkan segala sesuatu berjalan sesuai takdirnya.”
Pesan Moral
Legenda ini mengajarkan kita: tidak semua hal perlu kita intervensi, karena hukum sebab-akibat bekerja jauh melampaui apa yang terlihat di depan mata. Kadang campur tangan “demi kebaikan” justru membawa malapetaka yang lebih besar. (jhn/yn)


