Akhir Juli lalu, beberapa distrik di Beijing dilanda hujan deras dan banjir besar yang menimbulkan banyak korban jiwa. Pemerintah resmi hanya melaporkan puluhan orang meninggal dunia, tetapi warga setempat mengungkapkan bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi, sementara orang hilang tidak terhitung jumlahnya.
EtIndonesia. Pada 27 Agustus, seorang warga Miyun, Beijing, menulis kesaksiannya di situs Minghui, menceritakan pengalaman saat banjir besar melanda. Warga itu menyebutkan, saudara-saudaranya tinggal di desa-desa perbatasan Beijing–Hebei, wilayah yang paling parah terdampak, sehingga ia mengetahui kondisi sebenarnya.
Tulisan itu menyebutkan, hujan deras ditambah dengan pelepasan air waduk tanpa peringatan menyebabkan banyak desa di Hebei hingga Beijing tersapu air. Banyak orang hanyut terbawa arus dan jumlah orang hilang sama sekali tidak bisa dihitung.
Sebagai contoh, menurut penduduk setempat, saat pembersihan pasca-banjir, sebuah ekskavator ketika mengangkat pohon tumbang menemukan 17 jenazah di sebuah kubangan air. Pekerja yang terlibat pembersihan tidak sanggup melanjutkan karena pemandangan yang terlalu memilukan.
Di Panti Jompo Taishitun yang terkena dampak parah, pihak berwenang hanya melaporkan 30-an orang meninggal. Namun, warga desa setempat mengatakan jumlah korban sebenarnya mencapai setidaknya 62 orang.
Tulisan itu juga menyebut, di area hilir waduk, banyak warga yang sedang memancing atau bekerja di tepi sungai tersapu banjir secara tiba-tiba. Jumlahnya tidak pernah dihitung resmi. Yang tersisa hanyalah kabar dari mulut ke mulut: “si anu hanyut di sungai…”
Awal Agustus, di platform Xiaohongshu Tiongkok, warganet setempat menulis bahwa di Huairou jumlah orang hilang bahkan lebih banyak daripada Miyun. Banyak wisatawan dari luar daerah yang menginap di homestay atau berkemah di tepi sungai tersapu banjir:
- “Saya lihat ada satu keluarga tiga orang hilang.”
- “Saya dengar ada satu keluarga lima orang, termasuk seorang kakek, pasangan, dan dua anak, semua lenyap.”
- “Huairou banyak yang hilang, sangat banyak wisatawan.”
- “Saya rasa Huairou lebih parah daripada Miyun.”
- “Ada satu tempat camping, semua hilang, tidak dilaporkan.”
Warganet lain menulis:
- “Beberapa hari terakhir Sungai Baihe penuh dengan sampah yang terbawa arus, sekarang orang lebih fokus mengangkat jenazah daripada sampah.”
- “Di Jembatan Baihe, Miyun, sudah ditemukan beberapa mayat.”
- “Saya lihat ada tim penyelam, setiap hari mencari mayat. Mungkin nanti baru diumumkan setelah agak selesai.”
- “Di Liulimiaozhen, Huairou, ada lebih dari 50 orang yang hanyut.”
- “Hanya di Teluk Baihe saja katanya ada lebih dari 100 korban.”
- “Saya dengar di panti jompo ada lebih dari 80 korban.”
Banyak warganet berkata: “Data yang sebenarnya tidak akan pernah diumumkan ke publik. Tahun ini terasa lebih parah daripada banjir 7.21 (tahun 2012).”
Sejak 26 Juli, wilayah Yanqing, Huairou, Miyun, dan distrik lain di Beijing terus diguyur hujan lebat. Banyak waduk meluap. Menurut warga setempat, pada 27 Juli saja, sedikitnya 9 waduk di Miyun, Huairou, dan Pinggu serentak membuang air, menyebabkan 352 alur sungai pegunungan penuh banjir bandang. Banyak area terendam, jalan raya dan jembatan hanyut, air, listrik, dan jaringan komunikasi terputus.
Pada 31 Juli, otoritas Beijing mengumumkan bahwa hingga pukul 12.00 siang, korban tewas mencapai 44 orang dan 9 orang hilang. Dari jumlah itu, 37 orang tewas di Miyun, termasuk 31 korban dari Panti Jompo Taishitun. Namun, angka resmi ini langsung menuai keraguan luas dari publik.
Sumber : NTDTV.com


