Peristiwa proyeksi spanduk raksasa anti-Komunis di kawasan Universitas Chongqing menarik perhatian luas. Kabar menyebutkan bahwa sosok pemberani ini telah membawa seluruh keluarganya kabur ke luar negeri. Sebelum pergi, ia bahkan meninggalkan sebuah surat terbuka kepada otoritas Tiongkok di kamar hotel.
EtIndonesia. Pada 29 Agustus pukul 22.00, di dinding luar sebuah gedung di kawasan Xijie, Universitas Chongqing, muncul beberapa spanduk proyeksi raksasa dengan isi:
- “Tanpa Partai Komunis, barulah ada Tiongkok Baru; kebebasan bukan pemberian, harus direbut kembali.”
- “Bangkitlah, wahai mereka yang tak ingin jadi budak, bangkit melawan dan rebut kembali hakmu.”
- “Tumbangkan Fasisme Merah, gulingkan tirani Partai Komunis.”
- “Kami mau kebenaran, bukan kebohongan; kami mau kebebasan, bukan perbudakan; tirani Partai Komunis harus turun.”
Akun media independen daratan bernama “Yeseterday” pada 30 Agustus menulis bahwa perangkat itu dipasang lebih awal di sebuah hotel. Meski ia mendaftar hotel dengan identitas asli, kini ia bersama keluarganya sudah meninggalkan Tiongkok dan berada di luar negeri.
Menurut akun itu, sebelum pergi, sang pahlawan meninggalkan sepucuk surat di lokasi. Dalam suratnya, ia meminta polisi yang menemukannya agar tidak menyeret orang tak bersalah dan jangan ikut membantu kejahatan rezim. Dari isi surat, diketahui ia sudah menginap di Hotel Mama, Universitas Chongqing, sejak 16 Agustus, dan di sana ia memasang perangkat sekaligus meninggalkan surat tersebut.
Selain itu, pahlawan ini sebelumnya juga pernah menulis pernyataan anti-Komunis di WeChat Moments.
Pada 29 Agustus pukul 23.07 malam (waktu daratan), ia menghubungi admin akun “Yesterday” setelah proyeksi selesai. Ia memberitahu bahwa meski menginap dengan identitas asli, ia dan keluarganya sudah selamat tiba di Eropa. Namun, polisi daratan sudah mendatangi kerabatnya.
Ia juga mengirimkan tangkapan layar dari tulisannya di WeChat pada 22 Mei: “Penutup WeChat Moments: Mau demokrasi, bukan kediktatoran! Mau negara hukum, bukan hukum atas manusia! Mau kebenaran, bukan cuci otak! Mau kebebasan, bukan perbudakan! Tolak jadi rakyat bodoh, saatnya sadar!”
Saat menanggapi komentar teman, ia menulis: “Aku tahu ini tidak ada gunanya, aku pun tidak bisa berbuat banyak. Ada yang menertawakan, ada yang memaki, ada yang bisa merasakan. Tapi ini seperti api kecil, meski tak bisa jadi kobaran besar, ia akan meninggalkan jejak. Mungkin suatu hari ia akan menyala. Bagi diriku sendiri, di jalan panjang reinkarnasi, aku hanya ingin terus meningkatkan kualitas hidup rohaniku, bergerak menuju cahaya. Menanam apa yang kutanam, menuai apa yang kutanam. Hingga tiba di seberang sana. Jika kita tak bisa hidup normal sepenuhnya, setidaknya kita harus berusaha agar tidak hidup seperti hewan.”
Menurut laporan, aksinya menggunakan satu proyektor luar ruangan, tiga kamera pengawas, satu saklar jarak jauh dengan timer, sebuah router, dan satu kartu SIM.
Sekitar 50 menit setelah proyeksi berlangsung, polisi lokal menemukan kamar hotel dan mematikan perangkat. Di meja kamar hotel, polisi menemukan surat tulisan tangan yang ditinggalkan sang pahlawan sebelum pergi.
Warganet ramai berkomentar:
- “Cara proyeksi pakai lampu sorot seperti ini sangat bagus!”
- “Ini mengingatkan pada kisah seorang pemuda Shandong yang dulu dari Amerika mengendalikan proyektor jarak jauh untuk menayangkan spanduk anti-Komunis di sebuah alun-alun di Jinan. Benar-benar contoh nyata: pemerintah menekan, rakyat pun melawan.”
- “Kalau tiap provinsi bisa bergerak bersama, Partai Komunis pasti tumbang!”
- “Jangan biarkan sang pemberani ini sendirian, mari kita ingat, dukung, dan sebarkan tindakannya. Mari doakan dia serta keluarga dan sahabatnya.”
Ini adalah insiden politik anti-Komunis kedua di Tiongkok yang menggunakan perangkat otomatis lalu segera kabur ke luar negeri.
Pada 2023, menjelang sidang Dua Sesi Partai Komunis, di dinding luar mal Wanda Plaza Jinan, Shandong, juga sempat muncul proyeksi bertuliskan “Tumbangkan Partai Komunis, tumbangkan Xi Jinping,” yang menarik perhatian besar. Pelakunya, Chai Song, menekan tombol proyektor secara jarak jauh setelah ia sudah berada di luar negeri.
Sumber : NTDTV.com


