Balasan untuk Anak yang Tak Berbakti

EtIndonesia. Tidak berbakti pada orangtua, menyakiti orangtua lanjut usia—apakah langit (Tuhan) akan membiarkan begitu saja?

Ketika Xiao Li pulang ke kampung halamannya, dia mendengar kabar bahwa anak ketiga dari seorang paman di desanya meninggal. Dia tewas tertabrak mobil, usianya baru tiga puluhan, bahkan belum menikah.

Yang mengejutkan, orang-orang di desa membicarakan kematiannya seolah hanya membicarakan kematian seekor babi. Tidak ada sedikit pun rasa iba. Bahkan beberapa orang tua di kampung itu dengan geram berkomentar: “Itu balasan!”

Sosok yang Ramah, Tapi Tak Berbakti

Anak paman itu sebenarnya masih lebih muda sedikit dari Xiao Li. Di mata Xiao Li, dia tampak polos dan sederhana. Jika tetangga meminta bantuan, dia mau membantu tanpa banyak perhitungan. Dengan siapa pun dia bisa bergaul. Namun, hanya terhadap orangtuanya, dia begitu kejam. Gosip tentang dirinya memukul dan memaki orangtua sudah menjadi rahasia umum di desa.

Suatu kali Xiao Li pulang, dia melihat si paman dengan wajah penuh luka. Awalnya dia kira pamannya jatuh karena mabuk. Tak disangka, sang paman justru marah-marah, berkata bahwa luka itu akibat dipukuli anaknya sendiri. Hanya karena sebuah perdebatan kecil, sang anak tega mendorong ayahnya yang sudah berusia tujuh puluhan hingga terjatuh di ambang pintu, lalu menghajarnya.

Bagaimana mungkin tubuh renta bisa menahan pukulan dan tendangan dari anak laki-laki yang masih muda dan kuat? Akibatnya bisa ditebak—penuh luka dan penderitaan.

Balasan dari Masa Lalu

Xiao Li menceritakan kejadian itu pada ayahnya. Sang ayah hanya menggeleng dan berkata tanpa rasa iba: “Itu balasan! Dulu dia (si paman) juga memperlakukan ayahnya begitu. Sekarang dia merasakan sendiri.”

Memang, reputasi sang paman sejak muda tidak baik. Dia malas bekerja, suka bermalas-malasan, dan sangat tidak hormat pada orangtuanya. Xiao Li masih ingat, waktu kecil, ketika keluarganya mendapatkan jatah daging dari tim produksi, ayahnya selalu mengajak kakek si paman untuk makan bersama. Di meja makan, sang kakek sering menitikkan air mata, lalu berkata lirih: “Kamu lebih baik dari anakku sendiri…”

Bahkan pernah ada kejadian lebih kejam—hanya demi sepotong daging kambing, si paman sampai mendorong ayahnya sendiri ke dalam gentong air. Sejak saat itu, Xiao Li selalu menaruh rasa tidak hormat kepadanya.

Siklus Takdir yang Tak Terhindarkan

Akhirnya, si paman yang dulu tak berbakti kepada orangtuanya, kini juga mengalami hal serupa dari anaknya sendiri. Dan sang anak—yang tak pernah menghormati ayahnya—akhir hidupnya pun tragis: meninggal muda di jalanan, sebelum sempat menikah.

Kisah nyata tentang keluarga yang menelantarkan orangtua lalu mendapat balasan ini sudah menyebar ke seluruh desa. Dia menjadi pelajaran hidup tentang hukum sebab-akibat: siapa yang menanam keburukan, akan menuai keburukan.

Pesan Kehidupan

Orang bijak berkata: “Dari selaksa kebaikan, berbakti adalah yang pertama.”

Nilai berbakti telah diwariskan ribuan tahun sebagai fondasi kebahagiaan keluarga. Sebaliknya, anak yang durhaka dan orang yang menyakiti orang tua lanjut usia takkan pernah lolos dari balasan.

Hidup ini bukan tanpa aturan. Langit (Tuhan) memiliki mata. Siapa yang tidak berbakti, siapa yang menyakiti orang tua—tak seorang pun akan dilepaskan begitu saja. Kita, manusia, sepatutnya sadar dan waspada sebelum terlambat.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine