Pada 1 September 2025, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un diduga menaiki kereta khusus menuju Beijing. Saat ini, perjalanan kereta dari Dandong ke Beijing sudah dihentikan. Seorang netizen juga merekam pada 31 Agustus, sebuah lokomotif menarik gerbong tertutup milik perkeretaapian Korea Utara melintasi Jembatan Perbatasan Tiongkok–Korea di atas Sungai Yalu. Tanda-tanda ini tampaknya berkaitan dengan langkah pengamanan perjalanan Kim Jong Un.
EtIndonesia. Sistem tiket kereta resmi Tiongkok “12306” menunjukkan bahwa pada 1–2 September, tiket kereta dari Kota Dandong, Provinsi Liaoning, menuju Beijing dihentikan penjualannya. Kereta tersebut biasanya berangkat pukul 18.18 dari Dandong dan tiba di Beijing pukul 08.00 keesokan paginya.
Selain itu, Hotel Zhonglian di Dandong belakangan ini juga berhenti menerima reservasi dari orang asing. Hotel ini memiliki pemandangan langsung ke jembatan perbatasan Dandong–Sinuiju di atas Sungai Yalu.
Bersamaan dengan itu, seorang netizen Tiongkok pada 31 Agustus merekam kereta api menarik gerbong Korea Utara melintasi jembatan perbatasan tersebut.
Tanda-tanda tidak biasa ini memicu spekulasi bahwa hal itu mungkin terkait perjalanan Kim Jong Un dengan kereta khusus menuju Beijing.
Jarak dari Dandong ke Beijing sekitar 800 km melalui jalur darat, atau sekitar 1.000 km jika menggunakan jalur kereta cepat. Namun, kereta khusus Kim Jong Un hanya melaju dengan kecepatan rata-rata 50–60 km/jam, sehingga butuh 16–20 jam untuk mencapai Beijing. Karena itu, ia harus berangkat pada 1 September agar bisa tiba di Beijing sehari sebelum parade militer Partai Komunis Tiongkok pada 2 September.
Menurut informasi resmi Rusia, pada parade militer 3 September, Presiden Rusia Vladimir Putin akan duduk di sisi kanan Xi Jinping, sementara Kim Jong Un di sisi kirinya. Susunan tempat duduk itu menuai sindiran publik, sebab Putin saat ini berstatus buronan internasional, sedangkan Kim Jong Un dikenai sanksi internasional.
Sebelumnya, Kim Jong Un sudah empat kali mengunjungi Tiongkok, pada 2018 dan 2019, dengan menggunakan kereta khusus menuju Beijing.
Pada 2018 ia sempat menggunakan pesawat khusus “Chammae-1”. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia tidak lagi menggunakan pesawat, sehingga kemungkinan besar kali ini ia kembali bepergian dengan kereta khusus.
Mantan pejabat Korea Utara yang kini menjadi penasihat khusus di Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Gao Young-hwan, pernah mengatakan bahwa rezim diktator Korea Utara sejak era Kim Il Sung selalu khawatir pesawat akan ditembak jatuh, sehingga memilih perjalanan dengan kereta api. Kebiasaan ini kemudian diteruskan oleh Kim Jong Il dan Kim Jong Un.
Ia juga mengungkapkan bahwa Kim Jong Un enggan naik pesawat bukan hanya karena takut ditembak jatuh, tetapi juga karena pesawat yang dimilikinya sudah tua dan jarang dirawat. “Kalau terjadi masalah di udara, tamatlah riwayatnya,” ujarnya.
Menurutnya, keluarga Kim sangat takut mati. Karena itu, kereta khusus mereka tidak hanya dilapisi baja antipeluru, tetapi juga dilengkapi rudal darat-ke-udara untuk mencegah serangan udara.
Laporan sebelumnya menyebut, setiap kali Kim Jong Un bepergian, ia sangat berhati-hati. Karena khawatir akan upaya pembunuhan, ia lebih memilih kereta lapis baja yang berjalan lambat dengan pengawalan ketat dibandingkan pesawat. Rombongan besar pengawal selalu menyertainya.
Pada September 2023, saat Kim Jong Un bertemu Putin, kereta khususnya membutuhkan hampir empat hari perjalanan untuk tiba di Rusia.
Sumber : NTDTV.com


