Kementerian Pertahanan Israel pada Minggu (31 Agustus) mengkonfirmasi bahwa militer Israel telah menewaskan juru bicara Hamas, Abu Ubaida, yang bersembunyi di Kota Gaza. Ia menjadi corong Hamas selama 20 tahun, dikenal karena ucapannya yang penuh kebencian terhadap Israel. Bersamaan dengan itu, militer Israel meningkatkan serangan ke pinggiran Kota Gaza, bersiap untuk menghantam basis utama Hamas.
Etindonesia. Dengan kepala selalu tertutup rapat oleh selendang merah, dan sering tampil di layar dengan kata-kata tajam membakar kebencian terhadap Israel—itulah Abu Ubaida, juru bicara Brigade Qassam Hamas. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh paling simbolis dalam organisasi Hamas.
Kementerian Pertahanan Israel memastikan bahwa Ubaida, yang bersembunyi di Kota Gaza, telah tewas dalam operasi militer. Pidato terakhirnya terjadi pada Jumat (29/8) lalu.
Israel menuduh media yang dipimpin Ubaida melakukan teror psikologis terhadap rakyat Israel. Dalam video terakhir yang dirilis, sandera Israel tampak kurus kering dan memohon dibebaskan.
Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel hampir membunuh semua pemimpin utama Hamas, termasuk pemimpin tertinggi mereka, Yahya Sinwar.
Pada Mei tahun ini, militer Israel mengumumkan bahwa penggantinya, adiknya Mohammad Sinwar, juga telah tewas. Baru pada Minggu lalu Hamas mengeluarkan pernyataan yang mengkonfirmasi kematian Sinwar.
Selain menghantam pimpinan Hamas, Israel juga tidak memberi ampun terhadap rezim teroris Houthi di Yaman, yang kerap menyerang kapal dagang di Laut Merah. Perdana Menteri Houthi, Ahmad Ghaleb al-Rahwi, bersama sejumlah menteri lainnya tewas dalam serangan Israel beberapa hari lalu.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan: “Sudah sejak lama saya berjanji kepada kalian dan rakyat Israel bahwa Houthi akan membayar mahal atas agresinya terhadap negara Israel. Ini baru awal dari serangan terhadap para pejabat tinggi di Sanaa (Yaman). Kami akan menghantam mereka satu per satu.”
Minggu lalu, langit di pinggiran Kota Gaza dipenuhi asap hitam. Menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 30 orang tewas dalam serangan udara tersebut. Saat ini, militer Israel bersiap melancarkan serangan ke Kota Gaza dengan target menghancurkan markas besar Hamas sepenuhnya.
Israel menyerukan semua warga sipil untuk segera meninggalkan Kota Gaza demi keselamatan mereka, dan pindah ke wilayah lain di Jalur Gaza.
Mengenai masa depan Gaza, Washington Post pada Minggu mengungkap bahwa pemerintahan Trump sedang merancang rencana pasca perang. AS berencana mengelola Gaza yang hancur akibat perang itu selama sedikitnya 10 tahun, dengan dana 100 miliar dolar AS untuk membangun kembali wilayah tersebut menjadi pusat pariwisata dan industri manufaktur.
Dalam aspek keamanan, kemungkinan akan ditempatkan tentara bayaran dari negara ketiga untuk menjaga ketertiban, namun Israel tetap akan memegang kendali keamanan secara keseluruhan.
Sumber : NTDTV.com


