EtIndonesia. KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) menjadi sorotan global, terutama karena keterlibatan kuat delegasi Rusia, yang membawa tiga wakil perdana menteri, belasan menteri, serta delegasi dari perusahaan-perusahaan besar. Media Tiongkok menyanjung kemitraan Beijing–Moskow sebagai yang “terbaik sepanjang sejarah,” namun dinamika sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Sorotan Utama: Kehadiran Rusia yang Tangguh
Kehadiran Putin dengan tim inti tingkat tinggi menggambarkan betapa pentingnya Rusia bagi SCO dan peran strategis yang dipegangnya dalam blok regional ini
Figur-figur seperti PM India, Narendra Modi dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan juga turut hadir, memantapkan dimens kebijakan geopolitik SCO yang semakin menjauh dari Barat
Narasi Media Tiongkok vs Realitas
Media resmi Tiongkok menampilkan hubungan Beijing–Moskow sebagai puncak sejarah diplomatik. Namun, kata pengamat, narasi itu tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Wacana Tiongkok dan Perang Ukraina
- Pernyataan Reuters, tiga hari sebelum KTT: Seorang pejabat Rusia menyebut bahwa “Jika bukan karena Tiongkok, kami bahkan tak mampu membuat satu rudal pun, apalagi drone. Ekonomi kami sudah lama kolaps.” Sumber tersebut menuduh Beijing tidak menginginkan perang Rusia–Ukraina segera berakhir.
- Pernyataan Menlu Tiongkok Wang Yi (Juli 2025): Dalam pertemuan informal dengan diplomat UE pada 3 Juli 2025, Wang Yi menyatakan bahwa Beijing “tidak ingin Rusia kalah” dalam perang Ukraina, karena berisiko membuat Amerika Serikat mengalihkan fokus ke Asia, khususnya Tiongkok.
- Analisis dari laporan internasional menyebut bahwa posisi Tiongkok tidak untuk menghentikan konflik; melainkan cukup mendukung untuk menjaga Rusia agar tidak tumbang, tanpa memperlihatkan sinyal akhir permusuhan. Ini mengisyaratkan bahwa Beijing memperoleh keuntungan strategis dari berlarutnya konflik.
SCO sebagai Panggung Geopolitik
KTT SCO kali ini disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah blok tersebut, dan merupakan ajang jelas bagi Xi untuk memperkuat visinya terhadap “tatanan dunia multipolar” yang menantang dominasi AS
Xi bahkan menyampaikan inisiatif global governance baru, termasuk pembangunan bank pembangunan SCO
Putin juga menggunakan forum ini untuk menuduh Barat memicu perang Ukraina dan mengecam sanksi sebagai langkah diskriminatif
India mengadopsi posisi lebih seimbang—tetap menjalin hubungan dengan ketiga kekuatan besar (Tiongkok, Rusia, dan AS), meski menolak beberapa deklarasi bersama karena dianggap berat sebelah
Mengapa Perang Masih Berlangsung? Tinjauan Geostrategis
- Ketergantungan Rusia pada Tiongkok
Rusia sangat bergantung pada ekosistem industri dan energi Tiongkok. Ekspor minyak dan batu bara ke Tiongkok meroket pada 2024, memperkuat dominasi ekonomi Tiongkok atas Rusia - Manfaat Strategis Konflik bagi Tiongkok
Rusia sebagai daya tarik Barat mengalihkan perhatian dari Asia–Pasifik, memungkinkan Beijing fokus pada ambisi regional seperti Taiwan dan infrastruktur global - Retorika Perdamaian, Praktik Prolongasi
Meski Tiongkok berbicara tentang damai dan mengusulkan “12‑point peace plan”, upaya konkret untuk mengakhiri perang tetap terbatas. Proposal tersebut dianggap menguntungkan Rusia karena tidak menuntut penarikan penuh pasukan - Optik Persatuan Global South
SCO dan parade militer Victory Day klik untuk memperkuat citra solidarity antara non‑blok barat dalam menghadapi tekanan AS dan Barat
Kesimpulan
Sementara media Tiongkok menonjolkan hubungan bersahaja antara Beijing dan Moskow, data nyata dan analisis internasional menunjukkan peran strategis Tiongkok dalam memperpanjang perang. Pernyataan Reuters dan diplomatik Wang Yi memperkuat kesan bahwa Tiongkok tidak semata ingin perdamaian, tetapi juga menjaga konflik tetap berjalan demi menjaga keamanan dan posisi globalnya.


