EtIndonesia. Situasi di medan tempur Ukraina–Rusia memasuki fase yang semakin menegangkan. Pasukan Ukraina dalam beberapa hari terakhir melancarkan serangan balik besar di dua arah utama, yakni Sumy dan Kharkiv, dengan hasil yang mulai terlihat di peta pertempuran.
Serangan Balik di Darat
Menurut laporan jurnalis militer, Ukraina berhasil merebut kembali tiga wilayah penting: kawasan Mirne dan Sobolivka di Kharkiv, serta bergerak mendekati pinggiran desa Radkivka. Serangan dilakukan menggunakan kendaraan tempur BMP-ETS, meski sempat terkena tembakan artileri Rusia. Pasukan Ukraina tetap bertahan, menunjukkan intensitas dan kegigihan pertempuran di garis depan.
Dominasi Serangan Udara
Selain pertempuran darat, Angkatan Udara Ukraina melancarkan operasi intensif.
- Jet tempur MiG-29 menggempur posisi Rusia dengan bom presisi ASM “Hammer”, digambarkan bagaikan “hujan deras”.
- Di Donetsk, jet Su-27 menjatuhkan bom luncur yang menghancurkan markas komando Rusia, memicu ledakan besar.
- Di Tokmak, sistem roket HIMARS menghantam kendaraan pengangkut pasukan Rusia, termasuk APC MPLB, yang langsung hancur seketika.
Infrastruktur Energi Rusia Jadi Target
Pada 29 Agustus 2025, Ukraina melancarkan serangan ke fasilitas energi Rusia. Sasaran utama adalah stasiun bahan bakar besar di Bryansk, yang memasok 10,5 juta ton diesel per tahun bagi militer Rusia. Ledakan beruntun memicu kebakaran besar.
Serangan serupa juga diarahkan ke:
- Pipa minyak Druzhba
- Kilang Seslan di Samara
- Kilang Krasnodar
Selain itu, jalur kereta api di Krasnodar dan basis udara Engels di Saratov ikut menjadi target, dengan laporan serangan drone berulang kali.
Perang Drone dan Rudal
Data per 31 Agustus 2025 menunjukkan skala pertempuran tanpa henti:
- Rusia meluncurkan 142 drone ke Ukraina, 126 berhasil ditembak jatuh.
- Ukraina melancarkan hampir 100 drone ke wilayah Rusia, menyerang Moskow, Oryol, Voronezh, hingga Krimea.
- Gudang di Balashikha (Moskow), kilang Seslan dan Krasnodar, serta pabrik bahan peledak di Tula mengalami kerusakan.
- Di Krimea, sistem radar S-400 Rusia hancur, lapangan terbang dibom, dan beberapa helikopter serta kapal serbu ikut musnah.
Dukungan Barat Mengalir
Bantuan militer dari Barat semakin memperkuat Ukraina:
- Jerman menyerahkan sistem pertahanan udara Iris-T SLM kedelapan.
- AS menyetujui penjualan senjata senilai 8,5 miliar dolar, termasuk enam sistem Patriot tambahan.
- Denmark turut menanggung biaya, sementara Belgia berjanji mengirim jet tempur F-16.
- Uni Eropa membahas mekanisme keputusan berbasis suara mayoritas untuk menghindari veto Hungaria dalam isu bantuan ke Ukraina.
Hungaria Jadi Batu Sandungan Uni Eropa
Sikap Perdana Menteri Viktor Orbán kembali memicu kontroversi. Dari 27 anggota Uni Eropa, hanya Hungaria yang menolak mengecam Rusia. Kontras dengan hal itu, survei menunjukkan 86% rakyat Hungaria mendukung tetap berada di Uni Eropa.
Partai berkuasa Fidesz kini hanya meraih 37% dukungan, kalah dari oposisi Demokratik yang mencapai 46%. Pemilu 2026 berpotensi menjadi titik balik politik Hungaria.
Pembunuhan Tokoh Politik Ukraina
Pada 30 Agustus 2025, Andriy Parubiy, mantan Ketua Parlemen Ukraina, tewas ditembak di pusat kota Lviv. Parubiy dikenal sebagai arsitek utama Euromaidan 2013–2014 dan tokoh penting dalam perlawanan terhadap aneksasi Krimea.
Presiden Volodymyr Zelenskyy dan mantan Presiden Petro Poroshenko mengecam keras, menyebut pembunuhan ini sebagai “tembakan ke jantung Ukraina”.
Inovasi Drone Murah Ukraina
Pasukan Ukraina juga memperlihatkan kreativitas dengan penggunaan drone murah seharga USD 600–725 per unit. Dengan biaya rendah, drone tersebut berhasil menghancurkan dua jembatan strategis di Belgorod yang dipasangi ranjau Rusia, memutus jalur logistik vital musuh.
Kesimpulan
Perang Rusia–Ukraina kini bergerak ke fase baru: Ukraina menargetkan jantung energi dan logistik Rusia. Serangan terhadap kilang minyak, pipa gas, depot bahan bakar, hingga jalur kereta api menunjukkan strategi melemahkan Rusia dari sisi ekonomi dan militer secara bersamaan.
Pertanyaannya: Mampukah Rusia bertahan menghadapi kombinasi tekanan ekonomi, sanksi internasional, dan serangan militer berteknologi tinggi—atau justru menuju keruntuhan seperti Uni Soviet di masa lalu?


