Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Seorang Teman

EtIndonesia. Jack melemparkan sebuah proposal ke meja kerjaku. Dia menatapku dengan alis berkerut tajam.

 “Ada apa?” tanyaku.

Dengan jari telunjuk, dia menunjuk proposal itu, dan berkata : “Lain kali, kalau kamu ingin mengubah sesuatu, kamu harus tanyakan padaku dulu.” 

Setelah berkata begitu, dia langsung berbalik pergi, meninggalkanku duduk dengan hati penuh kesal.

Aku merasa terhina. Bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti itu? Aku hanya memperbaiki sebuah kalimat panjang dan membetulkan tata bahasa—sesuatu yang kupikir memang tugasku.

Bukan tanpa peringatan. Sebelum aku bekerja di sana, para sekretaris sebelumnya sudah menyinggung soal Jack, bahkan menggunakan kata-kata kasar untuk menggambarkannya.

Di hari pertamaku, seorang rekan kerja berbisik: “Dialah penyebab dua sekretaris sebelumnya berhenti.”

Semakin lama aku bekerja, semakin aku meremehkannya. Aku percaya pada prinsip: ketika musuh menampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu dan cintailah musuhmu. Tetapi dengan Jack, prinsip itu seperti tak berlaku. Dia akan terus menghina siapa pun yang ada di depannya. Aku berdoa untuknya, tetapi dalam hati, aku hanya ingin menjauhinya.

Keberanian untuk Menghadapi

Suatu hari, setelah Jack kembali mempermalukanku, aku menangis sendirian. Tapi kemudian aku memberanikan diri masuk ke kantornya. Aku siap untuk berhenti bila perlu, tapi aku harus mengatakan yang sebenarnya.

Aku duduk di depannya dan berkata tegas: “Jack, sikapmu terhadapku salah. Tidak ada orang yang boleh memperlakukanku seperti itu. Sebagai seorang profesional, ini tidak pantas. Dan aku pun salah bila membiarkanmu terus melakukannya.”

Jack tampak gelisah, lalu tersenyum kaku. Aku menarik napas, menutup mata sejenak, dan berdoa dalam hati. 

Kemudian aku menambahkan: “Aku ingin membuat sebuah komitmen: aku akan menjadi temanmu. Aku akan memperlakukanmu dengan hormat dan ramah, karena itulah yang layak kamu dapatkan. Semua orang pantas mendapat perlakuan seperti itu.”

Aku pun bangkit, menutup pintu perlahan, dan meninggalkannya.

Awal Sebuah Perubahan

Sisa minggu itu, Jack berusaha menghindar dariku. Dia hanya meninggalkan dokumen di mejaku saat jam makan siang, dan mengambilnya kembali setelah kuperbaiki. Namun aku memilih tetap bersikap ramah. Suatu hari, aku meninggalkan beberapa kue di mejanya. Hari lain, aku menuliskan secarik catatan kecil: “Semoga harimu menyenangkan.”

Beberapa minggu kemudian, Jack mulai muncul lagi di hadapanku. Meski tetap dingin, dia tidak lagi meledak-ledak. Rekan-rekan kerjaku pun menyadari perubahannya.

“Lihat pengaruhmu pada Jack. Kamu pasti sudah menegurnya habis-habisan,” kata mereka.

Aku hanya tersenyum dan menjawab jujur: “Jack dan aku sekarang teman.”

Sejak saat itu, setiap kali bertemu di lorong, aku selalu menyapanya lebih dulu dengan senyuman—karena itulah yang seharusnya dilakukan seorang teman.

Saat Aku Membutuhkan Seorang Teman

Setahun kemudian, aku divonis mengidap kanker payudara. Usia baru 32 tahun, dengan tiga anak kecil. Rasa takut begitu besar menyelimuti. Setelah operasi, teman-temanku berusaha menghiburku, tapi banyak yang salah tingkah: ada yang bicara berbelit, ada yang menangis. Aku berusaha menguatkan mereka sambil menjaga harapan untuk diriku sendiri.

Di hari terakhirku di rumah sakit, Jack tiba-tiba muncul di pintu kamar. Dia berdiri kikuk. Aku melambaikan tangan dan tersenyum. Dia mendekat, meletakkan sebuah bungkusan kecil di sisiku.

“Ini bunga tulip,” katanya singkat.

Aku kebingungan. Jack lalu menjelaskan:  “Nanti kalau kamu pulang, tanamlah di tanah. Musim semi tahun depan, mereka akan tumbuh. Saat itu, kamu akan melihat warnanya.”

Air mata memenuhi mataku. Aku mengulurkan tangan dan berbisik: “Terima kasih.”

Jack menjabat tanganku, lalu berkata dengan suara serak: “Jangan berterima kasih. Kamu belum tahu sekarang, tapi musim semi nanti, kamu akan melihat warna yang kupilih khusus untukmu.”

Dia pun pergi, tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Harapan yang Mekar

Sudah lebih dari 10 tahun sejak saat itu. Setiap musim semi, tulip merah dan putih yang kutanam selalu mekar, seolah menjadi simbol harapan baru. Bulan September ini, dokter akan menyatakan bahwa aku resmi sembuh. Aku juga sudah menyaksikan anak-anakku lulus sekolah menengah dan masuk universitas.

Di saat aku paling membutuhkan dorongan, seorang pria yang biasanya keras dan dingin justru mengucapkan kata-kata yang paling indah.

Karena, itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang teman. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine