WHO : Kematian Akibat Kolera Naik 46 Persen pada 2025

Wabah kolera menyebar di sejumlah negara Afrika

EtIndonesia. Kasus kolera global tahun ini menurun dibanding 2024, tetapi jumlah kematian melonjak 46 persen, terutama dipicu oleh konflik dan kemiskinan, sehingga menimbulkan tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di berbagai wilayah, demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 29 Agustus.

“Antara 1 Januari hingga 17 Agustus 2025, tercatat total 409.222 kasus kolera/diare berair akut (AWD) dan 4.738 kematian di seluruh dunia dari 31 negara, dengan enam dari 31 negara melaporkan tingkat fatalitas kasus di atas 1 persen, yang menunjukkan adanya kesenjangan serius dalam manajemen kasus dan keterlambatan akses terhadap perawatan,” kata WHO dalam pembaruan terbarunya.

Kematian akibat kolera paling tinggi terjadi di Afrika, dengan 3.763 kematian dan tingkat fatalitas 2,2 persen.

Menurut Mayo Clinic, kolera ditandai dengan diare parah dan dehidrasi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae yang melepaskan racun di usus kecil, membuat tubuh membuang cairan dalam jumlah besar hingga menyebabkan dehidrasi dan berpotensi kematian.

Kolera menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Meski mudah diobati, penyakit ini bisa berakibat fatal bila tidak ditangani. Dengan adanya sistem sanitasi modern, penyakit ini hampir punah di negara-negara maju, tetapi masih bertahan di Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Amerika Latin, di mana masyarakat masih dilanda kemiskinan, perang, atau bencana alam.

Kolera jarang terjadi di Amerika Serikat, dengan beberapa kasus setiap tahun biasanya terkait orang yang baru kembali dari negara endemis, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

“Pada 2025, Wilayah Mediterania Timur mencatat jumlah kasus kolera/AWD tertinggi (230.991 kasus, enam negara), disusul Wilayah Afrika (172.750 kasus, 23 negara), Wilayah Asia Tenggara (2.985 kasus, lima negara), dan Wilayah Amerika (2.496 kasus, satu negara),” kata WHO.

Lonjakan di Afrika di Tengah Konflik dan Perang

 “Beban penyakit tetap tinggi, terutama di negara-negara yang saat ini mengalami wabah akut: Chad, Republik Demokratik Kongo (DRC), Republik Kongo, Sudan Selatan, dan Sudan,” kata WHO.

 “Negara-negara ini terus melaporkan tingkat penularan tinggi, tingkat fatalitas tinggi, serta menghadapi tantangan besar dalam pengendalian wabah dan akses perawatan.”

Chad, negara tanpa laut di Afrika tengah-utara, dan Republik Kongo di Afrika Tengah, sebelumnya tidak melaporkan jumlah kasus signifikan selama bertahun-tahun.

Chad melaporkan total 776 kasus kolera dengan 53 kematian antara 13 Juli hingga 19 Agustus, dengan tingkat fatalitas tinggi 6,8 persen. Bank Dunia mencatat adanya ketidakstabilan dan kemiskinan luas di Chad, dengan 44,8 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan nasional.

Di Republik Kongo, tingkat fatalitas lebih tinggi lagi, 7,7 persen, dengan 457 kasus kolera yang dicurigai dan 35 kematian antara 23 Juni hingga 17 Agustus. WHO menyebut kelompok usia paling terdampak adalah 15–24 tahun, mencakup 19 persen dari total kasus.

Sejak awal tahun, Republik Demokratik Kongo melaporkan 46.800 kasus kolera dan 1.362 kematian, dengan tingkat fatalitas 2,9 persen. Negara ini tengah dilanda perang. DRC kaya sumber daya alam, menurut Dewan Hubungan Luar Negeri (CFR), dan konflik di sana berdampak global karena perusahaan-perusahaan Tiongkok menguasai sebagian besar tambang kobalt, uranium, dan tembaga.

 “Tiongkok terlibat dalam konflik internal sekaligus perekonomian Kongo,” menurut laporan CFR. Sejak awal 2024, hampir 358.000 orang telah mengungsi di negara tersebut.

Adapun Sudan Selatan dan Sudan bersama-sama mencatat 120.593 kasus kolera dan 2.288 kematian sejak awal tahun.

Sudan Selatan menghadapi ketidakstabilan dengan kekerasan sporadis, sementara Sudan terjerat perang saudara.

Sejak perang terbaru meletus di Sudan dua tahun lalu, “lebih dari 14 juta orang telah mengungsi, menjadikannya krisis pengungsian terburuk di dunia,” menurut CFR.

WHO menyatakan wabah kolera terus meningkat di banyak negara, dengan tujuh dari 31 negara kini mencatat tingkat fatalitas di atas 1 persen, per 17 Agustus.

CDC Amerika Serikat mengumumkan, warga Amerika yang berkunjung ke wilayah endemis kolera disarankan untuk mendapatkan vaksin bernama Vaxchora minimal 10 hari sebelum bepergian. Itu adalah satu-satunya vaksin kolera yang disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat. AS melaporkan kurang dari 20 kasus kolera per tahun. 

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine