EtIndonesia. Seorang temanku bekerja di sebuah perusahaan komputer. Hampir semua perangkat lunak, dokumen, dan data penting perusahaan tersimpan di komputernya. Posisinya sangat vital: jika dia melakukan kesalahan pada salah satu tahapan pekerjaan, akibatnya bisa fatal.
Selama dua tahun, dia sudah membawa banyak keuntungan bagi perusahaan. Dewan direksi bahkan berencana mempromosikannya menjadi asisten manajer umum.
Suatu sore sepulang kerja, dia menerima tugas mendadak dari manajer: sebelum masuk kerja esok pagi, dia harus menyiapkan dokumen tender penting berdasarkan proposal yang baru saja diberikan. Proyek ini bukan hanya menentukan masa depan perusahaan, tetapi juga menentukan nasib promosi kariernya.
Tanpa sempat makan malam, dia langsung bekerja. Dia begadang, penuh konsentrasi, memastikan setiap angka, diagram, bahkan tanda baca benar-benar tepat. Dia tidak berani sedikit pun ceroboh.
Menjelang tengah malam, ketika hampir selesai, tiba-tiba terjadi hal yang tak terduga: listrik padam di seluruh kawasan. Komputer pun mati mendadak, dan semua dokumen yang dia kerjakan hilang seketika.
Sayangnya, komputernya tidak memiliki fitur penyimpanan otomatis, dan dia sendiri tidak sempat membuat cadangan file. Sekejap saja, kerja kerasnya berjam-jam lenyap tanpa sisa. Dia duduk terpaku semalaman di depan layar, menunggu listrik kembali menyala.
Keesokan harinya, saat listrik kembali, dia buru-buru menulis ulang sesuai ide yang dia ingat. Namun, waktu pengumpulan sudah lewat. Perusahaan kehilangan kesempatan untuk ikut tender.
Akibat satu kelalaiannya, perusahaan menanggung kerugian besar. Dia bukan hanya gagal mendapat promosi, tetapi bahkan diberhentikan dengan alasan kurang memiliki tanggung jawab.
Sebelum pergi, manajer berkata kepadanya dengan berat hati:“Kami percaya pada kemampuan dan pengetahuanmu. Tapi di zaman yang berubah secepat ini, dengan persaingan yang begitu ketat, kemampuan saja tidak cukup. Andai saja kamu lebih berhati-hati, membuat cadangan di tengah jalan, semua hasilnya akan berbeda. Semoga di tempat lain nanti, kamu belajar untuk selalu menyiapkan cadangan—baik itu cadangan pekerjaan, maupun cadangan dalam hidup. Itu sangat penting.”
Mendengar kisah itu, aku pun ikut merenung. Dalam kehidupan, ketika “listrik kehidupan” sewaktu-waktu padam, jalan terbaik menghadapi musibah adalah selalu menyiapkan cadangan.
Dalam jalan buntu kehidupan, sediakan pintu cadangan yang bisa membuka ruang baru—agar kita tetap bisa menyambut sinar matahari yang menunggu di balik tembok.(jhn/yn)


