Pada Selasa (2 September), bursa saham global mengalami penurunan. Imbal hasil obligasi jangka panjang Eropa melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal berbagai negara. Sementara itu, dolar AS sedikit menguat. Bahkan, harga emas mencapai rekor tertinggi dalam sejarah.
Fokus pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang akan dirilis Jumat (5 September), yang berpotensi mempengaruhi keputusan suku bunga The Fed pada pertengahan bulan ini.
EtIndonesia. Pada Selasa 2 September 2025, bursa saham AS secara umum melemah: Dow Jones Industrial Average turun sekitar 1%, S&P 500 turun 1,2%, dan Nasdaq Composite turun 1,5%. Sehari sebelumnya (Senin, 1 September), volatilitas saham teknologi mengguncang pasar Jepang dan Korea Selatan, namun keduanya pulih pada Selasa.
Harga emas terus melambung, menembus USD 3.500 per ons, mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Sejak awal tahun, harga emas sudah naik lebih dari 30%.
Analis menyebut lonjakan emas dipicu ekspektasi pemangkasan suku bunga, pelemahan dollar AS, serta ketidakpastian geopolitik, sekali lagi menegaskan peran emas sebagai aset lindung nilai tradisional.
Seiring jatuhnya bursa saham dan melonjaknya emas, harga Bitcoin naik sekitar 1%, kembali ke USD 111.000, sementara harga minyak juga sedikit menguat.
Kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal pemerintah membuat poundsterling dan yen Jepang anjlok tajam, sehingga dolar AS menguat. Para trader kini menunggu laporan ketenagakerjaan AS Jumat mendatang untuk memprediksi arah pergerakan dolar berikutnya.
Saat ini, pasar memperkirakan ada 91% kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, meskipun proyeksi tersebut bisa berubah bergantung pada data ekonomi yang segera dirilis.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Prancis bertenor 30 tahun naik ke 4,49%, tertinggi dalam 16 tahun. Imbal hasil obligasi Inggris bertenor 30 tahun melonjak ke 5,69%, level tertinggi sejak 1998. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun kembali mendekati 5%, tertinggi dalam lebih dari sebulan.
Akhir pekan lalu, pengadilan banding memutuskan tarif “resiprokal” era pemerintahan Trump tidak sah, dan kasus ini kemungkinan akan berlanjut ke Mahkamah Agung. Analis menilai, putusan tersebut semakin menambah kekhawatiran di pasar obligasi AS karena berpotensi mengurangi penerimaan tarif, memperlebar defisit fiskal.
Dilaporkan pula bahwa investor obligasi mendorong naiknya imbal hasil karena ekspektasi pemerintah AS mungkin harus mengembalikan miliaran dolar penerimaan tarif, sehingga memperburuk tekanan fiskal yang sudah berat. Saham perbankan, saham teknologi, dan aset berisiko lainnya pun ikut melemah.
Secara historis, September memang cenderung menjadi bulan dengan performa terburuk bagi pasar saham. Dalam lima tahun terakhir, S&P 500 rata-rata turun 4,2%, dan dalam sepuluh tahun terakhir rata-rata turun lebih dari 2%. Faktor ini bisa menekan sentimen pasar pada awal bulan perdagangan yang baru.
Sumber : NTDTV.com


