EtIndonesia. Karena segala sesuatu bergantung pada “sebab dan kondisi”, yang tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan, maka sebenarnya tidak ada yang benar-benar “harus menjadi milikmu” atau “hanya bisa dilakukan olehmu”. Tidak ada juga hal yang wajib harus tercapai. Artinya, ketika keadaan dan waktu mengizinkan, maka lakukanlah dengan segenap upaya. Namun bila hasilnya tak tercapai, tidak perlu terlalu kecewa atau terikat pada penyesalan.
Di dinding Nong Chan Si (Vihara Nong Chan), ada kalimat dari Sutra Vajracchedika (Sutra Intan): “Ying wu suo zhu er sheng qi xin”.
Maksudnya adalah jangan melekat pada sesuatu—tidak ada yang benar-benar wajib harus berhasil atau mutlak harus kita miliki. Inilah sikap tanpa keterikatan.
Kalau kita menggenggam terlalu erat sebuah hal, sebuah benda, atau bahkan seseorang, hasilnya hanya penderitaan. Sebaliknya, bila kita tidak mau memiliki apa pun, tidak peduli pada siapa pun, kita bisa jatuh pada kesepian yang menyiksa. Karena itu, makna “er sheng qi xin” adalah: tetap membangkitkan hati, namun hati yang dipenuhi kebijaksanaan.
Hati itu adalah hati yang penuh perhatian, penuh upaya, mengenal diri sendiri sekaligus memahami keadaan luar. Artinya, bisa menimbang kondisi pribadi maupun lingkungan dengan kebijaksanaan.
Dalam hidup, kadang kita butuh orang lain untuk mewujudkan tujuan kita, dan di saat lain kita juga bisa membantu orang lain berhasil. Itulah keseimbangan: “Menggunakan orang untuk menyelesaikan urusan, menggunakan urusan untuk membentuk manusia.”
Jangan terjebak dalam lingkaran yang mengikat diri, apalagi menjebak orang lain. Jika kita mampu hidup dengan prinsip “tidak melekat, tapi tetap membangkitkan hati”, maka kita bisa tumbuh sesuai kondisi, membantu orang lain, menyelesaikan kesulitan diri sendiri, sekaligus meringankan beban orang lain. Inilah jalan seorang Bodhisattva, penolong yang benar-benar membebaskan penderitaan.(jhn/yn)


