Pada Rabu (3/9/2025), sejumlah mantan elite Partai Komunis Tiongkok (PKT) seperti Wen Jiabao dan Li Ruihuan hadir dalam parade militer di Beijing. Siaran langsung memperlihatkan wajah pemimpin PKT, Xi Jinping, tampak muram, dengan pidato lemah dan ekspresi penuh kegelisahan.
EtIndonesia. Pada 3 September 2025 pagi, PKT menggelar acara yang disebut sebagai “Peringatan 80 Tahun Perang Perlawanan terhadap Jepang” di Lapangan Tiananmen, Beijing. Xi Jinping menyampaikan pidato, kemudian melakukan inspeksi pasukan.
Dalam siaran CCTV, Xi terlihat dengan ekspresi tidak biasa: sering berkedip, menggelengkan kepala, wajah kusam dan muram, pidato tanpa semangat, tanpa tanda-tanda kegembiraan — seluruhnya menunjukkan raut wajah murung.
Hari itu, para pemimpin PKT yang masih menjabat duduk di bagian tengah tribun kehormatan, sementara kehadiran para pensiunan pejabat tinggi juga menarik perhatian publik. Yang hadir antara lain Li Ruihuan, Wen Jiabao, Jia Qinglin, Zhang Dejiang, Yu Zhengsheng, Li Zhanshu, Wang Yang, Li Lanqing, Zeng Qinghong, Wu Guanzheng, Li Changchun, He Guoqiang, Liu Yunshan, Wang Qishan, dan Zhang Gaoli — total 15 tokoh.
Namun, Hu Jintao, Zhu Rongji, Song Ping, dan Luo Gan tidak terlihat hadir. Hu Jintao yang kini berusia 82 tahun kemungkinan absen karena alasan kesehatan. Tiga tokoh lainnya juga tidak hadir karena faktor usia lanjut dan kondisi fisik yang lemah.
Baik CCTV maupun CGTN menutup kolom komentar dalam siaran langsung parade di YouTube pada 3 September.
Pada 30 September 2024, saat acara jamuan Hari Nasional di Beijing, Wen Jiabao (82 tahun) dan Li Ruihuan (90 tahun) ditempatkan di sisi kanan dan kiri Xi Jinping. Penempatan itu sempat menarik sorotan publik.
Zhu Rongji sendiri sudah pensiun dari jabatan Perdana Menteri Tiongkok sejak 2003. Dalam beberapa tahun terakhir ia jarang tampil di publik. Kemunculan terakhirnya adalah pada Oktober 2018 saat bertemu anggota Dewan Penasihat Sekolah Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua.
Selama 13 tahun kekuasaan Xi Jinping, kebijakan yang kacau membuat Tiongkok menghadapi tekanan dari dalam dan luar negeri. Ekonomi kini terjebak stagnasi, perebutan kekuasaan di kalangan elite PKT semakin sengit, kritik terhadap Xi meningkat, dan tuntutan agar ia turun dari jabatan semakin keras.
Menjelang parade 3 September, sejumlah aksi perlawanan rakyat muncul di berbagai daerah Tiongkok. Pada 7 Agustus, beredar luas di platform X sebuah video yang memperlihatkan seorang pria di depan Monumen Kemenangan Perang Anti-Jepang di Kunming, Yunnan, mengangkat spanduk bertuliskan “Xi Jinping mundur.”
Pada 29 Agustus malam, di kawasan Universitas Chongqing, beberapa proyeksi besar muncul di gedung-gedung tinggi menampilkan slogan anti-PKT selama lebih dari 50 menit. Tulisan di antaranya:
- “Tanpa Partai Komunis baru ada Tiongkok baru, kebebasan bukan hadiah, harus direbut kembali.”
- “Hancurkan fasisme merah, gulingkan kediktatoran PKT.”
- “Bangkitlah, orang-orang yang tak mau jadi budak, bangkit melawan untuk merebut kembali hakmu.”
- “Jangan kebohongan, kami mau kebenaran. Jangan perbudakan, kami mau kebebasan. Turunkan kediktatoran PKT.”
Pada 31 Agustus, di sebuah papan pengumuman di Beijing, muncul poster besar berjudul “Sekretaris Jenderal Mundur!” yang mencantumkan tiga tuntutan konkret.
Sumber : NTDTV.com


