Organ Jadi Senjata Politik: Xi Jinping Janjikan Hidup 150 Tahun

EtIndonesia. Pada 3 September 2025, Beijing menggelar Parade Militer yang disiarkan ke seluruh dunia. Suasana berlangsung tegang: hentakan kaki pasukan membuat tanah bergetar, udara terasa membeku, dan para pejabat tinggi tampak larut dalam euforia. Bagi kalangan elit yang selama ini menikmati keuntungan dari sistem, parade ini ibarat jaminan bahwa “keistimewaan” mereka bisa terus berlanjut.

Namun, yang mengejutkan justru reaksi rakyat kecil. Meski selama ini mereka dirampas hak kesehatan, pendidikan, bahkan jaminan hari tua, banyak yang ikut menangis haru di depan televisi. 

Sebuah ironi: rakyat yang ditindas justru bangga dengan kekuatan yang menindas mereka. Seperti domba yang menari bersama serigala, atau budak yang memuji cambuk yang mencambuknya.

Bisikan yang Mengguncang Dunia

Sorotan utama dunia bukan pada parade itu sendiri, melainkan percakapan singkat yang tanpa sengaja terdengar dari panggung Tiananmen. Mikrofon media internasional menangkap dialog antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Putin, melalui penerjemah, berkata: “Perkembangan ekonomi dan transplantasi organ manusia membuat manusia bisa semakin muda, bahkan hidup abadi.”

Xi Jinping langsung menimpali: “Diperkirakan pada abad ini manusia bisa hidup hingga 150 tahun.”

Pernyataan tersebut meledakkan ruang redaksi media Barat. BBC, CNN, dan Reuters menjadikannya headline dunia. Sebab ini bukan sekadar candaan, melainkan pengakuan gamblang tentang ambisi politik paling gelap: proyek panjang umur yang ditopang oleh nyawa rakyat.

Lebih jauh, ketika ditanya dalam konferensi pers, Putin tidak membantah. Ia malah menegaskan ucapan Xi dengan menambahkan: “Teknologi transplantasi organ membuat manusia penuh harapan terhadap masa depan.”

Sejak saat itu, isu transplantasi paksa organ naik level dari “rumor” menjadi fakta politik yang diakui secara terbuka.

Proyek Rahasia: “981 Program Kesehatan Pimpinan”

Ucapan Xi Jinping soal umur 150 tahun bukan tanpa dasar. Ia merujuk pada proyek rahasia yang sudah berjalan sejak 2005: 981 首长健康工程 (Proyek Kesehatan Pimpinan 981). Targetnya: memperpanjang usia pejabat tinggi hingga 150 tahun.

Pada 2019, sebuah iklan resmi Rumah Sakit Militer PLA 301 sempat bocor di WeChat. Di bagian akhir tertulis: “Proyek 981 dimulai 2005. Target perpanjangan usia: 150 tahun.”

Iklan itu cepat dihapus dengan alasan “penyalahgunaan nama lembaga negara”. Namun kebocoran tersebut sudah cukup membuka tabir rahasia.

Harga yang Harus Dibayar

Menurut dokumen internal yang bocor, pada 2022 Komisi Kesehatan Pusat mengalokasikan 164 miliar yuan hanya untuk kurang dari 1.000 pejabat tinggi. Itu berarti rata-rata 16,4 juta yuan (Rp35 miliar) per orang per tahun untuk biaya kesehatan.

Sebagai perbandingan, rakyat biasa sepanjang hidupnya hanya menerima jaminan medis bernilai puluhan ribu yuan. Sistem ini dilengkapi jalur transportasi khusus, gudang data kesehatan rahasia, hingga pasukan dokter militer yang siaga 24 jam.

Jika rakyat hidup atau mati tergantung saldo BPJS, maka pejabat hidup atau mati ditentukan oleh jabatan politiknya.

Pertanyaan Utama: Dari Mana Organ Itu?

Inilah inti persoalan. Dari mana semua organ itu diperoleh?

Dalam sistem normal, organ hanya bisa didapat dari donasi sukarela yang jumlahnya terbatas. Di AS saja, waktu tunggu ginjal bisa 3–5 tahun. Namun di Tiongkok, rumah sakit militer pernah terang-terangan beriklan: “Menunggu ginjal hanya 1–2 minggu. Bisa pesan tanggal operasi.”

Jelas ini bukan keajaiban medis, melainkan kejahatan kemanusiaan.

Bukti Internasional: Pengadilan Rakyat London

Pada 2019, Pengadilan Rakyat Independen di London yang dipimpin Sir Geoffrey Nice (mantan jaksa penuntut Milosevic) menyimpulkan:

“Pengambilan paksa organ dari tahanan nurani di Tiongkok telah berlangsung cukup lama, dengan jumlah korban sangat besar, dan semua keraguan rasional telah tereliminasi.”

Kesaksian korban, data rumah sakit, rekaman dokter, hingga lonjakan operasi transplantasi yang mencurigakan menjadi bukti tak terbantahkan.

Dari Musuh Politik ke Rakyat Umum

Awalnya target utama adalah kelompok yang dicap “musuh negara”: praktisi Falun Gong, aktivis, minoritas Tibet dan Uighur. Namun ketika “stok organ” berkurang, lingkaran korban melebar.

Bahkan anak-anak dipaksa ikut tes darah massal dan diminta menandatangani formulir “donasi organ sukarela.” Padahal secara hukum mereka belum bisa mengambil keputusan tersebut. Ini bukan donasi, melainkan tiket kematian yang dipaksakan.

Organ sebagai Senjata Diplomasi

Lebih jauh, ada tuduhan bahwa Beijing menjadikan transplantasi organ sebagai alat diplomasi. Beberapa laporan menyebut, pemimpin asing ditawari kesempatan memperpanjang umur dengan iming-iming “organ segar.”

Ini adalah senjata yang jauh lebih berbahaya daripada uang: “Kami beri Anda kehidupan, Anda beri kami kesetiaan.”

Reaksi Dunia: Tembok Etika Global

Reaksi internasional tidak main-main.

  • Eropa (2022): Parlemen Eropa mengesahkan resolusi menentang pengambilan organ paksa, menyerukan pelarangan turisme organ.
  • AS (2023): Kongres meloloskan Stop Forced Organ Harvesting Act (UU 1154) dengan 413 suara setuju, memberikan sanksi keras berupa pembekuan aset dan larangan visa bagi pelaku.
  • 2025: Inggris, Kanada, dan Australia memperketat hukum bioetika agar lembaga medis mereka tidak terlibat, bahkan secara tidak sadar.

Kesimpulan: Hidup Panjang, Rezim Pendek

Xi Jinping dan elitnya mungkin bisa memperpanjang usia fisik dengan organ segar, tapi ada satu hal yang tidak bisa diperpanjang: umur rezim.

Sejarah menunjukkan, begitu sains dijadikan alat untuk menghisap nyawa rakyat, cepat atau lambat justru akan menjadi bukti yang menyeret penguasa itu sendiri ke meja pengadilan dunia. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine