EtIndonesia. Debu gurun yang memenuhi udara perlahan reda. Langit biru dan teriknya matahari kembali menyelimuti padang pasir.
Di jalan raya, sebuah taksi tua berwarna kuning melaju perlahan. Di kiri kanan jalan, tampak puing-puing kendaraan yang hancur. Dari kejauhan, asap hitam mengepul—pertanda perang masih terus berkecamuk di tanah airnya.
Hari itu cuaca cerah, panas, tanpa sehembus angin. Dari arah berlawanan muncul iring-iringan kendaraan. Bukan truk berisi orang-orang yang hendak ke pasar seperti biasanya, melainkan deretan tank. Di atasnya duduk para tentara asing, bersenjata lengkap.
Sopir taksi itu melirik mereka, mereka pun menatap balik. Tanpa sepatah kata, dua pihak itu saling berpapasan.
“Ter kutuklah perang ini…” gumamnya penuh amarah.
Dua hari sebelumnya, sebuah rudal jatuh di pasar depan rumahnya, menghancurkan hampir segalanya. Dia beruntung masih hidup. Namun, peristiwa itu membuatnya mengambil keputusan: dia tak mau lagi mengemudi taksi. Setelah menyelesaikan perjalanan terakhir hari itu, dia akan membawa istri dan ketiga anaknya pergi meninggalkan negeri yang porak-poranda ini.
“Sarah… anak-anakku… aku mencintai kalian. Sebentar lagi kita akan bertemu. Setelah perjalanan terakhir ini selesai,” katanya.
Dia menoleh ke kursi samping, menatap sebuah foto keluarga yang retak kacanya. Wajah istrinya dan senyum ceria anak-anaknya di dalam bingkai itu, menjadi satu-satunya penghiburan baginya.
Tak lama kemudian, dia tiba di sebuah pos pemeriksaan. Di tepi jalan berjajar tank-tank dengan moncong meriam besar, mengintimidasi siapa pun yang lewat. Tentara asing bersenjata berdiri berjaga.
Seorang prajurit memberi isyarat agar dia berhenti. Dia menenangkan diri, lalu menghentikan mobilnya. Memang akhir-akhir ini hampir tak ada kendaraan sipil yang keluar dari ibu kota. Jalanan sepi, hanya tank dan… taksinya.
Beberapa tentara mendekat. Satu, dua, tiga, empat, lima orang.
Seorang komandan membungkuk, melihat taksi tuanya, lalu menatapnya dan bertanya: “Dari mana kamu datang? Mau ke mana?”
Dengan senyum tipis, dia menjawab dalam bahasa asing yang patah-patah: “Tuan, saya dari ibu kota. Saya ingin pergi, perang ini terlalu berbahaya.”
Sambil bicara, dia menyodorkan sebatang rokok, menyalakannya untuk si tentara.
“Kapan perang ini akan berakhir?” tanyanya.
Tentara itu mengisap rokok dalam-dalam, lalu menjawab: “Segera. Pasukan kami hampir berhasil membebaskan ibu kota kalian.”
Tentara itu melirik foto keluarga di dalam mobil.
“Itu istrimu dan anak-anakmu? Aku juga punya dua anak, kira-kira seumuran mereka,” kata sang tentara.
“Ya, merekalah yang paling kurindukan. Beberapa waktu lalu mereka sudah pergi. Aku sedang menyusul mereka. Mungkin aku tak akan kembali. Mengemudi taksi di masa perang terlalu berbahaya,” katanya, masih tersenyum.
“Jika kami berhasil menggulingkan diktator kalian, kamu bisa kembali dan bekerja dengan tenang,” ujar tentara itu, seakan merasa lega bertemu penduduk lokal yang ramah padanya.
“Mungkin. Tapi aku harus bertemu istriku dulu. Kamu mau mampir ke rumahku? Istriku pasti akan memasakkan makanan enak untuk kalian. Anggap saja perjalanan terakhirku—aku tak akan menagih bayaran.”
Tentara itu terkekeh: “Kami sedang bertugas, tak bisa. Sampaikan salamku untuk keluargamu. Oh ya, kamu bilang ke selatan? Itu medan perang. Bagaimana kamu bisa bertemu keluargamu di sana?”
Dia masih tersenyum. Perlahan, dia mengambil bingkai foto yang retak itu, menciumnya dengan lembut, lalu menatap lurus ke arah tentara yang berdiri di samping jendela.
Dengan suara tenang namun tegas, dia berkata: “Di surga.”
Yang terakhir dia lihat adalah wajah tentara itu—terkejut, ngeri, dan ketakutan. Rokok di tangannya terlepas, jatuh ke tanah.
Lalu… dia menekan tombol itu.
Hidupnya berakhir di detik itu juga. Sebuah “perjalanan terakhir” yang bukan sekadar bisnis—melainkan pengorbanan, kemarahan, dan keputusasaan yang dibungkus dalam satu kata: perang. (jhn/yn)


