EtIndonesia. Madam Ren Xiaoping, mantan Wakil Rektor Institut Hubungan Luar Negeri Beijing, pernah berkata: “Dalam perjalanan karier saya, setiap langkah selalu ditentukan oleh organisasi. Saya hampir tidak pernah punya kebebasan untuk memilih. Tetapi di setiap posisi yang saya jalani, saya selalu punya satu pilihan: bekerja lebih baik dari orang lain.”
Tahun 1968, Ren Xiaoping masuk Universitas Bahasa Asing Beijing sebagai mahasiswa jalur pekerja-tani-tentara. Saat itu, dia adalah yang paling tua dan dianggap paling lemah. Pada hari pertama kuliah, karena tidak bisa menjawab pertanyaan, dia dihukum berdiri sepanjang kelas.
Keesokan harinya, di ruang kelas digantung sebuah spanduk bertuliskan: “Jangan biarkan seorang pun kawan sekelas tertinggal.” Yang dimaksud “kawan sekelas” itu adalah dirinya. Namun, ketika lulus, dia justru menjadi mahasiswa terbaik di angkatannya.
Setelah lulus, dia ditempatkan di Kedutaan Besar Tiongkok di Inggris sebagai operator telepon. Bagi banyak orang, pekerjaan ini terlihat tidak bergengsi. Tetapi Ren Xiaoping melakukannya dengan penuh kesungguhan.
Dia menghafal seluruh nama staf kedutaan, nomor telepon, bidang kerja mereka, bahkan nama anggota keluarga mereka. Bila ada panggilan masuk dan dia tidak tahu harus disambungkan ke siapa, dia akan bertanya lebih jauh, mencari tahu, dan berusaha menghubungkan penelepon ke orang yang tepat.
Lama-kelamaan, para staf kedutaan lebih mempercayakan banyak hal kepadanya. Jika mereka harus pergi keluar, mereka tidak lagi memberitahu penerjemah resmi, melainkan menelepon Ren Xiaoping: menitipkan pesan, meminta bantuan, atau bahkan mempercayakan urusan pribadi. Dia pun menjadi semacam pusat pesan sekaligus “sekretaris besar” bagi semua orang.
Suatu hari, duta besar sendiri datang ke ruang telepon dan memujinya dengan senyum lebar—kejadian yang sangat langka. Tak lama kemudian, karena kinerjanya yang luar biasa, dia dipromosikan untuk menjadi penerjemah bagi seorang wartawan senior asal Inggris.
Wartawan itu adalah seorang wanita terkenal, penerima medali perang, bahkan bergelar bangsawan. Kemampuannya besar, tapi juga temperamennya keras. Dia pernah mengusir penerjemah sebelumnya, dan awalnya menolak Ren Xiaoping karena menganggapnya kurang berpengalaman. Namun, setelah mencobanya, pandangannya berubah.
Setahun kemudian, dia sering berkata dengan bangga kepada orang lain: “Penerjemah saya sepuluh kali lebih baik daripada milikmu.”
Tak lama, Ren Xiaoping kembali dipromosikan ke kantor penghubung Tiongkok–Amerika, di mana dia kembali bekerja dengan cemerlang dan bahkan mendapat penghargaan dari Kementerian Luar Negeri.
Kisah hidupnya memberi pesan kuat:
Kadang kita tidak bisa memilih pekerjaan. Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana melakukannya—dengan setengah hati, atau dengan sepenuh hati.
Dalam pekerjaan yang sama, ada orang yang rajin, tekun, dan akhirnya menuai banyak hasil. Ada pula yang hanya mengeluh dan terus berharap dipindahkan, tetapi tidak pernah benar-benar melakukan yang terbaik di tempatnya saat ini.
Sesungguhnya, pilihan sikap itulah yang akan menentukan: apakah di masa depan kita akan dipilih kembali atau justru tersingkir.(jhn/yn)


