Resep Obat Kehidupan

EtIndonesia. Dua orang buta mencari nafkah dengan bercerita sambil memetik sanxian (alat musik khas Tiongkok berdawai tiga). Yang tua adalah sang guru, berusia lebih dari 70 tahun; yang muda adalah muridnya, usianya belum genap 20.

Sang guru telah memetik sampai 999 senar putus, hanya tersisa satu senar lagi menuju angka 1000. Ketika masih muda, dia pernah mendapat pesan terakhir dari gurunya sebelum wafat:

“Aku punya sebuah resep obat untuk menyembuhkan kebutaan. Resep ini kusegel di dalam kotak musikmu. Ingat, hanya ketika kamu sudah memetik hingga senar ke-1000 putus, barulah kau boleh membukanya. Dan syaratnya: setiap senar yang kamu mainkan harus dengan sepenuh hati. Jika tidak, sehebat apa pun resep itu, dia akan kehilangan khasiatnya.”

Saat itu, sang guru masih pemuda berusia 20 tahun. Kini, rambutnya telah memutih, janggutnya penuh uban. Selama 50 tahun dia terus berpegang pada mimpi bisa melihat kembali. Dia tahu resep itu adalah warisan turun-temurun. Gurunya dulu pernah salah hitung—baru sampai senar ke-800 sudah membuka gulungan kertas itu, hingga akhirnya tetap buta sampai akhir hayat.

Hari itu, “ping!” sebuah senar putus lagi. Sang guru menarik napas panjang, dada dipenuhi rasa haru dan kegembiraan luar biasa. Dia bahkan lupa meminta maaf pada warga desa yang datang jauh-jauh dari lembah untuk mendengarnya bermain, dan tanpa menunggu muridnya, dia bergegas menuju kota untuk menebus obat.

Namun, saat dia dengan penuh harap menunggu ramuan itu disiapkan, sang pemilik apotek menatapnya heran dan berkata: “Ini bukan resep, Pak Tua. Ini hanya selembar kertas kosong.”

Sekejap, hatinya seolah terhempas ke dasar es. Kepalanya berdengung. Dia berpegangan pada meja apotek agar tidak jatuh. Setelah menenangkan diri, barulah dia tersadar: bukankah dia sudah sejak lama mendapatkan “resep itu”?

Justru karena adanya harapan pada resep pemulihan, dia memiliki keberanian untuk bertahan hidup. Dengan sanxian dan kisah-kisahnya, dia dihormati orang, dia belajar mencintai dan dicintai. Dalam suka dan duka menghidupi diri, dia sudah lupa bahwa dirinya buta. Sesungguhnya, dia sudah “melihat” sejak lama—melihat cahaya kehidupan lewat kerja kerasnya.

Setiba di rumah, dia pun dengan khidmat berkata kepada muridnya: “Aku punya sebuah resep untuk memulihkan penglihatan. Kuresapkan dia dalam kotak musikmu. Saat kamu memetik hingga senar ke-1200 putus, kamu boleh membukanya. Ingat, mainkan setiap senar dengan sepenuh hati. Guruku dulu salah menghitung 1000 senar, jangan ulangi kesalahan itu.”

Murid kecil itu mengangguk dengan penuh iman, meski dia tak bisa melihat air mata yang sudah membasahi mata tua gurunya. 

Dalam hati, sang guru bergumam: “Mungkin seumur hidupnya, dia pun tak akan mencapai 1200 senar…”

Namun, sesungguhnya itulah resep kehidupan: pencerahan jiwa terhadap keindahan. Resep itu bisa membuat seorang buta hidup dalam cahaya selamanya. Ironisnya, justru banyak dari kita yang sehat, malah hidup dalam kegelapan—karena kita menutup mata terhadap keindahan di sekitar kita.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine