EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina kembali memasuki babak baru dengan eskalasi serangan lintas batas. Ukraina kini mencatat sejarah dengan melancarkan serangan beruntun langsung ke dalam wilayah Rusia—sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Serangan Darat dan Udara: Rusia Terpukul Berat
Pasukan Ukraina berhasil menghantam berbagai basis militer Rusia, menghancurkan konvoi, merusak kendaraan lapis baja, serta menewaskan 179 prajurit Rusia dan melukai 17 orang lainnya.
Serangan paling telak terjadi di distrik Guoxian, ketika sebuah pos komando Rusia dihancurkan, membuat struktur kendali musuh kacau balau. Di Laut Hitam, Ukraina juga menenggelamkan sebuah kapal cepat Rusia melalui serangan presisi, semakin memperlemah armada Moskow.
Eskalasi Lintas Batas: Kursk dan Belgorod Membara
Sejak akhir Agustus, Resimen Perbatasan Kelima Ukraina melancarkan operasi lintas batas ke wilayah Kursk. Sasaran utama: pos komando, gudang logistik, dan fasilitas militer.
Rekaman dari garis depan memperlihatkan drone FPV Ukraina menjatuhkan bom dengan akurasi tinggi, memicu ledakan besar di Kursk.
Moskow sebelumnya mengklaim telah merebut penuh Kursk, namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan aksi sabotase Ukraina terus berlanjut.
- Rudal Ukraina menghantam distrik Glushkovsky.
- Jet tempur membombardir posisi Rusia di Tenkino.
Sementara itu, unit Chechnya “Akhmat” gagal menembus pertahanan Ukraina. Bahkan, intelijen Korea Selatan melaporkan sekitar 2.000 tentara Korea Utara yang dikirim ke Kursk telah tewas, dan Pyongyang berencana mengirim tambahan 6.000 pasukan.
Balasan Rusia: 502 Drone dan 24 Rudal
Pada 3 September 2025, Rusia meluncurkan 502 drone dan 24 rudal ke berbagai kota Ukraina, termasuk Kyiv, Lviv, dan Khmelnytskyi. Pertahanan udara Ukraina menembak jatuh sebagian besar serangan (430 drone dan 21 rudal), namun 14 wilayah tetap mengalami kerusakan.
Sebagai balasan, Ukraina memperluas serangan ke lebih dari 10 wilayah Rusia, termasuk Moskow, Oryol, Dagestan, Krasnodar, Krimea, dan Donbas. Senjata yang digunakan beragam: rudal Neptunus, rudal strategis baru “Flamingo”, hingga drone-rudal Palianytsia berjangkauan 650 km dengan bobot 320 kg—murah dan mudah diproduksi massal.
Ukraina Merebut Kembali Donetsk dan Zaporizhzhia
Situasi di Donbas dan Zaporizhzhia juga berbalik arah:
- 2 September 2025: Ukraina merebut kembali permukiman di barat daya Pokrovsk setelah pertempuran sengit 3 jam.
- Brigade 425 Ukraina merebut Desa Novyi Ekonomichny, jalur logistik vital T0504.
- Mirne dan Malynivka jatuh ke tangan Ukraina, menghancurkan 5 kendaraan lapis baja dan 2 truk Rusia, menewaskan sekitar 150 tentara.
Di sektor lain:
- Ukraina menguasai Katerinivka,
- mengusir Rusia dari Kupiansk utara,
- dan melancarkan serangan presisi di Oleshky (Kherson) yang menewaskan 25 tentara termasuk komandan batalion.
Diduga, serangan di Kherson menggunakan bom pintar F-16 yang diarahkan drone.
Laut Hitam: Armada Rusia Kehilangan Taji
Di Laut Hitam, posisi Rusia kian terdesak. Pada 3 September 2025, sebuah kapal cepat Rusia dihancurkan oleh drone Bayraktar TB-2 dengan bom berpemandu. Rekaman menunjukkan kapal meledak sesaat setelah meninggalkan pelabuhan.
Sistem pertahanan Rusia, termasuk S-300 dan S-400, juga berhasil dihancurkan. Kini, hanya kapal kecil yang tersisa di garis depan, sementara kapal besar ditarik mundur.
Analis menilai, kerugian beruntun ini dapat memaksa Moskow mengubah strategi maritimnya.
NATO dan Politik Global: Rusia Kian Terpojok
NATO memperluas kehadiran dengan markas komando darat baru di Finlandia, hanya 300 km dari St. Petersburg. Finlandia dan Swedia kini resmi bergabung, memperkuat solidaritas NATO.
Eropa juga memasuki fase “militerisasi ulang”:
- Finlandia menargetkan 1 juta personel militer dalam 6 tahun,
- Jerman, Prancis, dan Inggris mengalokasikan anggaran pertahanan terbesar dalam sejarah modern.
Sementara itu, Ukraina meluncurkan langkah politik:
- mengeluarkan surat penangkapan untuk Ramzan Kadyrov,
- serta merancang undang-undang lobi untuk memenuhi syarat masuk Uni Eropa.
Luka Kemanusiaan dan Upaya Diplomasi
Di balik eskalasi militer, penderitaan warga sipil terus berlanjut.
Pada 28 Agustus 2025, serangan rudal Rusia menewaskan seorang bocah 2 tahun, Angelina, dan ibunya di Kyiv. Ribuan warga menghadiri pemakaman, simbol kepedihan yang mendalam.
Diplomasi pun tetap berjalan. Uni Eropa dilaporkan melonggarkan kebijakan tarif demi dukungan AS untuk Ukraina. Putin menyatakan terbuka pada perjanjian damai, namun tetap menolak Ukraina masuk NATO. Dia bahkan menyebut isu wilayah bisa diselesaikan lewat referendum jika darurat militer dicabut.
Meski demikian, pemimpin Eropa skeptis. Kanselir Jerman menegaskan Putin adalah “penjahat perang terbesar era modern” dan menilai Rusia hanya bisa dihentikan lewat tekanan total.
Kesimpulan
Konflik Rusia–Ukraina kini mencapai fase kritis:
- Militer: Ukraina unggul dengan taktik modern, HIMARS, dan drone.
- Laut Hitam: Armada Rusia terdesak.
- Politik Global: NATO semakin solid, Rusia kehilangan daya tekan.
- Kemanusiaan: Warga sipil tetap jadi korban terbesar.
Perang ini semakin jelas bukan hanya konflik regional, melainkan juga pertarungan geopolitik global yang melibatkan teknologi, aliansi militer, hingga diplomasi tingkat tinggi.


