Gerhana “Bulan Darah” Muncul, Ahli Fengshui: Konflik Politik Bisa Mengintai

EtIndonesia. Pada  7 September malam hingga  8 September 2025 dini hari, langit  menampilkan fenomena langka berupa gerhana bulan total, yang dikenal juga sebagai “bulan darah”. Saat itu, seluruh kawasan Asia, bagian barat Australia, dan sebagian wilayah timur Afrika dapat menyaksikannya. 

Seorang ahli fengshui mengatakan, dengan munculnya gerhana bulan ini, pergerakan bintang pada September sangat kental dengan nuansa “politik”, melambangkan bahwa dunia akan berada dalam bayang-bayang konflik politik, guncangan ekonomi, dan bencana alam.

Pada 6–8 September, dalam kurun waktu kurang dari 48 jam, berturut-turut hadir momen penting: Hari Zhongyuan (Festival Hantu), gerhana bulan total, dan peralihan musim Bailu (embun putih). Pada 7 September malam hingga  8 September dini hari, gerhana bulan akan terlihat di langit dan saat itu akan muncul “bulan merah”.

Saat gerhana bulan terjadi, sebagian atau seluruh permukaan bulan tertutup bayangan bumi, menampakkan bentuk sabit atau purnama dengan warna oranye kemerahan, tembaga, hingga merah gelap, menciptakan fenomena menakjubkan yang disebut “bulan darah” (blood moon).

Munculnya Blood Moon atau Bulan darah selalu membawa perasaan was-was bagi banyak orang, dianggap sebagai pertanda buruk atau peringatan akan peristiwa besar yang akan tiba. (Sumber gambar: Adobe Stock)

Sejak dahulu, kemunculan bulan darah sering dikaitkan dengan pertanda luar biasa, baik di Timur maupun Barat. Peramal Dinasti Tang, Li Chunfeng, menulis dalam Yisi Zhan: “Bulan merah seperti darah, pertanda perang dan kelaparan.” Dalam Sejarah Dinasti Qi Selatan, Bab Astronomi juga tercatat: “Bulan berwarna darah, pertanda perang.”

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru, bulan darah kerap dianggap sebagai pertanda kiamat. Dalam Kitab Yoel disebutkan: “Sebelum datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu, matahari akan menjadi gelap, dan bulan akan berubah menjadi darah.”

Warna merah tua bulan darah dikaitkan dengan elemen api dalam teori lima unsur. Dalam tahun Yisi yang berunsur kayu melahirkan api, mudah memicu konflik, gejolak keuangan, dan fenomena “api mengalahkan logam”. Ditambah lagi, saat ini bertepatan dengan musim Bailu yang berenergi logam (keras dan tegas), bertemu dengan api bulan darah, sehingga membentuk situasi “pertempuran api dan logam” yang berisiko.

Pada 3 September, ahli fengshui Taiwan, Li Jingwei, menulis di Facebook bahwa September akan dihiasi rangkaian fenomena astronomi kuat, termasuk bulan darah, gerhana matahari sebagian, bulan menutupi Venus, serta oposisi Saturnus. Semua ini melambangkan dunia berada dalam bayangan konflik politik, guncangan ekonomi, dan bencana alam.

Li Jingwei menyebut, September adalah bulan dengan nuansa politik yang sangat kental, saat konflik antara pemimpin negara dan rakyat bawah semakin tajam. Setelah berakhirnya konfigurasi “ular karma”, umat manusia akan menghadapi semacam “pembersihan besar” akibat karma masa lalu.

Ia menambahkan, sejak 31 Agustus, saat Merkurius memasuki Leo dan berkonjungsi dengan Matahari serta Ketu, para pemimpin dunia lebih rentan mengalami masalah, salah ucap, kehilangan fokus, bahkan bisa memicu konflik diplomatik.

Li menekankan, saat gerhana bulan total pada 7 September, Bulan di Aquarius yang melambangkan kemanusiaan akan berhadapan langsung dengan Matahari dan Merkurius di Leo yang melambangkan otoritas. Ini bisa membuat situasi dunia sangat tegang, baik berupa gempa bumi, protes politik, bahkan krisis keuangan, yang sewaktu-waktu bisa terpicu.

Ia mengingatkan, pada 11 September dini hari, “Matahari dan Ketu” sepenuhnya berkonjungsi di Leo. Konstelasi ini menandakan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan maupun kejadian tak terduga yang menimpa pemimpin negara. Bahkan kekuasaan mereka mungkin menghadapi tantangan serius. Karena itu, kemungkinan terjadinya bencana besar “sekali dalam seratus tahun” di beberapa negara tetap tidak bisa diabaikan.

Gerhana matahari sebagian pada 21 September melambangkan berakhirnya era lama dan datangnya energi baru. Li Jingwei menilai, ini bukan hanya momen perpisahan dengan masa lalu, tetapi juga pertanda bahwa umat manusia akan memasuki zaman baru.

Pada 5 September, Li kembali menulis bahwa pada 6 September Uranus di Taurus bersiap untuk retrograde. Sebelum retrograde, planet akan berada dalam kondisi “stasioner” yang dianggap sebagai momen paling kuat. Ditambah lagi, pada 7 September bulan darah di Aquarius beroposisi dengan Matahari di Leo. 

Menariknya, gerhana matahari sebagian pada 21 September juga akan terjadi di Virgo berkonjungsi dengan Merkurius. Artinya, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan pada September ini sangat terkait dengan para pemimpin negara dan dinamika politik yang penuh arus bawah.

Li juga menyinggung bahwa Uranus saat ini sedang dalam kondisi stasioner. Dari semua planet luar, Uranus dikenal paling dingin sekaligus paling “tidak terduga”. Dampaknya bisa berupa cuaca ekstrem, gelombang panas, kebakaran hutan, pencairan cepat gunung es, gempa besar, pemadaman listrik, hingga putusnya jaringan internet, semuanya bisa terjadi secara tiba-tiba.

*Penjelasan ini berasal dari kepercayaan tradisional, hanya untuk referensi, bukan pandangan resmi media ini*

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine