Putin Makin Terjepit: Zelensky Menolak Damai, Rusia Terancam Pecah dari Dalam!

Etindonesia. Konflik Rusia–Ukraina kini memasuki babak paling krusial sejak pecah pada Februari 2022. Setelah berbulan-bulan terjadi kebuntuan, tanda-tanda pergeseran menuju terobosan strategis mulai terlihat. Pertarungan bukan hanya di medan tempur, melainkan juga dalam arena diplomasi, politik, dan teknologi global.

Pertukaran Pernyataan Panas Putin dan Zelenskyy

Pada 3 September 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam konferensi pers menyampaikan undangan provokatif: “Jika Zelenskyy sudah siap, datanglah ke Moskow untuk bernegosiasi.”

Namun, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy langsung menolak keras. 

Dalam wawancara eksklusif dengan media AS, dia menegaskan: “Kalau begitu, Putin yang harus datang ke Kyiv. Saya tidak bisa ke Moskow. Bagaimana mungkin saya datang ke ibu kota negara teroris yang setiap hari menembakkan rudal ke tanah air saya?”

Zelenskyy menyatakan syarat perundingan hanya mungkin terjadi bila Rusia menarik pasukan dan mengembalikan wilayah Ukraina. Sebaliknya, Putin tetap bersikeras agar Ukraina mengakui Donetsk dan Luhansk (Donbas) sebagai wilayah resmi Rusia.

Prediksi Barat: Rusia Bisa Ambruk

Media militer Barat memuat laporan mengejutkan: “Serangan balasan Ukraina berikutnya berpotensi berakhir dengan runtuhnya Rusia.”

Pandangan ini jarang muncul sebelumnya, sebab negara-negara Barat biasanya berhati-hati dalam menilai.

Juru bicara Asosiasi Pertahanan Ukraina, Serhiy Bratchuk, bahkan menambahkan:

  • Pesawat tempur Ukraina akan segera melintas di langit Krimea.
  • Sistem pertahanan udara Rusia di wilayah itu menjadi target utama operasi Kyiv.

Suara Keras dari Dalam Rusia: Kritik Tajam Girkin

Tak hanya dari luar, suara pesimis juga muncul dari tokoh Rusia sendiri. Igor “Strelkov” Girkin, mantan perwira Rusia dan eks Menteri Pertahanan “Republik Rakyat Donetsk” – yang pernah divonis penjara seumur hidup (in absentia) oleh Belanda terkait tragedi MH17 – mengirim surat dari balik penjara Rusia.

Dalam surat itu, Girkin menulis:

  • Operasi militer khusus Putin sudah buntu.
  • Rusia tidak mungkin meraih kemenangan militer maupun politik.
  • Saat ini Rusia hanya mencatat “kemenangan kecil” taktis, dengan pengorbanan besar, tanpa arti strategis.

Dia menilai Rusia hanya punya dua pilihan pahit: menyerah atau terjadi kudeta politik di dalam negeri.

Girkin menambahkan, Putin hanya mengulur waktu sambil berharap pada “bantuan ajaib” dari Tiongkok. Jika dibiarkan, Rusia akan menuju bencana nasional.

Situasi Terkini di Medan Perang

  • Donetsk, 6 September 2025: Rusia menyerang Mirnograd dengan lima kendaraan lapis baja. Ukraina berhasil mendeteksi dini, menghancurkan empat kendaraan dan merusak satu lainnya.
  • Ukraina melancarkan serangan balik besar-besaran, memburu infanteri Rusia di area hutan.
  • Pasukan khusus Ukraina menggunakan drone tempur untuk melumpuhkan artileri Rusia sebelum menyerbu ke darat.

Banyak bertanya, mengapa tidak terlihat pertempuran besar seperti Perang Dunia II? Jawabannya: era sudah berubah. Konvoi besar justru menjadi sasaran empuk rudal HIMARS dan drone.

Contoh nyata: di Zaporizhzhia, Rusia mengerahkan 20 kendaraan lapis baja, namun 17 di antaranya hancur oleh drone dan artileri Ukraina hanya dalam hitungan menit.

Kolaborasi Ukraina–Taiwan: Teknologi Drone Jadi Senjata Global

Konflik ini turut memengaruhi Asia. Ukraina kini secara resmi menjalin kerja sama dengan Taiwan dalam pengembangan drone tempur.

  • Perusahaan teknologi Ukraina menandatangani MoU dengan industri pertahanan Taiwan.
  • Polandia menyumbang pengalaman lapangan.
  • Perusahaan gabungan AS–Jerman membagikan perangkat lunak drone yang sudah terbukti di medan perang.

Sinergi ini dipandang sebagai upaya memperkuat pertahanan Taiwan menghadapi ancaman invasi Tiongkok.

Kejutan dari Washington: Trump Hidupkan “Departemen Perang”

Pada 5 September 2025, Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif ke-200, mengembalikan nama Departemen Pertahanan (Pentagon) menjadi Departemen Perang – nama historis yang dipakai sejak 1789 hingga 1947.

Menteri Pertahanan kini resmi disebut Menteri Perang. Menteri Pete Hegseth bahkan langsung mengganti papan nama kantornya.

Trump menegaskan: “Kita bertarung untuk menang, bukan sekadar bertahan. Kita harus menyerang, bukan hanya bertahan. Kita harus memaksimalkan daya hancur, bukan terjebak pada politik yang benar.”

Banyak analis menilai, langkah ini menjadi sinyal terang bahwa AS bersiap menghadapi konflik besar berikutnya—terutama dengan Tiongkok.

Penutup

Rangkaian peristiwa terbaru menegaskan dinamika global semakin panas:

  • Zelenskyy menantang balik Putin, menolak negosiasi di Moskow.
  • Barat dan tokoh Rusia sendiri memperingatkan potensi keruntuhan Rusia.
  • Ukraina menguasai medan perang dengan taktik modern berbasis drone.
  • Trump menghidupkan kembali “Departemen Perang”, membuka spekulasi strategi baru AS.

Situasi ini menjadikan perang Rusia–Ukraina bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan bagian dari peta pertarungan geopolitik global yang akan menentukan arah dunia ke depan.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine