Tuhan Meminjam Kacamataku

EtIndonesia. Lebih dari setengah abad lalu, tepatnya pada musim semi tahun 1945, di Amerika ada seorang tukang kayu keturunan Tionghoa yang bekerja dengan tekun dan penuh tanggung jawab.

Suatu hari, dia sedang terburu-buru membuat sejumlah peti kayu untuk sebuah gereja setempat. Peti-peti itu akan digunakan untuk mengirim pakaian ke Tiongkok, guna membantu anak-anak yatim di sana.

Selesai bekerja, dalam perjalanan pulang, sang tukang kayu merogoh saku kemejanya untuk mengambil kacamatanya. Tiba-tiba dia tersadar—kacamatanya hilang!

Dia langsung panik, keringat dingin bercucuran. Dia mencoba mengingat kembali seluruh kegiatannya hari itu, hingga akhirnya sadar: kacamatanya pasti telah terjatuh dari saku dan masuk ke salah satu peti kayu yang sedang dia paku. Dia gusar, kesal, sekaligus tak berdaya.

Saat itu, Amerika masih dalam masa sulit pasca-Depresi Besar. Dia harus menghidupi enam orang anak, kehidupan amat berat. Sementara kacamata yang hilang itu baru saja dia beli pagi tadi seharga 20 dolar—jumlah yang sangat besar pada masa itu.

Dengan hati hancur, dia berjalan pulang sambil terus bergumam: “Ini tidak adil… tidak adil sama sekali.”

Enam bulan kemudian, perang melawan Jepang telah usai. Seorang misionaris Amerika yang memimpin panti asuhan di Tiongkok kembali ke Amerika untuk beristirahat, sekaligus berkunjung ke gereja kecil di Chicago tempat tukang kayu itu biasa beribadah.

Dalam pidato syukurnya, sang misionaris dengan penuh semangat berterima kasih kepada semua jemaat yang pernah membantu anak-anak yatim di Tiongkok.

Dan sebelum menutup kata-katanya, dia menambahkan dengan suara yang lebih tegas: “Saya harus memberi ucapan terima kasih yang paling mendalam atas kacamata yang kalian kirimkan tahun lalu. Saat Jepang menyerang panti asuhan, semua harta benda kami hancur—termasuk kacamata saya. Saat itu saya hampir putus asa. Meski punya uang, di kondisi waktu itu saya tidak mungkin membuat kacamata baru. Tanpa kacamata, penglihatan saya kabur, kepala saya sakit setiap hari. Saya dan rekan-rekan hanya bisa berdoa agar mujizat datang.

“Lalu, ketika peti bantuan dari kalian tiba, dan dibuka oleh rekan saya, di antara tumpukan pakaian… ada sebuah kacamata! Ketika saya memakainya, sungguh, kacamata itu terasa seperti dibuat khusus untuk saya. Seketika dunia saya kembali jelas, kepala saya tidak sakit lagi. Terima kasih… kalian telah menyelamatkan saya!”

Semua orang yang mendengarnya terharu, bersukacita mendengar kisah ajaib itu. Namun, dalam hati mereka bertanya-tanya: sejak kapan kita mengirim kacamata? Dalam daftar bantuan yang dikirim ke Tiongkok, tidak pernah ada item itu.

Hanya ada satu orang yang tahu kebenarannya. Dia berdiri di barisan belakang, dengan air mata mengalir di wajahnya.

Dialah sang tukang kayu itu.

Dia berbisik dalam hati: “Ternyata… Tuhan meminjam kacamataku, lalu memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan.”

Dengan tangan berlipat doa, dia menunduk, air mata membasahi jemarinya. Dia sadar, kehilangan kecilnya telah menjadi jawaban doa orang lain—sebuah mukjizat yang hanya bisa terjadi lewat cara Tuhan yang ajaib. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine