Untuk Apa Kamu Bekerja

EtIndonesia. Di sebuah suku pedalaman Afrika, datanglah rombongan wisatawan dari Amerika. Warga suku itu sebenarnya belum memiliki konsep pasar yang jelas, tetapi melihat kesempatan emas untuk mendapatkan penghasilan, tentu saja mereka tidak melewatkannya.

Di antara mereka, ada seorang lelaki tua yang sedang duduk santai di bawah pohon besar. Sambil menikmati kesejukan, dia dengan tenang menganyam topi jerami. Setiap kali selesai membuat satu topi, dia meletakkannya berderet rapi di hadapannya, menunggu untuk dipilih dan dibeli oleh para wisatawan.

Topi yang dia anyam sungguh unik—modelnya indah, perpaduan warnanya harmonis, benar-benar karya tangan yang luar biasa. Tak heran jika banyak wisatawan berhenti dan berebut membeli.

Seorang pedagang cerdik yang ikut dalam rombongan itu langsung melihat peluang besar. Dalam benaknya, dia berhitung: “Kalau topi sebagus ini saya bawa ke Amerika, saya yakin bisa laku mahal. Paling tidak untungnya bisa sepuluh kali lipat!”

Makin dipikir, makin bersemangatlah dia. Lalu, dia menghampiri lelaki tua itu dan bertanya: “Teman, topi ini berapa harganya satu?”

“Sepuluh dolar satu,” jawab si lelaki tua sambil tersenyum tenang, tetap melanjutkan anyamannya. Dari sikapnya, jelas sekali dia tidak merasa sedang bekerja—melainkan sedang menikmati suasana hati yang damai.

Si pedagang makin bersemangat. “Hebat! Kalau saya pesan 100 ribu topi, saya bisa jadi orang kaya raya!” Ia bangga sekali dengan “kepiawaiannya” dalam berdagang.

Maka ia berkata lagi: “Kalau saya pesan 10 ribu topi dari Anda, berapa harga khusus yang bisa Anda berikan per topi?”

Dia pikir lelaki tua itu pasti senang bukan main. Tapi di luar dugaan, si tua justru mengerutkan dahi dan menjawab: “Kalau begitu, harganya 20 dolar satu.”

Pedagang itu terkejut, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Mana mungkin beli banyak malah jadi lebih mahal?

“Kenapa bisa begitu?!” serunya keras.

Lelaki tua itu menjelaskan dengan tenang: “Menganyam topi di bawah pohon rindang ini, tanpa beban, bagi saya adalah sebuah kenikmatan. Tapi kalau saya harus membuat 10 ribu topi yang sama persis, berarti saya harus bekerja siang malam tanpa henti. Itu akan membuat saya lelah, terbebani, dan kehilangan rasa bahagia. Bukankah seharusnya kamu membayar saya lebih mahal untuk itu?”

Kata-kata itu membuat semua orang terdiam.

Memang benar, ketika pekerjaan berubah menjadi rutinitas monoton tanpa rasa, hidup bisa terasa membosankan dan menekan. Meski demikian, sering kali kita tetap harus bekerja keras demi kepentingan tertentu. Namun, pertanyaan penting yang harus direnungkan adalah: “Untuk apa sebenarnya kamu bekerja?”

Hanya mereka yang sungguh mencintai pekerjaannya, yang mampu menemukan kebahagiaan sejati di dalamnya.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine