Kegagalan Bukanlah “Titik Akhir”

EtIndonesia. Ada sebuah kisah tentang proses rekrutmen unik di sebuah perusahaan. Perusahaan itu membuka lowongan staf administrasi dengan cara seleksi yang sederhana: setiap pelamar hanya diminta menceritakan satu kisah kegagalan yang pernah mereka alami dalam hidup atau pekerjaan.

Banyak pelamar datang, termasuk bergelar doktor dan magister. Namun, mengejutkan—semuanya kalah oleh seorang lulusan sekolah menengah kejuruan.

Apa yang membuatnya berbeda?

Dia bercerita begini:

Setelah lulus sekolah kejuruan, dia merantau ke Shenzhen dan melamar sebagai sekretaris di sebuah perusahaan besar. Perusahaan itu punya banyak karyawan, dan setiap pertengahan bulan, sang direktur selalu memberikan pidato rutin kepada staf.

Suatu ketika, sekretaris senior sedang dinas luar, sehingga tugas menulis naskah pidato jatuh kepadanya. Dia menulisnya dengan hati-hati, lalu menyerahkannya. Sang direktur, karena sibuk, tidak sempat meninjau ulang. Ketika tiba waktunya, dia langsung membacakan naskah itu di depan seluruh karyawan.

Namun, terjadi sesuatu: sang direktur salah baca beberapa kata sulit, hingga menimbulkan tawa besar di ruangan. Merasa dipermalukan, direktur marah besar dan langsung memecat sekretaris muda itu.

Bagi kebanyakan orang, cerita kegagalannya mungkin berhenti di situ. Tetapi, pelamar ini melanjutkan ceritanya.

Dia berkata: meski dipecat, dia tidak segera pergi. Dia justru merenung: mengapa sang direktur bisa salah baca? Setelah mencari tahu, dia baru tahu kalau bosnya hanya berpendidikan sekolah dasar.

Dia pun menyalahkan dirinya sendiri:  “Andai saja aku menuliskan tanda baca tambahan atau memberi catatan fonetik untuk kata-kata sulit, tentu kesalahan itu bisa dihindari.”

Seseorang yang mendengar kisahnya menimpali: “Itu bukan salahmu.”

Tapi dia menjawab dengan tegas: “Memang bukan kesalahanku. Tapi itu menunjukkan bahwa aku belum menjadi sekretaris yang layak. Seorang sekretaris harus bisa memahami kebutuhan pimpinan. Aku gagal melakukannya—itulah kesalahanku.”

Yang lain mencoba membela, “Mungkin karena masa kerjamu terlalu singkat.”

Namun dia kembali menjawab: “Bukan soal lama atau singkat. Ini soal inisiatif kerja yang seharusnya aku miliki.”

Mendengar jawaban itu, sang direktur utama yang hadir dalam rekrutmen langsung memotong pembicaraan dan berkata: “Cukup. Kamu diterima bekerja di sini.”

Kisah ini memberi pelajaran besar: hidup memang penuh tekanan, kegagalan, dan kesalahan. Tetapi yang membedakan seseorang adalah sikapnya ketika menghadapi kegagalan. Apakah kita menyerah begitu saja? Atau justru mencari akar masalah dan menjadikannya batu loncatan menuju sukses?

Manusia bukanlah tanaman kaku yang tak pernah salah. Kita pasti berbuat salah. Namun, yang penting adalah bagaimana kita belajar darinya. 

Seorang tokoh besar pernah berkata:“Kesalahan dan kegagalan membuat kita menjadi lebih bijak.”

Kegagalan bukanlah titik akhir dalam hidup. Justru kegagalan adalah harta terbesar yang bisa memperkaya perjalanan kita. Karena sering kali, kesuksesan lebih memilih orang-orang yang pernah gagal dan terus bangkit, daripada mereka yang hanya mengenal kemenangan.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine